HomeKesehatanMewaspadai Gejala Alergi Makanan Pada Anak
kid-1365105_1280

Mewaspadai Gejala Alergi Makanan Pada Anak

Kesehatan 0 1 likes 273 views share

Oleh: Giovani Rukmi*

Setiap tahunnnya prevalensi penyakit alergi di seluruh dunia meningkat secara dramatis baik di negara maju maupun negara berkembang. Peningkatan prevalensi ini diprediksi dapat  mencapai angka 4 milyar pada tahun 2050. Bentuk-bentuk penyakit alergi sendiri dapat berupa asma, rhinitis, anafilaksis, alergi serangga, eksema, urtikaria (gatal-gatal), serta alergi obat dan makanan. Salah satu jenis alergi yang paling umum dan menjadi masalah kesehatan utamanya pada anak adalah alergi makanan.

Alergi makanan adalah suatu bentuk respon imun yang merugikan terhadap jenis makanan tertentu. Sebagian besar alergi makanan yang serius berawal pada saat usia bayi dan balita. Alergi makanan dapat muncul pada saat kondisi sistem imun sedang kurang baik,sehingga menimbulkan suatu reaksi yang memicu munculnya senyawa kimia yang disebut histamin. Adanya histamin ini, meski hanya disebabkan oleh sejumlah kecil alergen, dapat menyebabkan timbulnya gejala alergi seperti gatal-gatal atau bengkak.

Jenis-jenis alergen sendiri sangatlah bervariasi. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia, kacang merupakan alergen yang paling sering ditemukan pada kasus alergi makanan pada anak. Sementara di Asia Tenggara, alergi makanan yang paling banyak muncul disebabkan oleh makanan jenis ikan dan seafood. Meskipun demikian, alergen lain seperti susu dan telur juga sering ditemukan.

Bagaimana mengetahui indikasi anak alergi makanan?

Alergi makanan sebagian besar muncul pada anak yang berasal dari keluarga yang memiliki bakat alergi, dan beberapa diantaranya sangat mudah dikenali. Umumnya segera setelah mengonsumsi makanan tertentu, akan muncul gejala seperti ruam, atau gatal di sekitar mulut. Pada kasus lain, juga bisa terjadi pembengkakan pada wajah, hidung meler, muntah, hingga kesulitan bernafas. Gejala alergi makanan berdasarkan respon yang muncul terbagi menjadi dua, immediate (segera) dan delayed (lambat).

Gejala alergi makanan immediate (segera)

Pada tingkatan ringan – sedang, gejala umumnya timbul pada kulit, sistem pernafasan dan pencernaan berupa :

1. Wajah memerah, gatal- gatal, muncul ruam kemerahan dan gatal di sekitar mulut, lidah atau mata hingga menyebar ke seluruh tubuh.

2. Gatal di tenggorokan

3. Pembengkakan ringan terutama pada bibir, mata dan wajah

4. Hidung meler atau tersumbat, bersin, dan mata berair

5. Mual, muntah, perut kram dan diare

Pada tingkatan yang lebih parah (anafilaksis), gejala yang muncul berupa :

1. Mengi atau sesak napas mirip dengan serangan asma berat

2. Pembengkakan pada lidah dan tenggorokan, batuk atau perubahan suara

3. Penurunan tekanan darah (hipotensi) hingga menyebabkan syok

4. Pusing, hilang kesadaran

Pada kasus seperti ini tentunya membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Gejala alergi makanan delayed (lambat)

Beberapa gejala alergi makanan yang muncul sulit untuk dideteksi. Alergi jenis ini cenderung muncul pada bayi dan sulit dibedakan dengan intoleransi makanan. Reaksi ini masih melibatkan sistem imun, sehingga masih dikategorikan sebagai alergi, hanya dengan respon yang lebih lambat. Akibatnya,  kemungkinan makanan yang menjadi penyebab alergen masih terus dikonsumsi sangat besar karena tidak langsung diketahui. Gejala alergi pada jenis ini diantaranya,

1. Eksema (bercak dikulit menjadi kasar dan meradang)

2. Refluk – muntah

3. Pertumbuhan kurang

4. Pembengkakan pada usus kecil

5. Sembelit dan atau diare

6. Menaikkan lutut ke dada karena nyeri perut

7. Sering rewel dan menangis

Gejala-gejala ini juga membutuhkan penanganan medis khusus dan hanya bisa membaik dengan menghindari makanan penyebabnya.

 

Apa yang harus dilakukan?

Pada gejala yang seketika muncul, terlebih dahulu hindari makanan yang kemungkinan menjadi pemicu alergi, kemudian periksakan ke dokter atau tenaga kesehatan. Akan tetapi untuk mewaspadai gejala yang muncul secara lambat, ada baiknya jika kita membuat ‘food diary’ atau catatan makan yang berisi jenis dan jumlah makanan apa saja yang kita berikan pada anak. Catatan ini akan memudahkan dokter atau tenaga medis untuk menentukan apakah benar anak mengalami alergi makanan atau sakit karena penyebab lain.

Menjaga anak dari alergi makanan

Setelah mengetahui gejala alergi bahan makanan yang menjadi pemicunya, cara terbaik menjaga anak yang memiliki alergi makanan adalah dengan tetap menghindari jenis makanan yeng menjadi alergen. Hal ini bisa menjadikan anak-anak dengan alergi makanan  rentan mengalami kekurangan zat gizi karena harus menghindari makanan yang mungkin menjadi sumber makronutrien dan mikronutrien penting. Oleh karena itu, untuk memastikan tercukupinya kebutuhan gizi anak, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mencari alternatif bahan makanan dan variasi pemilihan makanan yang tepat untuk anak. Serta penting adanya pengawasan orang tua untuk mengetahui perkembangan alergi seiring bertambahnya usia. Beberapa jenis alergi makanan seperti alergi terhadap protein susu dan telur cenderung menghilang selama masa kanak-kanak, sehingga pada saat tertentu makanan dapat dengan hati-hati dicobakan kembali.

Memiliki anak dengan alergi makanan mungkin berpengaruh besar terhadap gaya hidup dan pilihan makan dalam keluarga. Akan tetapi dengan memahami penyebab dan bagaimana cara mengatasinya, gejala alergi makanan yang muncul dapat dengan mudah dikontrol.

*Penulis adalah  seorang Research Assistant, yang dapat dihubungi melalui email giovani.rukmi@gmail.com dan line @giovanirukmi