HomeParentingMenjadi Sahabat Bagi Anak
woman-538396_1280

Menjadi Sahabat Bagi Anak

Parenting 0 0 likes 431 views share

Corak interaksi orang tua dengan anak sangat menentukan sejauh mana efektivitas penanaman nilai-nilai dan pendidikan anak yang diterapkan di dalam ruang lingkup keluarga. Banyak orang tua yang memosisikan diri “hanya” sebagai orang tua, yang memerintah, melarang, menyuruh, mendidik, dan membiayai kehidupan anak hingga dewasa. Mereka berinteraksi dengan anak dalam corak “orang tua dengan anak”, sehingga yang berlaku semata-mata hak dan kewajiban.

Anak-anak tidak hanya memerlukan perintah dan larangan, namun mereka ingin mendapatkan tempat curhat. Mereka tidak hanya memerlukan figur orang tua, namun mereka mandambakan sahabat. Ya, sahabat. Yang mau mendengarkan keluh kesahnya, yang mau mendengarkan curhatnya, yang betah mendengarkan keinginannya. Sesuatu yang murah dan tidak berbiaya, namun justru paling sulit diwujudkan orang tua.

Anak Butuh Sahabat

Setiap manusia memerlukan sahabat dalam kehidupannya. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga memerlukan sahabat. Hal ini disebabkan karena manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu memerlukan orang lain,  memerlukan lingkungan untuk mengekspresikan kebutuhan sosial dalam dirinya.

Karena manusia adalah makhluk sosial, maka memiliki sahabat untuk mengobrol, berdiskusi dan berkomunikasi menjadi kebutuhan yang mendasar. Sahabat adalah orang yang bisa diajak untuk melawan kesepian. Dalam sebuah persahabatan selalu ada kepercayaan, kebersamaan, kepedulian dan kedekatan hubungan, dengan tetap menerima adanya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, kehadiran sahabat sangat penting bagi anak karena membuat mereka bersedia saling belajar dan selalu diliputi rasa senang.

Cara Menjadi Sahabat bagi Anak

Hendaknya para ibu selalu berusaha menempatkan diri sebagai sahabat, partner, atau mitra bagi anak, agar lebih akrab, lebih dekat dan lebih memahami keinginan dan harapan anak. Para ibu tidak hanya memosisikan diri sebagai orang tua, karena posisi itu terlalu sakral bagi anak-anak dan membuat ada sekat dalam berinteraksi bersama mereka. Posisi sebagai sahabat akan dirasakan sebagai hubungan yang tidak formal, tidak sakral, dan lebih nyaman bagi anak-anak. Bagaimana cara menjadi sahabat bagi anak?

Pertama, Menjadi Sahabat Bagi Suami

Sebelum menjadi sahabat bagi anak, hal pertama yang harus dilakukan para istri adalah menjadi sahabat bagi suami. Bersahabat dengan suami akan mempermudah menyamakan visi, menyatukan persepsi, juga mendiskusikan serta mencari solusi atas berbagai problematika dalam mendidik anak. Jika para istri tidak dapat bersahabat baik dengan suami, bagaimana akan bisa menjadi sahabat bagi anak? Maka, suami-istri harus menjadi sahabat yang saling menguatkan dalam kebaikan, agar mereka berdua bisa menjadi sahabat bagi anak-anak.

Mereka berdua mudah menemukan kesamaan pandangan dalam mengarahkan anak, dan mudah pula mencari jalan keluar dalam setiap menghadapi problematika pendidikan anak. Anak semakin mantap dalam melangkah menggapai cita-cita, karena melihat kesungguhan dan kekompakan  orang tua dalam membersamai mereka.

Kedua, Menerima Anak dengan Segala Potensinya

Sebagai sahabat, hendaknya para istri mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Mereka adalah buah hati Anda, bagaimanapun kondisi fisiknya. Penerimaan Anda kepada mereka, akan menjadi kunci keberhasilannya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan penuh percaya diri. Sebaliknya, anak yang merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan.

Ketiga, Jadilah Pendengar yang Baik untuk Anak

Hendaknya para ibu bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak, sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat, karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa Anda tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya, namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman.

Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak, tetapi jangan meluapkan emosi dan kemarahan saat Anda merasa mereka telah melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak, cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah.

Keempat, Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak

Menjadi sahabat artinya para ibu harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Dengan menemani dan mendampingi anak bermain dan belajar, Anda akan paham kebiasaan serta karakter anak. Cermati apa yang mereka lakukan saat bermain, menonton, atau belajar. Perhatikan kreativitasnya dari aktivitas keseharian baik di rumah maupun di sekolah. Dengan melakukan kegiatan bersama anak secara telaten dan sabar, para ibu dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, memahami kondisi anak, mengerti situasi hati anak, mengerti hal-hal yang disenangi serta tidak disenangi anak, mengerti cara memasuki hatinya. Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.

Kelima, Berikan Penghargaan dan Hukuman

Ketika anak berbuat salah, hendaknya para ibu bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Hal-hal itu akan menyakiti hati anak-anak, membuat anak merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.

Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai, dan membuatnya lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur, tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan anak-anak. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.

Keenam, Berikan Kepercayaan terhadap Anak

Sebagai sahabat, hendaknya para ibu bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.

Ketujuh, Jadilah Teladan bagi Anak

Ibu dan ayah hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru dan dicontoh.

Ketiadaan teladan dari orang tua membuat anak-anak mudah putus asa dan tidak memiliki seseorang untuk dipercaya. Maka sangat penting bagi orang tua untuk selalu berusaha memberikan keteladanan dalam kebaikan, karena apa pun yang dilakukan orang tua akan selalu menjadi inspirasi bagi anak-anak.