HomePernikahanPelayanan Istri Terhadap Suami
service

Pelayanan Istri Terhadap Suami

Pernikahan 0 3 likes 1.5K views share

PELAYANAN ISTRI TERHADAP SUAMI

 

@ Ummu Rochimah

Dr. Abdul Karim Zaidan mengatakan: “Para ulama berbeda pendapat tentang hak seorang suami atas istrinya dalam pelayanan rumah tangga, mengurus tugas-tugasnya dan memberikan pelayanan kepada suami serta memenuhi segala kebutuhannya. Jumhur ulama sepakat bahwa tidak ada hak bagi suami atas istri dalam masalah ini, melainkan hanya melakukannya sesuai keinginannya tanpa ada pemaksaan atau keharusan padanya. Namun sebagian ahli fikih justru mewajibkan peran istri dalam urusan ini.”

Dari pemahaman ini, kemudian banyak bermunculan istri-istri yang merasa tidak perlu melayani suami, menyiapkan pakaian bersih untuknya, menyediakan makanan untuk keluarganya, atau menyelesaikan urusan rumah tangga lainnya. Bahkan ada yang sampai berpura-pura malas dan tidak mau melakukan semua urusan rumah tangga. Ini adalah suatu kekeliruan dalam memahami masalah fikih tersebut.

Benar adanya, bahwa seorang laki-laki tidak boleh menjadikan perempuan yang dinikahinya sebagai seorang pembantu atau pelayan dirinya. Karena bukan itu tujuan pernikahan. Dalam Islam, sebuah pernikahan adalah sarana untuk bekerjasama antara suami dan istri, mu’asyarah bil ma’ruf saling bergaul dengan baik.

Tidak ada pembagian yang baku dalam hal pengurusan rumah tangga. Yang prinsip dalam pernikahan adalah bahwa seorang suami menjadi imam bagi keluarganya. Ia berfungsi sebagai nakhoda yang bertanggung jawab dalam mengendalikan dan memastikan bahtera rumah tangganya berada dalam pelayaran yang benar, menjaga bahtera tetap berada dalam jalur yang tepat hingga dapat berlabuh di tujuan akhir yang benar.

Berangkat dari sinilah syariat Islam melarang seorang istri berlepas tangan dari kepengurusan rumah tangganya, suami dan anak-anaknya dengan alasan karena syariat Islam tidak mewajibkan hal itu kepadanya. Atau karena ia memahami bahwa konten akad nikah nya bukanlah sebuah akad untuk menjadi pembantu atau pelayan.

 

Kerjasama Suami Istri dalam Rumah Tangga

Perlu sama-sama dipahami bahwa sebuah pernikahan adalah suatu mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu adanya hubungan atau pergaulan yang baik  antara suami istri dengan saling tolong menolong dan kerjasama di antara keduanya.

Diriwayatkan dari Al Aswad: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang biasanya diperbuat Rasulullah saw di rumahnya?’ Aisyah menjawab: ‘Beliau memberikan pelayanan kepaa keluarganya. Apabila tiba waktu shalat, beliaupun pergi menunaikan shalat.’” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain: “Beliau menjahit bajunya, memperbaiki sandalnya dan beraktifitas seperti halnya kalian dalam mengurus rumah tangga kalian masing-masing.”

Dalam hadits tersebut di atas, Rasulullah sebagai sebaik-baiknya manusia yang juga merupakan seorang suami, tetap melakukan hal-hal pengurusan rumah tangganya. Dengan pemahaman ini, membuat seorang istri dapat tetap berperan seperti apa yang ia mampu lakukan layaknya sebelum menikah. Perannya dalam menunaikan tugas ini tidak kemudian menjatuhkan harga dirinya atau membahayakan kesehatannya.

Bagi para suami, hendaknya memahami hakikat dari konsekuensi sebuah akad nikah. Ketika seorang laki-laki melakukan ijab kabul dengan menjabat tangan wali nikah perempuan, saat itu ia harus memahami bahwa pertautan antara tangannya dengan tangan wali perempuan merupakan suatu tanda pengalihan seluruh perwalian perempuan tersebut dari walinya, bisa; ayah, kakek, paman, atau saudara laki-laki sang perempuan kepada dirinya. Maka seorang suami tidak boleh secara paksa mencabut seluruh kebiasaan-kebiasaan dan perlakuan para wali seorang perempuan-yang kemudian menjadi istrinya- sebelum ia menikah.

Seorang suami tidak sepatutnya membebani istri dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Selain itu para suami juga harus memfasilitasi semua kemudahan sesuai kesanggupannya, sesuai dengan adat dan tradisi yang berlaku di masyarakatnya. Bila seorang istri tidak sanggup mengerjakan semua pekerjaan rumah tangganya, suami harus menyediakan seorang khadimat atau pembantu untuk membantu pekerjaan istrinya. Namun bila ia tidak mampu menyediakannya, maka ia harus mau membantu istri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.

Dalam hal ini, kedua belah pihak dapat saling berlomba-lomba dalam kebaikan, saling menolong untuk menyelesaikan segala perkerjaaan rumah, bukan justru saling melemparkan tugas dengan dalil hak dan kewajiban suami istri. Tanggung jawab seorang istri dalam mengatur urusan rumah tangga bukan berarti ia harus melakukannya seorang diri, menyiapkan makanan, menyediakan pakaian bersih untuk anggota keluarga, membersihkan rumah sehingga nyaman untuk ditinggali bersama, dan lain-lain. Tapi sejatinyanya tugas istri adalah memastikan semua hal tersebut dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Boleh saja ia lakukan hal tersebut seorang diri sebagai bentuk wujud cinta dan kasih sayangnya kepada seluruh anggota keluarga, dengan melayani dan mengurus keperluan suami serta anak-anaknya. Atau pekerjaan itu dapat didelegasikan kepada orang lain tanpa ada sedikitpun keinginan untuk berlepas diri dari tanggung jawabnya. Ia tetap mengawasi dan memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik.

Intinya, bahwa pelayanan seorang istri kepada suami dan keluarganya jangan sampai membuat ia merasa terbebani dan kewalahan dengan tugas-tugas tersebut yang mengakibatkan tidak adanya kesempatan untuk mengurus dirinya sendiri. Tidak dapat disamakan mengenai kekuatan seorang istri dalam memikul beban pekerjaaan rumah tangga  dari satu rumah tangga dengan rumah tangga lainnya.

Masing-masing suami istri lah yang harus mengetahui dengan pasti kondisi mereka. Harus ada kompromi yang sehat di antara mereka. Tidak boleh ada tekanan dan pemaksaan dalam membagi tugas dan tanggung jawab secara adil dan proporsional untuk keberlangsungan rumah tangga. Hal ini menjadi suatu yang wajib mereka lakukan, sehingga pernikahan itu menjadi sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan bagi semua anggota keluarganya.

 

Tujuan Pelayanan

Beban tugas mengurus rumah tangga yang dilimpahkan sepenuhnya kepada seorang istri dapat mengakibatkan kelelahan fisik dan jiwa, yang bisa membuat seorang istri menjadi sangat letih dan tidak bahagia bahkan bisa mengakibatkan kesakitan secara fisik dan kejiwaan. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaaan yang memiliki durasi waktu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tidak ada waktu liburnya, tidak ada cutinya. Maka sepatutnya lah seorang suami membantu atau menyediakan pembantu bagi istrinya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga tersebut.

Namun, perlu juga kita pahami bahwa dalam pelayanan seorang istri kepada suami bukan semata-mata bentuk yang nampak di luar, yaitu terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan suami. Sejatinya, di dalam pelayanan itu ada bentuk-bentuk tanda cinta dan kasih sayang seorang istri kepada suami.

Ketika seorang suami membutuhkan segelas teh hangat untuk menenangkan pikiran yang kusut selepas bekerja di kantor, mungkin ia dapat membuat sendiri minuman tersebut. Apalah susahnya membuat segelas teh hangat, seorang anak sekolah dasar pun mampu melakukannya. Tapi ketika hal itu dilakukan oleh seorang istri, ia membuatkan minuman lalu menyuguhkannya dengan lembut dan kemudian duduk di samping suami dan menemaninya menikmati hangatnya minuman tersebut. Sungguh dalam momen tersebut banyak sekali hal-hal psikis, seorang suami tidak hanya merasakan hangatnya teh yang melewati kerongkonganya, tapi juga merasakan hangatnya perlakuan istri terhadapnya. Hal ini dapat memberikan kekuatan bagi suami dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai imam keluarga.

Bandingkan dengan kondisi lain, seorang suami yang lelah sepulang kerja dan menginginkan segelas teh hangat untuk menghilangkan rasa dahaga dan penatnya, kemudian istrinya menyuruh pembantu untuk menyiapkan dan menyediakan minuman tersebut kepada suaminya.  Pembantunya segera melaksanakan perintah majikan perempuan, menyiapkan dan menyuguhkan minuman tersebut di hadapan majikan laki-lakinya.

Sekali, dua kali hal ini berlangsung, mungkin tidak menimbulkan suatu permasalahan. Tapi bila hal ini berlangsung terus menerus, setiap hari, setiap waktu saat suami pulang dari kantor. Dan pembantu yang sigap kemudian tanpa disuruh sudah menyiapkan itu semua sebelum majikan laki-lakinya datang. Lama kelamaan dapat mengakibatkan ketergantungan seorang suami kepada pembantunya. Bahkan ekstrimnya hal ini bisa mengakibatkan munculnya benih-benih perselingkuhan di antara mereka. Begitulah kejamnya perselingkuhan, terkadang muncul dari hal-hal yang sangat tidak diduga.

Maka, seorang istri harus pandai dalam mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Mampu memilih mana yang patut didelegasikan dan mana yang harus dilakukan sendiri. Ketika istri mendapat bantuan seorang pembantu untuk mengurus rumah tangganya, bukan berarti semua pekerjaaan rumah berupa pelayanan dan hal teknis lainnya dilimpahkan sepenuhnya kepada pembantunya. Selama hal-hal yang bersifat teknis, seperti mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, atau berbelanja ke pasar mungkin dapat didelegasikan kepada orang lain. Namun hal-hal yang bersifat pelayanan, baik kepada suami atau anak-anak, tetap harus dilakukan oleh seorang istri.

Memang, sebagian besar ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Abu Hanifah, berpendapat bahwa tidak adanya kewajiban bagi seorang istri untuk hanya melayani suaminya. Namun dalam suatu pernikahan tidak hanya berisi tentang pelayanan istri terhadap suami saja. Ada hal-hal lain yang lebih besar dari itu, bagaimana tercapainya tujuan dari suatu pernikahan. Yaitu bahwa keduanya dapat memperoleh kebahagiaan, cinta dan kasih sayang hingga rumah tangganya dapat berlabuh di tempat tujuan.

 

Sumber Rujukan :

Sheikh Abu Al Hamd Rabee’. Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman. LK3I. 2011