HomeRuang KeluargaMewaspadai 10 Pintu Kesombongan
fir'aun

Mewaspadai 10 Pintu Kesombongan

Ruang Keluarga 0 1 likes 611 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Sombong adalah sifat dan perbuatan yang tercela. Banyak ayat Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan larangan berlaku sombong serta menunjukkan tercelanya kesombongan. Secara umum, kesombongan adalah sifat yang merusak dan menghancurkan pelakunya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman:18).

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri” (QS. An Nahl: 23).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong)“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Bahkan, sombong adalah dosa pertama kali yang muncul kepada Allah, sebagaimana perbuatan iblis yang tidak mau melaksanakan perintah Allah untuk bersujud kepada Adam:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah: 34).

Tafsir Ibnu Katsir mengutip penjelasan Qatadah tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan: Aku diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi. Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam”.

Dua Jenis Kesombongan

Ada dua jenis kesombongan manusia, yaitu sombong terhadap al haq (kebenaran), dan sombong terhadap makhluk. Hal ini dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain“ (HR. Muslim no. 91).

Imam An Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran”.

Hadits di atas memberi penjelasan adanya dua jenis kesombongan. Yang pertama adalah sombong terhadap kebenaran, yaitu menolak dan berpaling dari kebenaran serta tidak mau menerima kebenaran. Yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yaitu merendahkan dan meremehkan manusia, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih hebat, atau lebih mulia dibandingkan orang lain.

Kedua jenis kesombongan ini sangat berbahaya, karena membuat manusia tidak masuk ke dalam surga. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu berusaha menjauhi sifat dan perbuatan sombong. Jangan sampai dalam diri kita ada kesombongan, walaupun hanya sebesar dzarrah atau biji sawi. Astaghfirullahal azhim.

Hadits di atas juga memberikan penjelasan, bahwa sombong itu tidak bisa dinilai semata-mata dari sesuatu yang bersifat lahiriyah, seperti bagusnya penampilan. Bagus dan indahnya pakaian, sepatu, kendaraan, rumah dan berbagai asesoris hidup, tidak serta merta menjadi indikasi adanya kesombongan. Sombong adalah ketika seseorang dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, membuat ia menolak kebenaran atau meremehkan dan merendahkan orang lain.

10 Pintu Kesombongan

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sangat banyak pintu yang membuat manusia bisa tergelincir ke dalam sifat dan perilaku sombong, terutama jenis kesombongan terhadap makhluk. Di antaranya adalah 10 (sepuluh) hal berikut ini, dan semoga Allah pelihara kita dari semua pintu kesombongan:

1.Sombong karena ilmu

Ada orang yang sombong karena kelebihan dan kehebatan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, baik ilmu dunia maupun akhirat. Baik ilmu agama, maupun imu umum. Dia menganggap dirinyalah yang paling hebat dan benar sehingga dia tidak menerima masukan kebaikan dari orang lain, serta meremehkan orang lain yang dianggap tidak memiliki ilmu.

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak  bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang”.

2. Sombong karena banyaknya ibadah

Ada orang yang sombong karena merasa diri mereka terlalu sangat banyak melakukan ibadah dibandingkan orang-orang lain. Ia  merasa hebat, karena orang lain tidak bisa melakukan ibadah seperti dirinya, serta tidak bisa mencapai tingkatan ahli ibadah seperti dirinya. Inilah contoh orang yang terpedaya dengan banyaknya ibadah yang dilakukan. Na’udzu billah min dzalik.

Memperbanyak ibadah adalah sebuah keharusan, agar diri kita semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Namun jangan sampai, banyaknya ibadah yang kita lakukan membuat bersifat sombong dan meremehkan orang lain. Justru seharusnya, semakin banyak ibadah seseorang, membuat dirinya semakin dekat kepada Allah, sehingga semakin tawadhu dan tidak sombong.

3. Sombong karena keturunan yang tinggi dan mulia

Ada orang yang sombong karena kemuliaan garis keturunannya. Merasa keturunan bangsawan, keturunan penguasa, atau anak dari kelas sosial yang elit, sehingga meremehkan orang lain. Orang seperti ini membangga-banggakan orang tua atau nenek moyang yang memiliki kemuliaan dalam kedudukan. Mereka merasa tidak sederajat atau tidak sekelas dengan manusia kebanyakan.

Menjadi anak keturunan dari orang-orang terhormat tentu tidak salah, karena kita tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa. Namun menjadi sombong karena keturunan orang hebat adalah sebuah sifat dan perilaku buruk yang harus dihindari, karena kemuliaan seseorang tidak ditentukan dari keturunannya, namun dari ketaqwaannya.

4. Sombong karena memiliki harta kekayaan berlimpah

Ada orang yang sombong karena harta, kekayaan dan kemewahan dalam kehidupan. Mereka menjadi membuat lupa daratan dan sombong disebabkan kemelimpahan harta dan kekayaan yang mereka miliki. Jenis kesombongan seperti ini yang dimiliki oleh Qarun, sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an:

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri” (Q.S. Al-Qashash : 76).

“Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka” (Q.S. Al-Qashash : 78).

5. Sombong karena keindahan fisik

Ada orang yang sombong karena memiliki wajah cantik menarik, memiliki wajah tampan rupawan. Ada orang sombong karena dikaruniai tubuh indah nan seksi ataupun tubuh macho dan atletis. Orang-orang seperti ini merasa lebih hebat dan lebih mulia, sehingga memandang orang lain dengan hina. Meremehkan orang yang memiliki tubuh cacat atau tidak sempurna, mengejek orang lain yang berwajah tidak menarik, dan lain sebagainya.

Wajah cantik dan tampan adalah karunia Allah yang harus disyukuri, bukan membuat seseorang menjadi sombong. Kecantikan dan ketampanan wajah tidak membuat seseorang masuk neraka, namun kesomboinganlah yang menghantarkan pada neraka. Na’udzu billahi mindzalik.

6. Sombong karena kekuatan fisik

Ada orang sombong karena kekuatan, keperkasaan dan kegagahan fisiknya hingga meremehkan siapa saja. Merasa hanya dirinya yang hebat dan kuat, sedangkan orang lain dianggap lemah tak berdaya. Kesombongan seperti ini seperti dimiliki oleh kaum Aad yang diabadikan dalam Al Qur’an :

“Adapun kaum `Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami? Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami” (QS. Fushilat: 15).

7. Sombong karena memiliki banyak pengikut

Ada orang bangga karena memiliki banyak fans, followers, pengikut, murid, jama’ah, jaringan dan yang lain sebagainya. Kesombongan seperti ini bisa menghinggapi banyak manusia zaman milenial yang memiliki banyak likers dan followers di berbagai akun medsos mereka. Bisa pula mengenai pemimpin tertinggi dalam suatu organisasi yang berbangga dengan banyaknya pengikut yang selalu memuji dirinya. Bahkan bisa menghinggapi orang-orang alim yang memiliki banyak anggota atau banyak jama’ah dalam setiap majelis yang digelarnya.

Fir’aun adalah salah satu contoh tokoh yang diabadikan dalam Al Qur’an karena kesombongan. Ia sombong dengan banyaknya tentara yang dimilikinya, “Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)” (QS. Al Fajr : 10).

8. Sombong karena retorika yang memukau massa

Ada orang yang sombong karena memiliki kemampuan orasi dan retorika yang memukau publik. Setiap berpidato selalu menimbulkan histeria massa. Dirinya merasa menjadi besar dan hebat karena mampu menghipnotis massa dalam setiap pidatonya. Orang-orang seperti ini menjadi sombong karena terpedaya oleh respon khalayak dalam menyaksikan pidato dan orasinya.

Kemampuan orasi dan retorika tentu sangat penting dan sangat diperlukan dalam dakwah, namun menjadi sombong karena kehebatan retorika adalah hal yang salah serta harus dihindari. Hendaknya kemampuan retorika tidak membuat seseorang terpedaya hingga menimbulkan kesombongan.

9. Sombong karena popularitas

Ada orang yang sombong karena memiliki popularitas yang hebat. Dimana-mana selalu dielu-elukan, fotonya dipajang, namanya dipuja puja oleh media massa. Pencitraan yang hebat telah membuat seseorang berada di puncak popularitas, namun sayangnya banyak orang tidak sanggup menjaga sikap tawadhu setelah populer. Mereka menjadi sombong karena popularitas yang dimilikinya.

Di zaman medsos saat ini, peluang manusia menjadi populer semakin besar. Namun hendaknya disadari bahwa popularitas tidak boleh menjadikan kesombongan, perasaan bangga yang berlebihan dan apalagi meremehkan serta merendahkan orang lain. Itu semua adalah sifat dan perbuatan yang harus dihindari. Boleh populer, namun tetap tawadhu dan tidak menyombongkan diri.

10. Sombong karena jabatan dan kedudukan

Ada orang yang sombong karena jabatan dan kedudukan yang tinggi. Misalnya orang-orang yang berlomba dalam karier, kedudukan, posisi, jabatan di suatu instansi atau organisasi. Mereka mengira kedudukan yang tinggi telah membuat mereka menjadi manusia sempurna. Dampaknya, mudah meremehkan dan melecehkan orang lain yang dianggap rendah dan hina, karena belum mencapai jabatan dan kedudukan sebagaimana yang ia miliki.

Tentu tidak dilarang memiliki jabatan dan kedudukan tinggi, namun tidak boleh membat sombong dan tinggi hati. Jabatan, kedudukan dan posisi itu hanyalah sementara, yang bisa datang pergi silih berganti. Sangat tidak layak untuk membuat seseorang menjadi sombong untuk hal-hal yang bersifat sementara.

Demikianlah sepuluh pintu yang bisa membuat manusia terjerumus ke dalam sifat dan perbuatan sombong. Semoga kita semua bisa terhindar dari berbagai bentuk dan jenis kesombongan.