HomeKesehatanPemeriksaan Kesehatan Pranikah, Perlukah?
doctor

Pemeriksaan Kesehatan Pranikah, Perlukah?

Kesehatan 0 0 likes 436 views share

Sesungguhnyalah banyak di antara kita yang tidak sepenuhnya mengetahui status kesehatan kita sendiri secara detail. Inilah kondisi sebagian besar masyarakat, yang memang tidak melaksanakan general check up tahunan secara rutin. Mungkin seseorang terlihat sehat atau merasa sehat, padahal bisa saja sebenarnya ia adalah silent carrier atau pembawa dari beberapa penyakit infeksi dan hereditas.

Untuk itulah sebelum menikah, sangat direkomendasikan bagi calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan untuk melakukan Pre-Marital Screening atau Pre-Marital Check Up alias tes kesehatan pranikah. Periksa kesehatan pranikah dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa kedua calon mempelai secara medis dinyatakan sehat untuk menjalani dan melangsungkan pernikahannya, tidak hanya sehat fisik tapi juga sehat psikis.
Dalam kehidupan rumah tangga, ada konflik antara suami dan istri, bahkan bisa berujung pada perceraian, yang dipicu oleh masalah kesehatan, kesuburan dan keturunan. Dengan saling mengenal kondisi kesehatan masing-masing, masalah itu dapat diantisipasi dan dicegah sejak awal menikah. Premarital check up bukan bertujuan untuk membatalkan pernikahan bila ditemukan masalah, tetapi justru untuk dicarikan solusi yang tepat guna mencegah timbulnya masalah di kemudian hari.

Pre-Marital Screening atau Pre-Marital Check Up terdiri atas beberapa kelompok tes yang dirancang untuk mengidentifikasi adanya masalah kesehatan saat ini atau masalah kesehatan yang akan muncul di kemudian hari saat pasangan hamil dan memiliki anak. Rangkaian pemeriksaan kesehatan tersebut adalah sebagai berikut;

Pertama, pemeriksaan kesehatan secara umum

Pemeriksaan kesehatan umum ini terdiri dari :
1. Pemeriksaan fisik/klinis lengkap
2. Pemeriksaan darah rutin
3. Golongan darah dan rhesus
4. Urinalisis lengkap

Kedua, pemeriksaan penyakit hereditas
Yang dimaksud dengan penyakit hereditas adalah yang diturunkan dari orangtua. Calon pengantin harus memiliki pemahaman bahwa bila orangtua atau garis keturunannya mengidap penyakit genetik, maka anak yang akan lahir nanti bisa beresiko mengidap penyakit yang sama. Pemeriksaan ini meliputi:
1. Thalasemia
2. Hemofilia
3. Sickle Cell Disease

Ketiga, pemeriksaan penyakit menular
1. HIV, Hepatitis B (HBV) dan Hepatitis C (HCV)
2. TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex Virus)
3. Venereal Disease Screen (pemeriksaan untuk penyakit syphilis) dan IMS

Keempat, pemeriksaan yang berhubungan dengan organ reproduksi dan kesuburan
1. Untuk perempuan
Pemeriksaan untuk perempuan meliputi USG, agar diketahui kondisi rahim, saluran telur dan indung telur. Pemeriksaan lebih lanjut seperti HSG (Hysterosalpingogram) untuk mengetahui kondisi tuba falopii dan adakah sumbatan akibat kista, polip endometrium, tumor fibroid, dan lain-lain. Pemeriksaan selanjutnya diperlukan untuk perempuan yang siklus haidnya tidak teratur atau sebaliknya berlebihan. Hormon yang diperiksa misalnya hormon FSH (follicle stimulating hormone), LH (lutenizing hormone) dan Estradiol (hormone estrogen).
2. Untuk laki-laki
Selain dilakukan pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan penis, skrotum, prostat juga dilakukan pemeriksaan hormon FSH yang berperan dalam proses pembentukan sperma serta kadar hormon testosteron. Dapat dilakukan juga analisis semen dan sperma.

Kelima, pemeriksaan tambahan
1. Alergi
2. Vaksinasi Dewasa

Keenam, pemeriksaan kesehatan untuk ibu dan calon ibu
1. Pemeriksaan periodontal
2. Pemeriksaan thyroid stimulating hormone (TSH)
3. Pemeriksaan hitung darah lengkap (complete blood count/CBC)
4. Pap smear
5. Pemeriksaan kepadatan mineral tulang

Enam Bulan Sebelum Menikah

Kapan harus melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah? Pada dasarnya premarital medical check up dapat dilakukan kapanpun, namun waktu yang tepat adalah enam bulan sebelum hari pernikahan. Sangat baik jika kedua calon mempelai dapat mengetahui kondisi kesehatan masingmasing, jauh hari sebelum menikah.
Sekali lagi, hal ini tidak untuk membatalkan pernikahan, namun untuk mendapatkan pertolongan medis guna mengatasi masalah kesehatan yang dialami oleh calon pengantin, sekaligus mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Semua demi kebaikan dan kebahagiaan hidup berumah tangga.