HomePranikahPerempuan Boleh Menawarkan Diri Kepada Laki-laki untuk Dinikahi
ilustrasi : www.pinterest.com

Perempuan Boleh Menawarkan Diri Kepada Laki-laki untuk Dinikahi

Pranikah 0 0 likes 79 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Dalam sebuah proses menuju pernikahan, apakah posisi perempuan harus pasif, diam saja menunggu lelaki salih yang datang melamar dirinya? Bolehkah perempuan aktif menawarkan diri kepada laki-laki? Bolehkah perempuan meminang laki-laki?

Pada dasarnya, perempuan boleh menawarkan diri langsung kepada lelaki yang dimaksud, sebagaimana riwayat berikut. Dari Tsabit Al-Bunani, ia menceritakan bahwa Anas bin Malik bercerita: Ada seorang perempuan menghadap Rasulullah Saw menawarkan dirinya untuk Nabi Saw. Dia mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah anda ingin menikahiku?”

Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar, “Betapa dia tidak tahu malu. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas membalas komentarnya, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi Saw, dan menawarkan dirinya untuk Nabi Saw”. HR. Bukhari nomer 5120.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat dari Sahl bin Sa’d. Ada seorang perempuan menghadap Nabi Saw dan menawarkan dirinya. “Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar anda nikahi.”

Setelah Nabi Saw memperhatikannya, beliau tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga wanita ini duduk menunggu. Kemudian datang seorang sahabat, “Ya Rasulullah, jika anda tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.” HR. Bukhari nomer 5030.

Dalam kitab Fathul Bari disebutkan,  ada banyak perempuan yang minta dinikahi oleh Nabi Saw. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan perempuan lainnya yang menawarkan diri untuk Nabi Saw, diantaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits.

Apabila merasa malu untuk langsung menyampaikan kepada laki-laki, bisa juga perempuan melamar laki-laki melalui perantara orang lain yang dipercaya, misalnya melalui ayah, ibu, keluarga, teman, guru ngaji, biro jodoh, dan lain sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khatab Ra, ketika putrinya Hafshah selesai masa iddah karena ditinggal mati suaminya. Umar menawarkan Hafshah ke Utsman, kemudian ke Abu Bakar.

Umar mengatakan, “Kemudian aku menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman”. HR. Bukhari nomer 5122 & An Nasa-i nomer 3272.

Hal ini juga dilakukan oleh bunda Khadijah Ra. Dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum dijelaskan, bunda Khadijah melamar pemuda Muhammad sebelum menjadi Nabi melalui perantara temannya, Nafisah binti Maniyah. Kemudian disetujui semua paman-pamannya dan juga paman Khadijah. Pada saat akad nikah, dihadiri oleh Bani Hasyim dan pembesar Bani Mudhar, dan ini terjadi dua bulan sepulang Nabi Saw dari Syam untuk berdagang barang milik Khadijah.