HomePernikahanMengenal Si Karet Gelang
97dcbeaa82ad8c34a702f363a7bf6233

Mengenal Si Karet Gelang

Pernikahan 0 1 likes 689 views share

MENGENAL SI KARET GELANG

Oleh : Ummu Rochimah

 

Seorang  pemuda bernama Salim berkenalan dengan pemudi yang bernama Ulfa. Beberapa saat kemudian keduanya memutuskan untuk menikah. Pernikahan itu menjadi hal yang benar-benar membahagiakan keduanya.

Setelah pernikahan mereka berjalan selama enam bulan, Ulfa merasakan ada hal aneh yang mencengangkan dan membingungkan dirinya. Ia melihat ada perubahan drastic yang terjadi pada Salim suaminya, tanpa suatu sebab apapun. Dulu Salim selalu menemaninya ke mana pun Ulfa pergi. Namun sekarang ia tak pernah lagi mau menemani isterinya bepergian. Senyumnya yang dulu sering berkembang di wajah saat bersama isterinya, kini hilang seperti tiada bekasnya. Berganti dengan wajah dingin dan tegang.

Ulfa merasa bingung pada perubahan yang tiba-tiba muncul pada diri Salim. Ia tidak tahu apa yang telah menyebabkan perubahan itu. Ia gelisah dan pikirannya menjadi kacau. Lalu ia berusaha mencari tahu sebab perubahan itu. Ia mulai mengingat-ingat semua yang pernah terjadi di antara mereka. Apakah ada perkataannya yang salah dan tak pantas ia katakan? Apakah Salim menyesal telah menikahinya? Dan seribu pertanyaan lain yang kemudian menimbulkan sikap menyalahkan dirinya sendiri atas perubahan yang terjadi pada suaminya. Karena itu kemudian ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki keadaaan dengan caranya sendiri, dengan mengajak Salim berbicara. Dan terus berusaha menarik Salim masuk ke dalam pembicaraannya. Tetapi hasilnya justru Salim semakin menjauh dan menjadi asing baginya.

Seandainya Ulfa memiliki pemahaman tentang perasaan Salim ketika dalam keadaan tersebut, maka ia tidak akan kaget, dan tidak akan bertindak seperti yang telah dilakukan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Salim?

 

Ketika Suami Memasuki Gua

Fenomena ini disebut dengan pengasingan diri laki-laki. Dalam keadaan ini laki-laki akan menjauh dan menyendiri. Sehingga terkesan seperti sosok yang introvert, menyendiri dan berpikir sendiri, tidak mau diganggu dan diusik. Sebenarnya ini hal yang biasa terjadi pada laki-laki. Setelah ia mendapatkan ketenangannya, maka ia akan kembali seperti biasa.

Hal ini terkadang bisa tanpa sebab yang jelas, seperti halnya karet, ia akan melar semelar-melarnya. Tapi kemudian akan kembali kepada bentuk asalnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan manakala isteri mendapati suaminya berada dalam kondisi ini. Jangan terburu-buru mengambil suatu kesimpulan bahwa sedang terjadi sesuatu pada suaminya. Lalu mengkhayalkan sesuatu yang buruk tentang hubungan mereka.

Sebab utamanya seorang suami melakukan ini kemudian menjauhi isterinya adalah, pada saat itu ia ingin mencari dirinya sendiri atau mencari suasana yang bebas. Kemudian ia menyendiri, dan ketika sampai pada keadaan terntentu ia akan cepat kembali seperti sedia kala. Karena saat laki-laki telah sampai pada “puncak tertinggi” kesendiriannya ia akan kembali membutuhkan perasaan cinta dan kasih sayang. Laki-laki atau suami itu seperti karet, mudah melar lalu kemudian kembali seperti keadaan semula.

 

Perlunya Isteri Memahami Sifat Karet Suaminya

Menjadi sangat penting bagi isteri untuk memahami sifat ini, karena sering kali isteri tidak memahaminya. Ketika melihat situasi seperti itu, ia akan melihatnya sebagai sesuatu yang aneh dan di luar kebiasaan. Kemudian ia berusaha memberikan ketenangan kepada suami dengan caranya. Menghujaninya dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa abang diam saja?”, “Abi sakit ya….?”, “Akang diam saja, Neng salah ya Kang?” dan pertanyaan lainnya. Lalu berharap suaminya mau mengeluarkan sepatah dua patah kata menjawab semua pertanyaannya.

Yang diharapkan suami dalam keadaan ini adalah isteri tidak ikut campur, tidak mengganggu, tidak mengusiknya dan tidak melakukan kesalahan apapun yang dapat mengakibatkan kemarahan suami yang mungkin dapat berakibat semakin jauhnya suami dan sulit untuk kembali kepada kondisi semula. Bila isteri tidak memahami sikap suaminya yang secara tiba-tiba menyendiiri dan menjauhinya, lalu menjadi bingung akhirnya bertiindak serampangan dan melakukan tindakan yagn membuat jengkel suaminya. Yang terjadi kemudian adalah muncul masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Bagi sebagian suami, mungkin ia dapat menahan diri untuk tidak marah pada isteri karena perlakuannya. Ia pendam saja dalam hatinya. Namun, pada beberapa suami yang kurang mampu mengendalikan diri dan emosinya. Perlakuan isteri yang memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan bisa membuatnya marah dan melampiaskannya dalam bentuk ucapan yang sangat keras. Terkadang secara ekstrimnya dapat melakukan perbuatan yang mengarah kepada fisik, seperti memukul, menampar bahkan menendang.

Isteri harus benar-benar memahami bahwa semua laki-laki di dunia, termasuk juga suaminya akan mengalami dan merasakan keadaan seperti ini. Ketika suami sedang dalam keadaan seperti ini, ia hanya butuh pengasingan diri. Inilah yang sebenarnya terjadi pada diri laki-laki. Ia bisa asyik dengan diri dan kebebasannya sendiri, sehingga bila isterinya berusaha masuk dan memutus rangkaian pikirannya justru akan membuat ia semakin menjauh.

Maka, isteri tidak perlu terkejut dan bingung saat menemui keadaan ini. Perlihatkan sikap yang biasa saja seolah-olah sedang tidak terjadi sesuatu. Yakinlah, setelah melewati masa pengasingan itu, suami akan kembali seperti sediakala.

 

Akibat Bila Suami tidak Mendapat Kesempatan Memasuki Guanya

Bila suami tidak mendapatkan kesempatan untuk mengasingkan dirinya yang biasanya digunakan untuk berpikir sendiri, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah, suami akan kehilangan rasa simpatinya kepada isteri. Dia akan bersikap dingin dan acuh tak acuh kepada isterinya. Lama kelamaan akan kehilangan rasa kasih sayang dan rasa cinta. Dampak terburuknya adalah ia akan berusaha melarikan diri dari iserinya.

Kehidupan pernikahan dijalani hanya sebagai rutinitas biasa. Seakan-akan kehidupana sehari-hari hanya sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Kadang hal ini dianggap aneh oleh isteri, terlebih di awal-awal pernikahan. Dapat membuat seorang isteri merasa ditinggalkan oleh suaminnya. Suami akan sejenak menjauhkan diri dari isterinya, namn secara cepat ia akan kembali kepada isterinya dengan penuh perasaan cinta dan kasih sayang.

Memang keadaan ini terkadang tanpa sebab apapun. Oleh karena itu isteri sering menilai aneh terhadap fenomena ini. Namun bagi laki-laki atau suami ini hal yang biasa saja. Fenomena ini dapat digambarkan seperti halnya karet gelang. Bila kita mengambil sepotong karet gelang. Kemudian kita pegang ujung karet itu dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang ujung lainnya kemudian kita tarik, maka apa yang akan terjadi? Karet itu akan memanjang sampai pada satu titik ia tidak dapat ditarik lagi. Lalu kita lepas salah satu pegangan dengan tetap memegang pada ujung satunya apa yang akan terjadi? Ujung karet yang kita lepas akan kembali secara cepat ke ujung karet yang masih dipegang.

Inilah gambaran keadaan laki-laki atau suami pada umumnya. Ketika suami terlihat menjauhi isteri lalu menyendiri atau mengasingkan diri, keadaannya sama seperti karet gelang yang sedang ditarik. Bila suadah sampai batas maksimal ia akan kembali dengan cepat kepada keadaan semula.

Bila isteri tidak memberikan kesempatan kepada suami untuk melewati fase ini, maka perasaan cinta dan sayang yang seharusnya muncul saat suami kembali dari pengasingan dirinya tidak akan muncul. Dan lama-kelamaan dengan berjalannya waktu dan pengulangan keadaan membuat suami menjadi merasa tidak nyaman ketika berada bersama isterinya. Bila ketidak nyamanan yang kemudian muncul di antara keduanya, maka kemungkinan akan muncul permasalahan-permasalahan besar bagi keduanya. Boleh jadi suami akan mencari-cari kesempatan untuk menyendiri bahkan mungkin melarikan diri agar bisa mengasingkan dirinya.

Ingatlah wahai para isteri, suamimu tumbuh dan berkembang dari dunia laki-laki, di mana keadaan seperti itu sudah biasa dan dimaklumi dalam dunia laki-laki. Jangan menjadi terkejut atau panik bila menjumpai keadaan itu. Hadapi saja secara normal dan biasa ketika suami kembali dari pengasingannya tidak perlu menghujaninya dengan berbagai pertanyaan atau bahkan tuduhan. Jangan berpikir dan bertindak dengan mengikuti cara-cara perempuan.