HomeKisah InspiratifPenghuni Penjara “Jaman Now”
lapas sukamiskin

Penghuni Penjara “Jaman Now”

Kisah Inspiratif 0 0 likes 918 views share

Nasihat Dari Dalam Penjara, Bagi Mereka yang di Luar Penjara

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Sebenarnya apakah pembeda antara orang yang di dalam penjara dengan orang yang di luar penjara? Apakah orang yang di luar penjara lebih mulia dan terhormat daripada mereka yang di dalam penjara? Apakah mereka yang di luar penjara lebih bahagia daripada mereka yang di dalam penjara? Jika ada di antara anda yang memiliki pemikiran demikian, hendaknya segera menyadari kesalahannya. Buku “Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin” (SCLS) ini akan mengoreksi dan meluruskannya.

Perasaan dan pikiran saya teraduk-aduk tidak terkira ketika membaca lembar demi lembar buku ini. Sangat jarang saya membaca buku dengan demikian jenak dan tidak ada bagian yang saya lewatkan. Biasanya saya membaca buku memilih bagian tertentu yang saya perlukan. Namun SCLS membuat saya membaca semua bagiannya tanpa terkecuali, dari awal hingga akhir, bahkan mengulang lagi untuk mengkhatamkannya. Buku ini benar-benar menasehati siapapun kita, apalagi yang merasa telah memahami hakikat kehidupan.

Tapi untuk mengetahui sesuatu, kita tidak harus menggapainya sendiri dari nol. Sebab kita bisa menggunakan pengetahuan dan keyakinan orang lain untuk kita berada pada pengetahuan dan keyakinan yang sama. Ada hakikat yang Allah tunjukkan lewat hamba-hambaNya, ada fenomena pengabulan doa yang tidak disangka oleh hamba, ada percikan cinta yang Allah berikan di dalam penjara, ada perenungan mendalam yeng menimbulkan energi potensial luar biasa besarnya.

Apa Isi Buku Ini?

SCLS ini adalah buku ketiga yang merupakan karya kolektif dari para penghuni Lapas Sukamiskin Bandung, yang dibesut oleh Didit Abdul Majid. Penghuni Lapas, disebut sebagai warga binaan, disingkat dengan Warna. Jaman dulu disebut sebagai narapidana, disingkat Napi. Adakah bedanya Warna jaman now, dengan napi jaman kiwari? Ternyata sangat jauh berbeda, apalagi untuk Lapas Sukamiskin Bandung.

Di dalam lapas yang satu ini, ada komunitas Suka Qur’an, yaitu para warna yang menghabiskan hari dengan berakrab-akrab denganAl Qur’an. Dari sinilah buku ini hadir. Memberitahukan kepada masyarakat di luar tembok penjara, apa yang tengah terjadi di dalam sana. Saya menyebut dengan banyak situasi : cinta, kontemplasi, evaluasi, pendewasaan, jati diri, kembali, fitrah, semangat, spirit, motivasi, dan semua nilai-nilai kebaikan. Semua itu tumbuh seiring dengan merebaknya nilai Al Qur’an dalam jiwa para Warna. Subhanallah.

Banyak pejabat penting tengah digodog di dalam Lapas Sukamiskin yang  kini hari-hari tak ubahnya seperti suasana Pesantren Tahfizh Al Qur’an. Mereka yang dipenjara dengan berbagai sebab, alasan, kepentingan —-dan atau bahkan juga tanpa sebab, alasan dan kepentingan. Apapun itu, intinya : mereka sudah berada di dalam penjara. Mereka sudah mendekam di Lapas. Dengan atau tanpa sebab, dengan atau tanpa alasan, dengan atau tanpa kepentingan. Mereka telah berada dalam puncak kesadaran : harus ada perbaikan. Dan mereka telah melakukannya. Kita? Entahlah.

Para warna di Lapas Sukamiskin setiap hari melakukan pembelajaran Al Qur’an, sejak dari belajar membaca bagi yang belum bisa. Melancarkan bacaan bagi yang belum lancar. Memperbagus tilawah bagi yang belum bagus. Hingga menghafalkan Al Qur’an bagi yang sudah bagus bacaannya. Subhanallah. Mereka berkelompok-kelompok, melingkar, menikmati Al Qur’an, membiarkan jiwa dan pikiran mereka teraliri oleh kesejukan dan kekuatan Al Qur’an yang maha dahsyat. Membiarkan diri mereka dilindungi dan dibentengi oleh spirit Al Qur’an yang membuat mereka merasakan dan menemukan kebermaknaan.

“Apa yang dilakukan kawan-kawan selama berada di Lapas Sukamiskin Bandung dengan terus berusaha mendekat kepada Al Qur’an, bukan untuk pencitraanatau apapun. Itu adalah keputusan jiwa setelah pencarian panjang atas jati dirinya. Juga bukan untuk dipublikasikan, bukan !! Sebab yang mereka –para warna—lakukan hanyalah mendokumentasikan obrolan jiwa senyap yang menemukan semaraknya kala bersapuh dengan Al Qur’an. Tapi kenapa kok didokumentasikan, kok diterbitkan, kok dikabarkan kemana-mana?”

“Kalau semisal kami yang saat ini mesti sejenak berada di Lapas Sukamiskin Bandung diasosiasikan sebagai ‘nun mati’, maka jangan sampai kami dipertemukan dengan huruf ‘idgham’, yang artinya  keberadaan kami tak dianggap. Izinkan kami untuk menjadi ‘nun mati’ yang bersua dengan huruf ‘idzhar’, yang mesti dibaca dengan jelas, pun dengan presisi keberadaan kami, agar jelas ter’baca’nya”. (SCLS, 33-34).

Kebenaran Itu Sepi dan Tenang

“Ya sudahlah, diterima saja, dimaafkan saja. Bumi akan terus berputar. Pun juga dengan benar dan salah, akan terus diputar. Hingga akan sampai pada yang sebenarnya. Kebenaran itu sepi dan tenang, tidak ramai apalagi gaduh” (SCLS, 251).

“Dari dulu anak saya ini paling bandel kalau disuruh belajar Al Qur’an. Tapi, ibu bersyukur Allah mengabulkan doa ibu, agar Pak Gen belajar Al Qur’an dengan sungguh-sungguh, walau di tempat ini”, demikian ucapan ibunda Pak Gen saat menjenguk Pak Gen di Lapas Sukamiskin (SCLS, 222). Kini Pak Gen — H. Ruslan Abdul Gani, mantan Bupati Bener Meriah, Aceh— sangat tekun belajar Al Qur’an di Lapas Sukamiskin.

“Kalau aku menang dan dilantik lagi menjadi pejabat, maka aku bersumpah akan belajar Al Qur’an dari nol hingga bisa”, ini nadzar H. Budi Antoni Aljufri (HBA) saat ikut Pilkada kabupaten Empat Lawang (SCLS, 207). Sayang setelah menjabat Bupati Empat Lawang, HBA sangat sibuk, hingga tidak sempat memenuhi nadzarnya. Lapas Sukamiskin telah mewujudkan nadzarnya. Kini ia tekun belajar Al Qur’an.

“Awalnya saya membayangkan, jika masuk penjara nama baik pasti akan hancur, reputasi akan rusak, dan masih banyak lagi hal-hal negatif yang menyelimuti pikiran dan perasaan saya. Tapi saya sungguh terkejut. Di sini, saya menemukan situasi dan atmosfer keberagamaan yang bertahun-tahun saya rindukan. Tidak ada orang yang pernah mau berada di penjara tetapi di balik itu, semua ada hikmah yang saya dapatkan di tempat ini. Bisa lebih dekat denganNya, bisa menikmati ibadah dengan tenang. Mungkin terlalu berlebihan kalau saya sebut situasi di sini bagai di Masjidil Haram. Tapi, demikianlah yang saya rasakan” (SCLS, 156).

“Nggak nyangka sama sekali akhirnya saya bisa juga baca Al Qur’an. Saya pikir kalau saya tidak transit di penjara ini saya tidak akan bisa membaca Al Qur’an selamanya” (SCLS, 261).

“Setelah saya mendapat informasi tentang kegiatan Qur’an di Sukamiskin Bandung, saya benar-benar tidak sabar ingin ke sana. Saya minta tolong keluarga saya ke Sukamiskin untuk memastikannya… Tahu ndak, gara-gara pingin belajar Qur’an di Sukamiskin ini, saya tidak mikirin lagi urusan sidang saya. Yang ada di benak pikiran saya hanya satu, segera ke Sukamiskin dan ikut belajar Qur’an, titik” (SCLS, 275 – 276).

“Begitu saya diputus oleh pengadilan, saya langsung berdiri dan tidak menunggu pendapat pengacara saya, saya langsung menyatakan menerima. Ini semua semata-mata karena katena saya sudah tidak mampu menghalau diri saya sendiri untuk segera belajar Al Qur’an” (SCLS, 276).

“Kalau kamu tahu masa lalu saya; dan jika saat itu ajal menjemput saya, masyaallah, ngeri sekali. Sekarang di penjara ini, apa yang puluhan tahun saya cari mulai ada titik terangnya. Gelap ini justru menjanjikan terang dalam hidup saya” (SCLS, 277).

Tidak Perlu Menunggu Dipenjara untuk Belajar Al Qur’an

Bisakah kita simpulkan, bahwa terkadang Al Qur’an memaksa orang untuk akrab dengan dirinya, dengan caranya sendiri? Wallahu a’lam. Namun tentu saja kita semua tidak perlu menunggu untuk dipenjara agar bisa belajar dan akrab dengan Al Qur’an. Mumpung kita bebas merdeka, mari belajar dan akrab dengan Al Qur’an.

 

 

 

 

Didit Abdul Majid (ed.), Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin : Bahagia Bersama Al Qur’an, Sygma Creative Media, Bandung, 2017