HomeKisah InspiratifOrang Baik Akan Selalu Bertemu Orang Baik
ustadz cholid mahmud

Orang Baik Akan Selalu Bertemu Orang Baik

Kisah Inspiratif 0 12 likes 3.9K views share

Kisah di Balik Transplantasi Ginjal Ustadz Cholid Mahmud

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Mendengar kisah transplantasi ginjal Ustadz Cholid Mahmud (UCM) pada 20 Februari 2018 lalu, mengingatkan saya pada teori Butterfly Effect yang dikemukakan Edward Norton Lorenz pada tahun 1961. Selalu ada rahasia Ilahiyah dan intervensi Allah dalam setiap kejadian, namun pada saat yang sama juga selalu ada misteri yang tak mudah dipahami oleh logika manusia pada umumnya. Hanya nalar iman yang akan bisa memahami semua kejadian dalam kehidupan keseharian, dengan mudah dan sederhana.

Jika Lorenz meyakini bahwa seluruh kejadian dalam kehidupan kita pada dasarnya adalah rangkaian dari kejadian acak atau random, maka kita sebagai insan beriman meyakini bahwa semua kejadian dalam hidup adalah desain yang sempurna dari Allah yang Maha Perkasa. Pada tahun 1961, dengan bantuan simulasi program di komputer, Lorenz berusaha memprediksi kondisi cuaca. Hingga akhirnya ia menemukan angka faktor 0,506. Semakin kecil ia masukkan bilangan desimal, makin presisi pula perkiraan yang didapatkan. Saat ia masukkan angka 0,506127, ia menemukan bahwa dampak dari desimal terkecil tersebut setara dengan efek kepakan sayap kupu-kupu.

Lorenz terhenyak saat mendapatkan gambaran, satu kepakan sayap kupu-kupu bahkan bisa menghasilkan efek tornado yang dahsyat. Inilah yang disebut sebagai teori Butterfly Effect. Ada rangkaian kejadian yang memunculkan peristiwa atau kejadian pada waktu lainnya, dengan dampak yang sungguh luar biasa, di luar perkiraan manusia. Di mata Lorenz, ini random. Di mata insan beriman, ini adalah keteraturan alam semesta atas desain dari Yang Maha Sempurna.

Sebagai muslim, kita percaya sepenuhnya bahwa semua kejadian dalam hidup kita adalah ketentuan dari Allah yang pasti akan terjadi. Semua hal tidak ada yang luput dari ilmu dan kehendak-Nya. Tidak satupun kejadian yang tiba-tiba dan “kebetulan”. Semua hal selalu berada dalam pengaturan dan ketentuan-Nya yang Maha Agung. Semua kejadian di alam semesta ini ritmis dan teratur di sisi Allah Yang Maha Mengatur. Namun tampak random di mata manusia, karena sifat manusia yang tidak memiliki cukup ilmu untuk memahaminya.

Kendati kita yakin akan keteraturan hukum Allah atas alam semesta ini, namun ada penjelasan yang bisa dipelajari dari teori Lorenz. Justru karena manusia tidak mengetahui skenario global di alam semesta, maka semua tampak random pada awalnya. Kita baru mengetahui betapa ritmis dan teratur hidup ini saat semua telah terjadi. Kita baru ‘ngeh’ dan dengan takjub berkomentar “Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illaallah, wallahu akbar”, setelah kejadian, dan kita merangkai keseluruhan kejadian dari awal dengan pandangan iman.

Lakukan Usaha, Sebagai Proposal Kesungguhan Kita

Semenjak UCM mendapatkan anugerah dari Allah berupa gagal ginjal, maka beliau melakukan kewajiban kemanusiaan, berupa pengobatan dan terapi —baik secara spiritual dengan doa dan ibadah, maupun secara medis melalui bantuan para ahli di bidangnya. Usaha manusiawi ini harus ditempuh, mengingat Allah menyuruh kita untuk mengusahakan hal-hal terbaik dalam kehidupan. Adapun hasilnya, kita semua bertawakal kepada Allah. Ada berbagai proses pengobatan ’masuk akal’ yang bisa ditempuh oleh para penderita gagal ginjal, di antaranya adalah cuci darah rutin, stemcell, dan transplantasi ginjal.

Ginjal merupakan sepasang organ yang kira-kira berukuran sebesar kepalan tangan, dan terletak pada kedua bagian belakang pinggang. Ginjal yang bekerja dengan baik berfungsi untuk mencegah timbulnya kelebihan cairan, produk sisa, dan racun-racun dalam tubuh. Ginjal juga membantu mengatur tekanan darah dan kadar kimia serta elektrolit dalam darah, seperti garam dan kalium. Selain itu, ginjal menjadi tempat untuk mengaktifkan vitamin D guna meningkatkan penyerapan kalsium dalam tubuh. Gagal ginjal menandakan, ginjal sudah tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Itu yang terjadi pada diri UCM.

Pada awalnya UCM mengupayakan mengikuti program stemcell di Jakarta, dengan bantuan dr. Basuki yang ahli dalam bidang ini. Dokter Basuki sudah menyampaikan pandangan kepada UCM, bahwa selama ini metode stem cell belum menunjukkan keberhasilan pada pasien gagal ginjal. Kendatipun secara teori stem cell bisa dilakukan untuk normalisasi fungsi ginjal, namun dr. Basuki menyatakan belum mendapatkan contoh pasien yang berhasil diterapi. Stemcell baru teruji efektif untuk beberapa jenis penyakit yang lain, seperti perbaikan fungsi pankreas, untuk peremajaan kulit, dan lain-lain.

Untuk diketahui, stem cell atau sel punca adalah sel biologis yang dapat meremajakan diri dan menghasilkan lebih banyak sel untuk sumber pembentukan sel baru. Ia bertugas untuk memastikan setiap sel yang usang diganti dengan sel baru, dengan jenis dan fungsi yang sama. Stem cell dapat mempertahankan potensi perkembangan untuk membentuk turunan dari embrio. Sifat sel ini sangat berguna dalam biologi perkembangan manusia, penemuan obat, dan transplantasi.

Fungsi stem cell ini kemudian dimanfaatkan dalam dunia medis untuk menyembuhkan beragam penyakit. Terapi ini diyakini dapat menciptakan jaringan, sel, serta organ baru. Melalui teknologi transplantasi khusus, stem cell yang telah diambil dimasukkan ke dalam tubuh untuk mengganti sel rusak ataupun abnormal. Dengan terapi stem cell, memungkinkan pasien sembuh dari beragam penyakit seperti jantung, diabetes, leukimia, patah tulang, osteoarthritis, luka bakar, hingga kaki diabetik.

Tiga kali proses stemcell dilalui UCM dengan biaya yang tidak sedikit. Namun evaluasi mendalam yang dilakukan oleh tim medis menunjukkan, tidak ada progress perbaikan yang dihasilkan. Maka dokter menyarankan agar proses stemcell dihentikan, untuk segera berpindah melakukan penyembuhan dengan metode lainnya. UCM akhirnya memilih untuk melakukan proses cuci darah rutin di RS JIH Yogyakarta. Semula cuci darah berlangsung sepekan sekali, namun belakangan harus dilakukan sepekan dua kali.

Pada dasarnya proses hemodialisis atau cuci darah membantu menggantikan fungsi ginjal agar tubuh dapat tetap memiliki keseimbangan fungsi. Akan tetapi, hemodialisis tidak dapat menyembuhkan penyakit ginjal atau kondisi lain yang mempengaruhi kerja ginjal, oleh karena itu, pengobatan lain tetap diperlukan. Cuci darah sendiri merupakan suatu prosedur menyaring darah dengan bantuan mesin yang disebut dialisis. Tanpa dialisis, maka produk-produk sisa dan garam dalam tubuh akan menumpuk dalam darah dan mengendap menjadi racun.

Untuk mengalirkan darah ke mesin, tim medis membuat sebuah akses dari pembuluh darah UCM melalui operasi. Akses pembuluh darah ini akan mengalirkan darah dari tubuh sehingga darah yang tersaring akan cukup banyak. Prosedur cuci darah biasanya dilakukan di rumah sakit dan berlangsung selama tiga hingga lima jam.

Cuci darah ini sudah berlangsung beberapa bulan, dan kondisi kesehatan UCM tidak kunjung membaik. Ada saat-saat drop, dimana UCM merasakan tubuh yang lemah dan susah bernafas. Hal ini tentu sangat mengganggu aktivitas keseharian UCM, apalagi beliau sebagai anggota DPD RI perwakilan DIY, juga pengurus penting di DPP PKS serta Majelis Syura PKS. Selama ini para aktivis dakwah mengenal UCM sebagai sosok aktivis dakwah senior yang sangat berdedikasi dan berkontribusi dalam penumbuhan serta penyebaran dakwah, bukan hanya di Yogyakarta namun juga di Indonesia, bahkan sampai manca negara. Kondisi kesehatan beliau yang menurun tersebut, sangat mengganggu tugas dakwah yang selama ini beliau lakukan tanpa kenal lelah.

ustadz cholid mahmud

Menjajagi Metode Tranplantasi Ginjal

Sembari rutin menjalani proses cuci darah, UCM juga mengupayakan tindakan transplantasi ginjal. Metode transplantasi ini dikenal sebagai tindakan yang ‘to be or not to be’. Jika berhasil, maka akan menyelematkan dan menyambung kehidupan pasien. Namun jika tidak berhasil, akan mempercepat proses kematian pasien. Tentu kita yakin bahwa umur manusia sudah ditentukan oleh Allah, tidak ada yang bisa memperpanjang atau memendekkannya. Namun kewajiban manusia adalah selalu mengusahakan hal terbaik sesuai kesanggupan masing-masing.

Keinginan untuk melakukan transplantasi ini didasarkan pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh UCM bersama tim medis yang selama ini mendampingi beliau. Ditambah lagi dengan testimoni serta dorongan dari para pasien gagal ginjal yang telah sukses melakukan transplantasi, sehingga kehidupannya menjadi pulih dan normal kembali. Ini semua menguatkan tekad UCM beserta keluarga untuk menjalani transplantasi. Kendati ‘to be or not to be’, akan tetapi kisah keberhasilannya jauh lebih banyak daripada kisah kegagalannya.

Namun upaya melakukan transplantasi ginjal tentu saja tidak mudah. Persoalan paling mendasar adalah, siapa yang akan bersedia menjadi pendonoir ginjal? Inilah yang menjadi persoalan paling rumit, mengingat proses ini melibatkan resiko pada pihak pendonor, ditambah lagi realitas belum adanya budaya donor ginjal pada masyarakat Indonesia. Yang paling sering kita jumpai di Indonesia adalah donor darah, ini bahkan menjadi ritual rutin dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Namun donor organ tubuh, bukan menjadi hal yang lazim di tengah masyarakat kita.

Dengan tekun UCM mencari informasi, baik secara langsung kepada berbagai pihak, maupun secara online melalui searching di dunia maya, siapakah yang bersedia mendonorkan ginjalnya. Ada sangat banyak saran dan alternatif, sejak tawaran dari negara-negara lain yang dikabarkan memiliki banyak sediaan ginjal dari para pendonor, sampai kepada tawaran online dari para pihak yang merelakan ginjalnya diambil dengan imbalan tertentu. UCM sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan bab pendonor ini, karena beliau tidak mau dari sembarang orang, apalagi yang tidak dikenal.

ustadz cholid mahmud

Orang Salih Selalu Bertemu Orang Salih

Pada awal tahun 2017 lalu, seorang lelaki menelpon UCM. Menanyakan kabar dan menyatakan ingin silaturahim. Lelaki itu pun datang ke rumah UCM dan beramah tamah bersama UCM. Ia bernama TJ, umur hampir 40 tahun. Pak TJ dulu bekerja di sebuah perusahaan dan rajin menyelenggarakan pengajian untuk para karyawan di perusahaan tersebut. Beliau senang mengundang para ustadz untuk mengisi pengajian di perusahaan tempatnya bekerja. Selain itu, Pak TJ  juga rajin mengikuti pengajian para ustadz di berbagai tempat. Beliau memang dikenal sebagai ‘aktivis pengajian’.

Tidak ada pembicaraan apapun yang terkait dengan transplantasi ginjal pada saat pak TJ silaturahim ke rumah UCM. Hanya berkenalan dan berbincang hal-hal umum saja. Namun semenjak peristiwa itu, Pak TJ rajin menyapa UCM melalui chat di Whatsapp. Sekedar say hello, menanyakan kabar, dan saling mendoakan. Kendati awalnya belum kenal, namun akhirnya terjalin kedekatan rasa antara UCM dengan Pak TJ. Mereka pun rutin berkomunikasi walau hanya melalui Whatsapp.

Usaha UCM untuk mencari pendonor ginjal masih terus dilakukan. Proses mencari informasi dari berbagai kalangan juga terus dijalankan dengan penuh kesabaran. Hari demi hari berlalu, sambil tetap melakukan cuci darah sepekan dua kali. Sampai suatu hari di bulan September 2017, ada dorongan dalam diri UCM untuk mengontak Pak TJ. Sesuatu dorongan, yang UCM juga tidak menjelaskan, mengapa ada dorongan untuk mengontak Pak TJ.

“Pak TJ, apa golongan darah Bapak?” tanya UCM.

“Golongan darah saya O ustadz”, jawab Pak TJ.

“Wah cocok. Apakah Bapak mau mendonorkan ginjal untuk saya?” tanya UCM.

“Siap ustadz”, jawab Pak TJ.

UCM sangat kaget. Tidak menyangka atas jawaban yang langsung dan spontan itu. Sangat cepat, sangat jelas, dan sangat tegas jawaban Pak TJ.

“Donor ginjal loh Pak TJ… Bukan donor darah..”, jelas UCM.

“Iya ustadz. Saya siap donor ginjal untuk ustadz”, jawab Pak TJ mantab.

Masyaallah…. UCM bertambah takjub, heran, sekaligus bersyukur. Benar-benar tidak dinyana dan tidak menyangka atas jawaban yang sangat cepat dan yakin itu.

“Jika memang siap mendonorkan ginjal untuk saya, tolong ditanyakan terlebih dahulu kepada istri Bapak, apakah istri Bapak merelakan?” tanya UCM.

“Sudah kami bicarakan ustadz, dan istri saya sudah merelakan”, jawab Pak TJ.

Lagi-lagi UCM terkejut. Bagaimana mungkin sudah sampai ada pembahasan dengan sang istri? Kapan Pak TJ melakukannya? Mengapa Pak TJ melakukannya? Mengapa sang istri merelakannya?

“Panjang ceritanya ustadz. Tapi intinya saya siap mendonorkan ginjal saya untuk ustadz”, jawab pak TJ.

Subahanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar.

UCM tetap merasakan keheranan dan takjub atas jawaban yang luar biasa dan tidak disangka dari Pak TJ. Seseorang yang belum lama dikenalnya. Seseorang yang baru sekali bertemu dengan dirinya dan berbincang secara umum saja. Namun, rasa syukur menyeruak, atas peluang jalan keluar yang sudah mulai terbuka. Jika Allah menghendaki, semua akan berjalan dengan demikian mudahnya. Jika Allah yang mengatur, tak ada yang tak mungkin di sisiNya.

Allah mengijabah kesungguhan usaha UCM. Allah menjawab ketekunan usaha UCM. Subhanallah.

ustadz cholid mahmud

Melakukan Transplantasi

Setelah ada jawaban meyakinkan dari Pak TJ, UCM segera minta ada pertemuan tiga pihak. Pihak UCM dan keluarga, pihak Pak TJ dan keluarga, serta pihak Tim Medis. Pertemuan itupun berlangsung. UCM mempertegas permintaan donor ginjal kepada pak TJ, dan Pak TJ kembali mempertegas komitmennya. Kepada tim medis, UCM meminta agar menjelaskan secara detail proses transplantasi, kondisi pendonor paska transplantasi, serta resiko-resiko yang bisa terjadi pada pihak pendonor ginjal. hal ini diperlukan agar Pak TJ dan istri mengerti betul apa yang akan dialami setelah transplantasi.

Usai mendapat penjelasan detail dari tim medis, Pak TJ menyatakan kemantapan hati untuk mendonorkan ginjalnya. Tim medis juga menanyakan kesiapan serta kerelaan sang istri, dan dijawab dengan tegas, “Saya merelakan ginjal suami saya didonorkan untuk UCM”. Clear, semua sudah jelas secara pinsip. Tinggal proses teknis untuk melakukan tindakan transplantasi.

Untuk melakukan transplantasi, biasanya diawali dengan evaluasi medis di Rumah Sakit. Ginjal pendonor akan dicocokkan dengan tiga faktor. Pertama, golongan darah. Pasien dan donor harus memiliki golongan darah sama. Kedua, HLA atau Human Leukocyte Antigen. Pasien yang memiliki jumlah antigen tinggi peluang keberhasilan operasi lebih besar. Ketiga, Antibodi. Uji antibodi sangat penting untuk menentukan apakah pasien bisa melakukan operasi atau tidak, dengan melihat reaksi antibodi terhadap jaringan donor.

Sebelum operasi dilakukan, sampel darah pasien dan donor akan diambil untuk diuji cross-match antibodi. Jika hasil cross-match negatif, maka operasi tidak dapat dilakukan. Proses transplantasi ginjal baru bisa dilakukan apabila hasil cross-match positif. Proses operasi memerlukan waktu 4 sampai 8 jam, dengan menghubungkan ginjal baru pada vena, arteri, serta ureter dan kandung kemih. Operasi bisa dikatakan berhasil jika pasien bisa mengeluarkan urine.

Mulailah tindakan persiapan transplantasi dari Pak TJ ke UCM dilakukan. Serangkaian pemeriksaan medis terhadap pak TJ dan UCM dilakukan secara simultan di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta. Sangat panjang dan melelahkan, karena saking banyaknya tindakan pemeriksaan terhadap keduanya. Sampai akhirnya mendapatkan kesimpulan, bahwa kondisi organ Pak TJ dalam keadaan baik dan siap ditransplantasikan. Juga mendapatkan kesimpulan bahwa tingkat kecocokan antara ginjal Pak TJ dengan tubuh UCM lebih dari 90 %. Dengan demikian, tidak diperlukan tindakan pendahuluan untuk ‘mencocokkan’ sebelum transplantasi.

Tim medis menyatakan, ini termasuk kasus yang langka, bahwa tingkat kecocokan mereka demikian tinggi. Dengan tingkat kecocokan sebesar itu, akan memudahkan dalam pelaksanaan tranplantasi nanti. Tiga puluh dokter telah siap melakukan proses tranplantasi. Dengan izin Allah, pada tanggal 20 Februari 2018, mulai jam 07.00 WIB hingga jam 15.00 WIB proses tranplantasi berlangsung dengan lancar dan sukses di RS. Dr. Sardjito.

Semenjak ginjal pak TJ dicangkokkan ke tubuh UCM, langsung menunjukkan suksesnya operasi tersebut. Ginjal ‘baru’ yang dicangkokkan ke tubuh UCM langsung berfungsi dengan normal. Ginjal baru ini segera bekerja mengeluarkan urine beserta berbagai kotoran yang selama ini tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal lama yang sudah kehilangan fungsi. Subhanallah, tindakan delapan jam di ruang operasi, telah membuahkan hasil yang sangat memuaskan.

Pak TJ dinyatakan sehat, bahkan lebih cepat dibolehkan pulang ke rumah. Sementara UCM masih harus menjalani proses pemulihan beberapa haru secara intesif di rumah sakit. Kini Pak TJ sudah beraktivitas normal. Pada saat menengok UCM, pak TJ menceritakan bahwa ia merasa tidak ada perubahan apa-apa dalam dirinya dibanding dengan sebelum ginjalnya diambil. Ia merasa sehat dan segar seperti sedia kala.

Demikianlah kasih sayang Allah. Dia ciptakan ginjal untuk manusia, dengan kemampuan setiap ginjal sampai 200 % dari kebutuhan normal manusia. Allah berikan dua ginjal kepada manusia, berarti memiliki kapasitas sampai 400 %. Subhanallah, Maha Pemurahnya Allah kepadakita. Maka tatkala manusia hidup dengan hanya satu ginjal yang sehat, pada dasarnya ia masih memiliki 200 % kemampuan ginjal yang diperlukan untuk menopang aktivitas kehidupan.

ustadz cholid mahmud

Allah Yang Mengatur Segalanya

Ada hal yang tetap menjadi pertanyaan, mengapa Pak TJ demikian cepat memutuskan untuk mendonorkan ginjal kepada UCM ? Ternyata, itu keputusan yang sudah lama diambil Pak TJ. Sudah beberapa tahun terakhir, Pak TJ memiliki niat dan tekad untuk mendonorkan ginjalnya kepada orang salih yang memerlukannya. Hal ini sudah lama dibahas bersama sang istri, dan sang istri bisa menerima keinginan Pak TJ tersebut, bahkan mendukungnya. Namun pak TJ belum mengerti dan belum menemukan, orang salih mana yang akan dia berikan ginjalnya.

Pada suatu hari, Pak TJ bertemu dengan seorang ustadz dalam sebuah pengajian. Kepada sang ustadz, Pak TJ menceritakan niatnya untuk mendonorkan ginjal kepada orang salih yang memerlukan ginjalnya. Ini bukan proses jual beli, bukan untuk mendapatkan imbalan materi, namun untuk membantu sesama manusia –terlebih orang salih— yang memerlukannya. Sang ustadz segera merespon niat pak TJ tersebut, “Donorkan saja ginjalmu kepada UCM. Beliau sedang memerlukannya”.

“Boleh saya minta nomer kontak UCM ?” tanya Pak TJ.

“Maaf saya kehilangan nomer kontak UCM, tapi Pak TJ bisa minta nomer kontak UCM kepada ustadz Sunardi Sahuri”, jawab sang ustadz.

Pak TJ segera menghubungi ustadz Sunardi Sahuri, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) wilayah DIY, untuk meminta nomer kontak UCM. Ustadz Sunardi pun memberikan nomer HP UCM. Berbekal nomer HP dari ustadz Sunardi, Pak TJ mengontak UCM pada akhir tahun 20017 lalu, menyatakan ingin silaturahim. Terjadilah silaturahim, dan pak TJ menjadi mengenal UCM. Walaupun pada saat silaturahim tersebut belum dilontarkan niat untuk donor ginjal, namun sepertinya Pak TJ tengah menjajagi pribadi UCM : apakah UCM orang yang layak menerima donor ginjal darinya. Karena Pak TJ ingin membantu orang salih.

Subhanallah, begitulah Allah mempertemukan niat baik orang-orang salih. UCM sendiri baru mengerti cerita ini setelah mulai proses persiapan transplantasi di Rumah Sakit. Pada saat ia mengontak Pak TJ untuk menyampaikan permintaan donor ginjal, UCM juga belum mengerti niat Pak TJ ini. Allah yang mengatur semuanya. Allah yang mempertemukan mereka.

Beberapa Pertanyaan dan Perenungan

Siapa yang menggerakkan hati Pak TJ untuk memiliki niat mendonorkan ginjalnya? Siapa yang menggerakkan hati istri pak TJ untuk menyetujui rencana pak TJ? Siapa yang mempertemukan Pak TJ dengan UCM ? Siapa yang menggerakkan hati UCM untuk mengontak Pak TJ yang menyampaikan permintaan donor ginjal dari dirinya? Subhanallah, kita menyaksikan tangan Allah bekerja mengatur semuanya.

Saya sangat meyakini kausalitas kebaikan. Bahwa perbuatan baik akan selalu berbuah kebaikan. Bahwa kita tidak boleh meremehkan perbuatan baik, sekecil apapun itu. Bahwa orang-orang baik akan selalu beresonansi dengan orang-orang baik. Bahwa niat baik akan selalu beresonansi dengan niat baik pula. Bahwa kebaikan akan selalu membawa kepada kebahagiaan.

Maka teruslah memproduksi kebaikan, dimanapun, kepada siapapun, kapanpun. Teruslah melakukan dan menebar kebaikan, sekecil apapun. Karena, tindakan sekecil sayap kupu-kupu sekalipun, bisa menghasilkan efek tornado sebagaimana dipelajari oleh Lorenz. Maka teruslah mengepakkan sayap kebaikanmu. Jangan pernah bosan.

Karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu, kepakan mana yang akan mampu mengubah hidup kita dan hidup orang lain. Saya memahami arahan Nabi Saw agar kita memperbanyak silaturahim, bisa dijelaskan dalam format ini. Melakukan silaturahim itu mudah dan sederhana. Bisa jadi karena suatu silaturahim, seseorang mendapat proyek pekerjaan yang bernilai sangat besar. Bisa jadi karena suatu silaturahim, seseorang mendapatkan peluang beasiswa ke luar negeri. Bisa jadi karena silaturahim, seseorang bertemu jodohnya. Usaha silaturahim itu mungkin setara dengan satu kepakan sayap kupu-kupu. Namun dampaknya bisa sangat dahsyat mengubah hidup seseorang.

Demikian pula arahan Islam agar kita selalu berbuat baik kepada orang lain. Semua perbuatan baik kita adalah untuk Allah dan karena Allah. Bukan untuk maksud yang sifatnya kepentingan sementara saja. Namun dengan banyaknya perbuatan baik inilah Allah akan memberikan balasan kebaikan pula bagi kita. Hal jaza-ul ihsan illal ihsan, demikian Allah mengajarkan kepada kita. Terus saja mengepakkan sayap-sayap kebaikan, pasti Allah akan membalas pula dengan kebaikan. Tidak pernah ada yang sia-sia dari semua kepakan sayap kebaikan kita, karena Allah Maha Menepati janji-Nya.

Usaha mengepakkan sayap ini justru karena terbatasnya pengetahuan kita tentang apa yang akan terjadi dalam kehidupan manusia. Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha. Terus bergerak, terus berkarya, terus bekerja hingga akhir usia. Karena kita tidak pernah tahu, lewat kepakan sayap yang mana Allah akan memberikan surga kepada kita.

Maka terus kepakkan sayap kebaikanmu. Jangan bosan mengepakkan sayapmu. Karena di situlah sesungguhnya esensi kehidupanmu.

Pesan Bijak Pasien

Saya tanya kepada UCM, apa yang dirasakannya sekarang setelah selesai tranplantasi. “Saya merasa lebih segar sekarang. Alhamdulillah”, jawab UCM. Sebelum transplantasi, saya sering ‘tidak tega’ melihat kondisi fisik UCM, walaupun beliau sendiri sangat tabah dan santai menghadapi kondisi sakit yang dialami.

“Proses transplantasi ginjal ini sesungguhnya alternatif yang menyelamatkan, namun belum banyak masyarakat mengetahui. Masih perlu banyak edukasi agar masyarakat semakin memahami kemanfaatan transplantasi ginjal”, ungkap UCM.

“Dengan izin Allah, proses berjalan dengan mudah dan lancar. Meskipun ini mudah dan lancar, namun jangan ada di antara antum yang terpaksa mengalaminya. Jaga kesehatan sebaik-baiknya, agar tidak mengalami gagal ginjal dan penyakit lainnya”, pesan UCM.

“Saya bersedia menjadi duta untuk menjelaskan pentingnya transplantasi ginjal bagi orang-orang yang memerlukannya”, sambung UCM.

Semoga Allah berikan kesembuhan, kesehatan, kebugaran, umur panjang yang berkah, serta hidup yang istiqamah dalam kebaikan, kepada UCM dan kepada kita semua. Aamiin.