HomeParentingMengasuh Anak Bukan Hanya Urusan Ibu-ibu
daddy

Mengasuh Anak Bukan Hanya Urusan Ibu-ibu

Parenting 0 1 likes 298 views share

Anda super sibuk? Untuk apa kesibukan anda? Salah satunya untuk melaksanakan tugas di tempat kerja. Untuk apa tugas di tempat kerja dilakukan? Salah satunya agar mendapatkan penghasilan bulanan dan fasilitas lainnya. Untuk apa penghasilan dan fasilitas itu? Salah satunya untuk menghidupi dan membahagiakan keluarga. Siapa yang ingin dibahagiakan? Salah satunya adalah anak-anak. Namun di saat yang sama, semakin anda bekerja keras, semakin banyak pula waktu, perhatian dan konsentrasi yang anda perlukan untuk kerja. Dampaknya, anda bisa kehilangan kesempatan untuk memberi perhatian dan membersamai keluarga anda.

Apakah cukup sebanding, berbagai kesibukan yang luar biasa dilakukan orangtua setiap harinya, dengan hasil yang didapatkan? Kendatipun mendapatkan banyak uang, banyak fasilitas, banyak sumber daya, namun jika tidak dibarengi dengan kesediaan memberikan waktu terbaik bagi anak-anak, maka semua materi tersebut bisa kehilangan makna. Yang semula dimaksudkan untuk memberikan kebahagiaan, namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Konflik ayah dengan anak, konflik ibu dengan anak. Bahkan ketika anak-anak mendapat pengasuhan dari sosok ibu, jika tidak ada kehadiran ayah di dalamnya, tetap saja ada yang kurang. Itulah makna pasangan. Bahwa suami dan istri berkolaborasi mengurus segala sisi kehidupan keluarga, termasuk dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak.

“Kehadiran” Pasangan Orangtua

Pengasuhan dan pendidikan anak harus dilakukan secara bersama oleh suami dan istri, oleh ayah dan ibu. Hal ini karena kehadiran Ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sama pentingnya dengan kehadiran Ibu. Mengasuh dan mendidik anak bukan hanya urusan ibu-ibu, karena semua anak di muka bumi ini memerlukan kehadiran Ayah. Sayangnya saat ini masih banyak keluarga yang urusan mengasuh serta mendidik anak sepenuhnya dilakukan oleh Ibu, padahal ada Ayah di dalam keluarga tersebut.

Padahal sehebat apapun seorang Ibu, jika Ayah tidak berperan dalam pengasuhan, akan tetap dijumpai kekosongan pada jiwa anak. Bahkan sebuah studi psikologi menemukan bahwa pasangan cenderung memiliki hubungan yang lebih kuat dan kompak ketika ayah menyediakan waktu lebih banyak untuk bermain dengan anak. Hal ini menandakan bahwa kedua belah pihak dari ayah dan ibu tidak bisa bersifat saling menggantikan. Keduanya harus hadir dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

Prof. Schoppe-Sullivan dan rekan dari Ohio State University menyurvei 112 pasangan orangtua yang memiliki anak berusia empat tahun. Pasangan diminta mengisi kuesioner yang menanyakan seberapa sering orangtua terlibat dalam kegiatan bermain dengan anak-anaknya serta seberapa intens kegiatan pengasuhan mereka. Peneliti kemudian mengamati pasangan selama 20 menit dalam membantu anaknya menyelesaikan dua tugas yaitu menggambar foto keluarga dan membangun rumah-rumahan dari balok-balok kayu. Kedua tugas ini terlalu sulit untuk dilakukan anak-anak dan membutuhkan bimbingan orangtua.

Tugas-tugas ini memberikan peneliti kesempatan untuk mendeteksi seberapa banyak orangtua yang saling mendukung atau justru saling menjatuhkan satu sama lain dalam hal pengasuhan. Secara umum hasil penelitian menunjukkan ketika ayah memiliki waktu untuk bermain dengan anak-anaknya maka pasangan ini akan menunjukkan pola pengasuhan yang saling mendukung satu sama lain. Studi ini dilaporkan dalam jurnal Developmental Psychology.

Hasil temuan ini tetap sama bahkan ketika peneliti membandingkan beberapa faktor lain seperti pendapatan keluarga, pendidikan ayah dan jam kerjanya, besarnya keluarga serta berapa lama pasangan tersebut menjalin hubungan. Penelitian ini semakin meneguhkan urgensi kehadiran Ayah dan Ibu dalam mengasuh dan mendidik anak-anak, karena mereka bukan hanya memerlukan materi, namun mereka sangat memerlukan perhatian dan kebersamaan.

Apalah artinya semua capaian sukses anda dalam dunia kerja dan organisasi, jika harus mengorbankan anak-anak. Apalah artinya kesejahteraan material, jika tidak didukung dengan kenyamanan hubungan dalam keluarga. Maka situasinya sering paradoks. Kesibukan yang amat sangat dimaksudkan untuk memberikan tambahan sumber daya untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membahagiakan keluarga, nyatanya justru banyak memberikan permasalahan. Maka, hadirlah Ayah…