HomePernikahanMengapa Suamiku Menjadi Pendiam?
b29353f8db6dcd27093b3eb75d68f24d

Mengapa Suamiku Menjadi Pendiam?

Pernikahan 0 1 likes 1K views share

MENGAPA SUAMIKU MENJADI PENDIAM?

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Tantangan terbesar seorang istri yaitu ketika harus memahami suaminya secara benar saat ia diam. Yaitu diam yang membingungkan yang tidak diketahui sebab-sebabnya istrinya. Dan biasanya dalam kondisi ini istri akan memahami diamnya suami secara tidak benar. Menurut perempuan, diamnya laki-laki adalah seperti teka-teki atau misteri yang membingungkan.

Biasanya yang terjadi, laki-laki akan diam secara tiba-tiba tanpa ada sebab. Di saat sedang bicara lalu secara cepat ia berubah menjadi diam. Hal itu biasa terjadi pada laki-laki. Namun perempuan kemudian memandang aneh hal tersebut.

Ketika seorang laki-laki berhenti bicara dan tidak tanggap pada siapa pun, pada mulanya perempuan akan menganggap laki-laki itu tuli atau tak mau mendengar. Padahal sebenarnya ada hal lain yang tidak terlintas dalam pikiran dan otak perempuan. Yaitu cara dan proses berpikir laki-laki secara umum berbeda dengan perempuan.

 

Cara Berpikir Perempuan versus Cara Berpikir Laki-laki

Seorang perempuan akan berpikir dengan mengeluarkan suara yang keras dan bisa didengar, kemudian orang lain akan ikut serta dalam proses tersebut. Artinya proses berpikir perempuan dengan bicara. Inilah salah satu sebab mengapa ibu-ibu senang mengikuti rapat di sekolah anak-anaknya, karena menemukan tempat untuk menjalani proses berpikirnya. Atau berkumpul dan bersosialita dengan rekan-rekannya.

Cara berpikir perempuan adalah dengan memberikan tempat bagi pikirannya untuk berjalan. Lalu menjalankannya dengan mulut atau mengatakannya dengan suara yang bisa didengar. Hal ini secara spontan akan membantu bagi perempuan untuk membantu menghilangkan hambatan dalam dirinya.

Sementara, cara berpikir laki-laki berbeda sama sekali. Laki-laki sebelum mulai bicara, akan melakukan proses berpikir terhadap apa yang didengar dan disaksikan. Laki-laki menggunakan cara berpikir terlebih dahulu baru kemudian menemukan jawaban atau pemecahan yang tepat. Semua proses tersebut berjalan dalam otaknya tanpa dimunculkan melalui lidah. Ia berpikir dengan cara diam dan tidak mengatakan satu kata pun. Setelah menemukan jawaban yang dicari atau pemecahan yang tepat, baru ia mula bicara. Proses ini terkadang hanya memakan waktu singkat, tidak lebih dari satu menit atau lebih sedikit, namun terkadang bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Tergantung pada masalah yang dipikirkan.

Inilah mengapa ketika suami dan istri sedang terlibat dalam suatu perbincangan, kemudian ketika tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang diajukan istri kepada suami dan ternyata hal ini bisa membuat ia langsung terdiam. Hal ini terjadi karena otaknya merasa diperintah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan, yang kadang hal ini membuat ia kesulitan untuk memberikan jawaban secara cepat. Namun reaksi istri yang melihat suaminya tiba-tiba terdiam merasa bingung, kadang menjadi marah dan membayangkan hal-hal buruk. Karena ia mengira suaminya itu berpura-pura tidak tahu atau tidak tahu bila ia sedang diajak bicara. Dan ternyata dugaannya itu salah.

Sebenarnya diamnya suami itu seolah-olah ia akan mengatakan “Sayangku, pertanyaanmu sulit sekali. Kamu berhak bertanya dan aku berkewajiban menjawabnya. Aku belum menemukan jawabannya hingga kini dan sedang berpikir untuk mendapatkan jawaban tersebut.”

Biasanya istri sangat buruk dalam memahami diamnya suami. Ukuran keburukan tersebut sangat bergantung pada kondisi jiwa dan peristiwa yang dialaminya saat itu. Karena ia berpikir dengan cara pikirnya, yaitu ketika seorang istri sedang dihadapkan pada suatu masalah ia akan berbicara, baik kepada orang lain, kepada orang yang dia cintai atau mencintainya, kepada teman-temannya, kepada gurunya dan sebagainya. Karena itu terkadang seorang istri begitu mudahnya menceritakan semua hal yang mengganjal dalam hatinya kepada siapa saja.

Lalu ia berpikir bahwa suaminya juga seperti itu. Maka kemudian ia berusaha mengeluarkan suami dari diamnya dengan cara menjejalkan pertanyaan-pertanyaan. “Kenapa mas menjadi diam?”, “Kenapa diam, saya salah ngomong ya?”, dan lain-lain. Dengan cara ini ia menduga akan dapat membantu suaminya keluar dari keadaan diam tersebut. Padahal tindakannya itu justru akan membuat suaminya menjadi semakin kesal dan marah.

 

Sebab-sebab Suami Menjadi Pendiam

Banyak hal yang menyebabkan seorang suami menjadi diam, di antaranya :

Ada permasalahan di hadapannya dan ia sedang berusaha mencari jalan keluar dari permasalahannya itu. Baik masalah di tempat kerja, atau masalah di dalam rumah tangganya. Tugas-tugas kantor yang belum dapat ia selesaikan sementara sudah mendekati batas akhir waktu yang ditetapkan. Menghadapi anak yang sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara ia belum memiliki dana yang cukup untuk membiayai pengobatan anaknya, dan lain sebagainya.

Atau terkadang karena ia tidak memiliki jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh istrinya. Seorang suami akan sangat sulit mengakui kelemahan dirinya untuk mendapatkan pemecahan dan jawaban yang tepat. “Mas, ditanya ibu yang punya kontrakan, kapan kita melunasi kontrakan rumah yang masih kurang?” “Anak-anak ingin kita rekreasi, kapan ya kita bisa rekreasi sekeluarga?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terkadang bisa membuat seorang suami menjadi terdiam.

Ketika seorang suami sedang dalam keadaan lelah dan terbebani ia membutuhkan kesendirian. Ia akan lebih banyak diam. Karena dengan diam dan menyendiri terkadang dapat membantunya untuk memperoleh ketenangan. Saat lelah dan terbebani bukanlah saat yang tepat untuk ia berbicara atau melakukan apa pun yang akhirnya bisa jadi akan menimbulkan penyesalan.

 

Salah Kaprah Seorang Istri

Permasalahan yang kerap terjadi pada suami istri, adalah manakala istri berusaha masuk ke dalam diamnya suami dan berusaha mengeluarkannya dari kondisi tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa suami benar-benar butuh pengasingan diri ketika sedang marah atau lelah. Seorang istri tidak mengetahui suatu yang ada dalam hati suaminya ketika dalam keadaan tersebut. Dan celakanya lagi, ia berusaha mengajak suaminya bicara atau memaksanya untuk bicara.

Saaat istri melihat suami yang diam lalu ia bertanya, “Apa ada masalah?” dan suami menjawab: “Tidak.” Jawaban ini tidak cukup bagi seorang perempuan, lalu ia akan berkata: “Jangan bilang tidak ada masalah apa-apa. Aku tahu ada sesuatu yang membuatmu gelisah, ayo bicaralah.” Pertanyaan kedua ini dapat mengakibatkan suami menjadi kesal, lalu akan menjawab: “Dengar baik-baik! Aku baik-baik saja. Biarkan aku sendiri!”

Jawaban suami dengan intonasi agak tinggi seperti ini akan membuat istri kaget dan merasa terpukul, karena ia mengira bahwa ia bermaksud membantu suaminya tapi mengapa suaminya bersikap keras kepadanya. Dan akhirnya ia berkata: “Mengapa kamu jadi keras dan kasar seperti ini? Kamu tidak mau bicara denganku, bagaimana aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”

Dalam keadaan ini, suami dapat kehilangan kontrol, mulai dari mengucapkan beberapa kata yang nanti akan ia sesali ketika telah berada dalam kondiri normal. Bahkan ekstrimnya dapat melakukan kekerasan fisik. Jadi terkadang, kemarahan suami kepada istri dapat disebabkan karena ketidak tahuan istri akan tabiat suami atau laki-laki pada umumnya yang memiliki tempat atau waktu untuk menyendiri. DR. Thariq Kamal mengistilahkannya sebagai tempat pertapaan laki-laki.

 

Mengenal Pertapaan Suami

Sedikitnya ada enam jawaban yang menunjukkan bila seorang laki-laki atau suami sedang masuk dalam pertapaannya, dan ia tidak senang diajak bicara pada saat itu. Keenam jawaban itu adalah;

“Aku tidak apa-apa.”,

“Aku baik-baik saja.”,

“Tidak ada apa-apa.”,

“Semuanya baik-baik saja.”,

“Masalah ini tidak penting.”, dan

“Tidak ada masalah.”

Dalam keadaan ini sebaiknya istri meninggalkan dan membiarkan suaminya menyendiri. Cukup sediakan segelas teh hangat, atau memasakkan air panas untuk ia mandi. Berikan pijitan lembut di lengan atau tengkuknya tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun dapat membantunya untuk menjadi lebih rileks.

Jadi, sudah tahukan apa penyebab diamnya suami?

 

Sumber bacaan :

  1. Thariq Kamal An Nu’aimi, Psikologi Suami Istri, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2015