HomePernikahanPasanganmu Belahan Jiwamu, Maka Mendekatlah
IMG-20180129-WA0000

Pasanganmu Belahan Jiwamu, Maka Mendekatlah

Pernikahan 0 2 likes 278 views share

*PASANGANMU BELAHAN JIWAMU, MENDEKATLAH JANGAN MENJAUHINYA*

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

 

“Apakah kamu tidak bisa diam? Kamu selalu berteriak kalau bicara.”

 

“Kamu ngga pernah nyambung kalau diajak ngomong.”

 

“Kelebihan kamu cuma dua, kelebihan ngomong dan kebanyakan kekurangan.”

 

“Dasar perempuan cerewet. Bisanya cuma teriak-teriak aja”

 

Kalimat-kalimat di atas dapat dikategorikan sebagai kalimat kritikan. Walaupun mengkritik itu sesuatu yang wajar dalam kehidupan, dan terkadang sesekali dibutuhkan untuk perbaikan diri. Namun jika kritikan terlalu sering diterima, bahkan tiada hari tanpa kritikan, bisa dipastikan akan membuat pasangan menjadi tidk nyaman, bahkan dapat membuatnya menjadi pribadi yang rendah diri dan tidak memiliki penghargaan terhadap diri sendiri.

 

Suami sebagai pemimpin dalam keluarga maka tidaklah terlalu berlebihan jika suami harus memulai untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam keluarga. Karena ia akan menjadi penanggung jawab

 

Untuk menjadi pemimpin yang dipercaya dan berwibawa di hadapan anggota keluarga, tidak perlu seorang suami atau ayah menunjukkabnya dengan cara-cara yang arogan, membentak, memerintah, memarahi maupun mengkritik dengan kata-kata yang tajam dan kasar.

 

Kata-kata yang kasar dan tajam yang terucap dari lisan seseorang dapat diibaratkan seperti menancapkan paku besi ke dalam dinding besi. Tentu akan melukai dan menimbulkan darah yang pastinya akan membuat sakit.

 

Begitulah hati seorang istri yang sering menerima kata-kata kasar dan tajam dari suaminya, maka hatinya akan terlukai dan tersakiti. Sangat sulit untuk memperbaiki hati seorang istri yang sudah tertoreh luka dan berdarah, sekalipun sudah ditambal dan diservis semaksimal mungkin, tidak tertitup kemungkinan masih ada rasa nyeri dan sakit bekas luka itu. Itu lah hati perempuan.

 

Karena itulah, seorang suami hendaknya mampu menahan diri dari berkata-kata kasar dan tajam kepada istrinya. Di sinilah kemmapuan laki-laki menahan ego dirinya akan teruji.

 

Sebagaimana hadits Nabi berikut ini, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah” (Muttafaqun ‘Alaih)

 

Memang tidak mudah untuk menundukkan ego, terlebih bagi seorang laki-laki. Terkadang masih ada perasaan superior atas pasangan. Ketika suami mengalah atas istri seolah-olah, ia menjadi pihak terkalahkan, dilabeli dengan ‘suami takut istri’. Padahal mengalahnya suami terhadap istri sebagai bagian dari upaya mendekat kepada istri. Sehingga di antara mereka tidak lagi ada jarak, tidak lagi berjauhan.

 

Suami harus terus mendekat kepada isgri walaupun istri nampak sedang menjauhi suami. Ia harus terus mendekat dan semakin mendekat, bukan membiarkan ada jarak yang akan semakin menjauhkan satu sama lain.

 

Ketika seorang suami sedang marah atau menyinpan kekesalan kepada istri. Apa yang harus ia dilakukan? Bila dalam kondisi seperti ini, kemudian suami meluapkan emosi, kemarahan.dan melontarkan kata-kata keras dan tajam, bahkan dengan menampakkan wajah murkanya, ini artinya justru suami sedang menjauh dari istri.

 

*EMPAT GEJALA SALING MENJAUH*

 

John M. Gottman dan Nan Silver dalam bukunya Disayang Suami Sampai Mati menyebutkan ada empat gejala saling menjauh antar suami dan istri.

  1. Mengkritik

 

Mengkritik itu adalah sesuatu yang wajar dilakukan dalam kehidupan. Bila ada seseorang yang tidak suka dikritik berarti ia merasa dirinya paling benar. Mengkritik sesekali itu baik untuk perbaikan diri seseorang, apalagi ia seseorang yang amat dicintainya. Mengkritik untuk kebaikan bersama.

 

Namun jika kritik itu dilakukan terlalu sering hingga tiada hari tanpa kritikan kepada pasangan, dan yang dikritik adalah hal-hal yang terkadang hal-hal yang sangat sepele, tentu membuat pasangan menjadi tidak nyaman, merasa jengah dan dalam waktu lama dapat menimbulkan sikap rendah diri dan hilang penghargaan terhadap diri sendiri.

 

Pasangan akan menjauh, karena bila ia mendekat akan selalu mendapat kritikan yang itu membuat dirinya merasa tidak nyaman. Perlahan fan pasti hal ini akan membuat hubungan keduanya menjadi semakin menjauh. Semakin banyak kritikan, maka semakin jauh pula jarak psikologis yang terbentang di antara keduanya.

 

  1. Mencela

 

Mencela itu sudah mengarah kepada kalimat dan ungkapan negatif serta menghujam langsung ke dalam jiwa. Pada umumnya mencela itu adalah lanjutan dari kritikan.

 

“Idiot benar kamu, masalah begitu saja tidak bisa diselesaikan.”

 

“Kamu benar-benar tidak punya selera rasa, masakanmu asin sekali, tidak bisa aku menelannya.”

 

“Dasar karung beras. Sudah gendut, cerewet lagi.”

 

Kalimat-kalimat ungkapan celaan di atas dapat menyakiti hati dan perasaan pasangan. Semakin banyak celaan diterima oleh pasangan, semakin jauh jarak yang terbentang.

 

Ungkapan-ungkapan celaan ini sungguh merupakan kalimat yang tidak sepantasnya diterima oleh pasangan yang merupakan seseorang yang seharusnya dicintai dan disayangi. Bagaimna mungkin cinta dan sayang dapat tumbuh bila hati dan perasaan sering tersakiti.

 

  1. Membangun Benteng

 

Yang dimaksud dengan membangun benteng adalah suatu sikap “aku tidak seperti yang kamu tuduhkan”. Mungkin saja pasangan akan diam dan tidak membalas ketika ia dikritik atau dicela, namun ia memalingkan wajah, atau berpura-pura melakukan sesuatu seperti membolak-balikkan halaman majalah atau sengaja bermain HP ketika mendengar kritikan atau celaan. Ia ingin menunjukkan sikap “inilah aku” dan “terserah kamu, tapi aku tidak seperti yang engkau katakan.”

 

Suami bisa membangun benteng dengan memarahi istri. Bisa jadi suami merasa dirinya yang salah, namun ia tidak ingin istri mendahului menyalahkannya. Maka ia segera membangun benteng dengan menampakkan sikap marah dan emosi.

 

  1. Menyalahkan Pasangan

 

Inilah ujung sikap yang timbul dari ketiga gejala sikap terdahulu. Karena sikap egois yang dikedepankan, maka walaupun ia tahu bahwa kesalahan itu ada dalam dirinya, tapi ia tidak mau mengakuinya. Yang muncul kemudian justru sikap menyalahkan pasangan. Karena tidak ingin disalahkan terlebih dahulu oleh pasangan.

 

“Kamu yang salah!”

 

“Kamu yang memulai pertengkaran.”

 

“Semua gara-gara kamu.”

 

Inilah empat gelaja saling menjauh antara pasangan suami istri. Jika empat gejala ini sedang terjangkit pada pasangan suami istri, maka keduanya harus mawas diri. Karena ini berarti bahwa kondisi mereka berdua sedang berada dalam sebuah jalan yang semakin menjauhkan jarak keduanya. Dan hal ini tidak boleh diperturutkan dan diteruskan, keduanya harus segera mengakhiri semua gejala-gejala itu dengan menempuh jalan yang semakin mendekatkan keduanya.