HomePernikahanMenikah, Mestikah Bahagia?
ilustrasi : www.pinterest.com

Menikah, Mestikah Bahagia?

Pernikahan 0 0 likes 1.3K views share

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Pernikahan benar-benar suatu laboratorium yang tidak ada habisnya untuk dipelajari dan diambil hikmah darinya. Dari zaman ke zaman, telah banyak ahli menyampaikan ilmu dan pelajaran tentang pernikahan, namun pada saat yang sama, sangat banyak orang mengalami permasalahan. Ternyata sangat banyak rahasia dalam pernikahan yang harus dengan tekun dan sabar dipelajari serta dijalani. Ada ilmu teoritis, namun juga ada ilmu praktis yang harus dipadukan.

Sebagaimana diketahui, menikah adalah ibadah yang sangat panjang kurun waktunya. Ketika dalam kehidupan pernikahan pasangan suami dan istri bisa mendapat keharmonisan, maka mereka akan hidup bahagia dan sejahtera. Namun jika dalam kehidupan pernikahan mereka didera kekecewaan dan berbagai tumpukan persoalan, maka pasangan suami istri bisa mengalami stres berkepanjangan.

Pada kenyataannya, pernikahan tidak selalu memberikan kebahagiaan. Sangat banyak pasangan berhasil meraih keberkahan hidup berumah tangga, sehingga mereka bisa menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun tidak jarang pasangan yang lebih sering dilanda permasalahan tanpa ada penyelesaian. Bahkan ada pasangan yang sejak awal menikah sudah diliputi kekecewaan, sehingga di sepanjang rentang kehidupan mereka lebih banyak merasakan penderitaan.

Stres Berumah Tangga Lebih Berbahaya

Ilmu kesehatan jiwa menemukan bahwa stres yang muncul dalam kehidupan rumah tangga ternyata memberikan pengaruh yang lebih buruk untuk kesehatan dibandingkan dengan stres di lingkungan pekerjaan. Demikian yang disampaikan oleh Tara Parker-Pope, pengarang buku “For Better: The Science of a Good Marriage”. Ia menyatakan, “Karena stres dalam rumah tangga dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan seringkali sulit untuk dielak atau dihindari, dan banyak pasangan selalu terpapar dengan masalah ini setiap hari, setiap bulan dan bahkan setiap dekade.”

Lebih lanjut Parker-Pope menyatakan, ”Banyak pasangan yang hanya menilai seberapa sering (kuantitas) mereka bertengkar atau berargumentasi, misalnya ‘kita lebih sering bertengkar belakangan ini’ atau ‘kita tidak banyak bertengkar akhir-akhir ini.’ Sebenarnya frekuensi pertengkaran tidaklah penting. Yang lebih penting adalah kualitas pertengkaran tersebut”.

Yang dimaksud dengan “kualitas pertengkaran” adalah, bagaimana cara mereka bertengkar, bagaimana mereka mengakhiri pertengkaran, dan bagaimana mereka menjadikan pertengkaran sebagai pemantik keharmonisan. Ada pasangan suami istri yang sama-sama bersikap tidak dewasa dalam menghadapi kekecewaan serta pertengkaran. Mereka bersikap kekanak-kanakan, selalu ingin menang sendiri, tidak dewasa dalam menyikapi perbedaan. Dampaknya setiap kali bertengkar, selalu sulit menemukan titik penyelesaian dan perdamaian.

Mungkin inilah makna dari petuah Socrates (469 – 399 SM), “Saran saya kepada anda: bagaimanapun, menikahlah. Jika anda menemukan istri yang baik, anda akan bahagia. Jika tidak, anda akan menjadi seorang filsuf.” Petuah ini serasa lucu dan menggelitik, namun memiliki makna yang sangat dalam.

Memulai Dari Awal

Petuah filsuf Socrates tersebut bisa diambil pelajaran penting bagi para jomblo yang akan melaksanakan pernikahan. Bahwa menikah harus diawali dengan mencari calon pasangan hidup yang salih dan salihah, sesuai kriteria kebaikan agama. Tidak terjebak casing dan penampilan semata. Jika menikah semata karena jebakan syahwat dan nafsu, akan mudah kecewa dan merana setelah hidup berumah tangga.

Mulailah dari awal yang baik, menemukan jodoh dengan kriteria dan dengan cara yang baik. Setelah menikah, berproseslah dengan baik bersama pasangan. Lakukan hal terbaik untuk membuat kehidupan rumah tangga yang berkualitas. Hindari berbagai hal yang menyebabkan kerusakan serta kehancuran keluarga. Dengan penjagaan yang optimal, maka kehidupan pernikahan akan bisa dinikmati dengan sepenuh kebahagiaan, sejak masa pengantin baru hingga akhir hayat masing-masing. Ini kondisi yang disebut Socrates, “Jika anda menemukan istri yang baik, anda akan bahagia”.

Namun jika pernikahan dilakukan semata-mata karena pertimbangan syahwat, tanpa pertimbangan kebaikan agama, maka pondasi hidup sudah rapuh dari awalnya. Apalagi ketika pasangan suami istri tidak bisa berproses bersama menuju kondisi lebih baik, maka kehidupan pernikahan akan cenderung menyengsarakan. Mereka tidak mampu menemukan kesejiwaan dan membangun kebahagiaan. Ini kondisi yang disebut oleh Socrates, ”Jika tidak, anda akan menjadi seorang filsuf.”

Sebagaimana diungkapkan oleh Tara Parker-Pope di atas, stres berumah tangga disebut lebih berbahaya dibanding stres di tempat kerja, karena waktu yang kita habiskan untuk berumah tangga jauh lebih banyak dan lebih panjang dibanding dengan waktu di tempat kerja. Orang bekerja ada masa pensiun, sementara orang berumah tangga tidak ada masa pensiun. Jenuh dan stres bekerja itu hanya sebentar, sementara tekanan masalah dalam keluarga bisa terjadi dalam rentang waktu yang panjang.

Maka hindari stres berumah tangga, sejak dari awal dengan menciptakan proses yang baik, memilih calon dengan kriteria dan cara yang baik. Selanjutnya diikuti dengan proses penjagaan kebaikan setelah hidup berumah tangga, dengan mengusahakan hal terbaik bagi pasangan. Apabila kondisi kehidupan berumah tangga diwarnai keharmonisan, maka anda akan selalu berbahagia. Namun jika kondisi kehidupan berumah tangga dipenuhi konflik dan pertengkaran berkepanjangan, maka anda akan menjadi filsuf. Kata Socrates loh…..

 

 

Bahan Bacaan

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2016