HomePernikahanPerempuan Seperti Kaca, Maka Jangan Engkau Kasari Mereka
www.pinterest.com

Perempuan Seperti Kaca, Maka Jangan Engkau Kasari Mereka

Pernikahan 0 0 likes 1.4K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Sudah menjadi pengertian bersama, bahwa perempuan adalah makhluk yang sangat halus dan lembut perasaannya. Mereka mudah tersakiti hatinya oleh kata-kata dan tindakan yang keras serta kasar. “Tidak berperasaan”, demikian biasanya para istri mengeluhkan kekasaran sikap suami mereka. Namun mereka juga mudah bahagia oleh kata-kata dan tindakan yang lembut serta halus, yang mengena pada perasaan mereka.

Terhadap kelembutan hati dan perasaan kaum perempuan ini, Nabi Saw sangat mengerti, memahami dan bahkan merawatnya. Beliau Saw menasehati para suami agar selalu menjaga hati dan perasaan istri. Jangan berlaku keras dan kasar, karena itu akan “memecahkan gelas kaca yang rawan”. Jika kaca retak apalagi pecah, akan sangat sulit untuk kembali menjadikannya utuh seperti sedia kala. Maka bersikap lembut dan sabar adalah tuntutan sikap bagi setiap suami agar bisa membahagiakan istri.

Nabi Saw bersabda, “Irfaq bil qawarir, bersikap lembutlah kepada kaca-kaca”. Hadits Riwayat Imam Bukhari V/2294 no 5856, Imam Muslim IV/1811 no 2323, An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra VI/135 no 10326.

Apa yang dimaksud dengan qawarir atau kaca-kaca dalam hadits tersebut? Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menjelaskan, “Al-Qawarir adalah bentuk jamak dari kata tunggal qarurah yang artinya kaca…. Perempuan disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridha menjadi tidak ridha, dan tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran) sebagaimana dengan kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan”.

Syaikh Ibnu Utsaimin memiliki penjelasan yang sangat menarik tentang hadits ini, mengapa perempuan disebut sebagai qawarir. “Sebuah kata yang engkau ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang engkau ucapkan bisa menjadikannya dekat hingga tepat di sisimu”. Lihat : Asy-Syarhul Mumti’ XII/385.

Maka pandai-pandailah merawat hati dan perasaan istri. Jangan dikasari, jangan dibentak, jangan diejek, jangan dicemooh, jangan dilecehkan, jangan dibandingkan, jangan dimarahi, jangan dipukul, jangan disakiti, jangan ditinggalkan, jangan diabaikan, jangan ditelantarkan, jangan dilukai, jangan dijelek-jelekkan. Berlaku lembutlah sebagaimana telah diperintahkan oleh Nabi Saw. Berlaku lembutlah sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

 

 

 

Sumber Bacaan:

Istifadah ilmu dari Al Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja dalam web beliau www.firanda.com