HomePernikahanMenjadikan Keluhan Seindah Kidung, Mungkinkah?
e9b8bc3f401d7e4ab422e37502be6b9f

Menjadikan Keluhan Seindah Kidung, Mungkinkah?

Pernikahan 0 2 likes 852 views share

MENJADIKAN KELUHAN SEINDAH KIDUNG, MUNGKINKAH?

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Banyak pasangan suami istri yang membayangkan saat tidak mendengar keluhan pasangannya itu seperti berada di surga. Merasa terbebas dari beban-beban yang dapat timbul sebagai sebuah konsekuendi akibat keluhan pasangan. Dalam beberapa hal, terkadang keluhan terdengar seperti rentetan bunyi petasan yang cukup mengganggu pendengaran dan kenyamanan. Walaupun dalam suatu hubungan suami istri yang bebas dari keluhan, cinta dapat tumbuh dan berkembang. Namun, kita tak dapat menghindar dari keluhan, karena keluhan adalah bagian dari proses kehidupan yang menunjukkan bahwa hidup itu sangat dinamis, tidak sempurna, penuh dengan onak dan duri yang terkadang menyakitkan.

Keluhan merupakan bagian yang dibutuhkan dalam kehidupan, tidak ada seorangpun yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa memiliki keluhan. Setiap perjalanan kehidupan adalah suatu cobaan dan ujian, pastilah akan membuat seseorang mengeluh. Hanya kadar keluhan setiap orang berbeda, ada yang lebih banyak mengeluh, ada pula orang-orang yang sedikit mengeluh.

Melarang pasangan untuk tidak mengeluh sama sekali merupakan tindakan penghilangan diri sejati seseorang.  Sebagaimana Allah sampaikan dalam Al Quran:”Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan(harta) dia menjadi kikir.” (QS. Al Ma’arij : 19-21)

Berkeluh kesah, itulah sejatinya sifat manusia. Tidak ada yang salah jika seseorang itu mengeluh, karena memang hakikat penciptaannya diberikan sifat berkeluh kesah. Ketika seseorang tidak mengeluh sama sekali, itu sama saja ia telah menyembunyikan sebagian dari diri sejatinya.

Menyampaikan keluhan bukanlah masalah yang sebenarnya, tapi masalah sesungguhnya adalah saat suami atau istri mengeluhkan pasangannya. Hubungan yang bebas keluhan terdengar sangat utopis, seperti mengkhayal, tapi memang hubungan tanpa keluhan mampu menumbuh kembangkan cinta di antara suami istri. Hubungan bebas keluhan antara suami dengan isstri bukan berarti tidak pernah mengeluh satu sama lain. Yang dimaksud dengan hubungan bebas keluhan yaitu seorang suami atau istri tidak mengeluhkan pasangannya, tapi mereka masih bisa mengeluhkan hal-hal yang lain seperti suami yang terlalu sibuk, istri yang kurang perhatian kepada keluarga, dan lain-lain.

Respon laki-laki dan perempuan akan sangat berbeda ketika mendapat keluhan. Saat seorang suami mengeluh kepada istrinya, terkadang hal itu dapat membuat sang istri merasa terbebani. Dalam menjawab keluhan suami, seorang istri seringkali cenderung banyak memberik, namun pada akhirnya ia merasa terbebani dan muncullah sikap emosi. Sementara, ketika seorang istri mengeluh kepada suaminya, hal ini dapat membuat ia merasa dikendalikan. Sebagai responnya, terkadang suami akhirnya berhenti peduli untuk membahagiakan istri.

Pasangan suami istri jangan pernah memperbesar persoalan keluh kesah pasangannya. Yang diperlukan oleh pasangan suami istri adalah memperbaharui kecakapan dalam mengkomunikasikan keluhan itu sedemikian rupa sehingga membuat pasangan mendengarkan keluhan itu dengan cara yang bisa membuatnya merasa terdukung, bukan merasa diremehkan, ditolak, dikritik atau merasa dikendalikan. Belajar untuk berbicara sedemikian rupa sehingga pasangan bisa mendengarkan semua keluhan adalah kecakapan yang penting dalam kehidupan pasangan suami istri.

 

Mengapa Keluhan Kadang Tidak Mempan?

Banyak kejadian pasangan suami istri yang tidak mengalami perubahan yang berarti dalam hubungan mereka yang disebabkan oleh terlalu banyaknya keluhan pasangannya. Hal ini terjadi karena sering kali apa yang dikatakan oleh suami atau istri ketika mereka mengeluh bukanlah apa yang didengar oleh pasangannya.

Seperti misalnya, ketika seorang suami mengeluh kepada istrinya dengan mengatakan, “Kamu jarang di rumah.” Ucapan ini dapat terdengar oleh sang istri sebagai ucapan : Kamu bukan pasangan yang baik, kamu bukan pasangan yang mencintai, kamu bukan pasangan yang pandai mengasuh. Maka reaksi yang muncul kemudian adalah, sang istri merasa suaminya tidak cukup memahami semua yang telah dilakukannya, suaminya menuntut waktunya lebih banyak. Atau hal lain yang didengar oleh sang istri  adalah : bahwa ia harus berbuat lebih banyak lagi yang dapat membuat suaminya berbahagia.

Begitupun ketika seorang  istri mengeluhkan suaminya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor dengan mengatakan, “Abang jarang ada di rumah.” Keluhan seperti terdengar di telinga suami seolah-olah sang istri mengatakan: Kamu tidak cukup memberi kebahagiaan kepadaku, kamu telah gagal membuatku bahagia.

Itulah, mengapa terkadang keluhan menjadi tidak mempan dalam memperbaiki hubungan suami istri. Di sinilah kecakapan komunikasi dalam hubungan sangat diperlukan. Dari pada hanya mengungkapkan keluhan kepada pasangan, mengapa tidak dicoba untuk mengubah bentuk kalimatnya menjadi seperti kalimat ajakan. Misalnya, “Yuk kita rencanakan waktu untuk berdua saja, kapan kamu sempat mencocokkan agenda kita?”

Atau bisa juga dengan menggunakan kalimat pernyataan informasi, misalnya dengan mengatakan, “Akhir-akhir ini kita sibuk sekali. Aku ingin menjadwalkan sesuatu yang menyenangkan untuk kita lakukan bersama-sama.” Kalimat ini hanya sekedar informasi yang sifatnya hanya memberitahu dan tidak membutuhkan respon secara langsung saat itu juga.

Begitupun hal nya dengan istri yang mengeluhkan suaminya yang jarang di rumah, keluhan kepada suami jangan berhneti pada kalimat, “Abang jarang di rumah.” Titik. Kalimat ini dapat menimbulkan berbagai interpretasi suami seperti disebutkan di atas.  Akan menjadi  berbeda reaksinya jika sang istri mengatakan, “Akhir-akhir ini Abang jarang di rumah, aku kan jadi rindu..” Dengan menggunakan kalimat seperti ini, sisi kejantanan laki-laki akan terusik dan hal ini akan membangkitkan perasaan dibutuhkan, dihargai, dicintai sebagai seorang suami. Maka pemilihan kata yang benar menjadi sangat penting dalam mengkomunikasikan keluhan kepada pasangan. Ditambah lagi dengan ekspresi wajah dan nada suara akan turut mempengaruhi respon dari pesan yang dikomunikasikan.

Ketika keluhan disampaikan dengan kata-kata dan nada suara yang menunjukkkan ketidak sukaan istri kepada suami, maka suami akan merasa dikendalikan. Pesan yang didengar adalah bahwa untuk membahagiakan istri, suami “harus” meluangkan lebih banyak waktu di rumah. Dari sudut pandang laki-laki, hal itu terdengar seperti seorang ibu yang menasihati anaknya. Keluhannya terdengar seperti tuntutan bahwa untuk membahagiakan isttrinya, seorang suami harus melakukan apa yang dikatakan oleh sang istri.

Jadi, mungkinkah terjadi hubungan pasangan suami istri bebas keluhan itu?