HomePernikahanPesta Pernikahan dan Malam Pengantin
ilustrasi : www.pinterest.com

Pesta Pernikahan dan Malam Pengantin

Pernikahan Pranikah 0 0 likes 693 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Walimatul ‘ursy atau biasa disebut walimah adalah pesta pernikahan yang disunahkan sebagai pemberitaan kepada khalayak dan ungkapan syukur atas terjadinya pernikahan yang prosesnya cukup panjang. Walimah harus menampakkan syiar kebaikan, sehingga ada nilai ibadah, dakwah, dan sosial yang terhimpun di dalamnya. Sebagian ulama bahkan menghukuminya sebagai wajib, bukan saja sunah.

Secara bahasa, walimah berarti sempurnanya dan berkumpulnya sesuatu, sedangkan arti walimah menurut syara’ adalah suatu sebutan untuk hidangan makanan pada saat pernikahan. Ibnu Al-Arabi berkata, “Dikatakan aulama ar-rajulu tatkala telah menyatu antara akal pikiran dengan tingkah lakunya, dan dikatakan pada ikatan (walam) karena menyatukan sebelah kaki dengan kaki yang lain, kemudian nama walimah berubah menjadi sebutan khusus untuk hidangan makanan saat nikah, dan tidak bisa diartikan pada hidangan selain pesta pernikahan.”

Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Walimah adalah suatu perkara yang haq dan sunah. Barangsiapa yang diundang untuk menghadiri walimah, lalu ia tidak memenuhi undangan itu maka ia telah melakukan perbuatan dosa” (HR. Thabrani).

Ibnu Bathal menjelaskan, “Sabda Nabi Saw. yang berbunyi ‘walimah adalah suatu perkara yang haq’ menunjukkan bukan sesuatu yang batil, melainkan sunah dan utama, dan bukan sesuatu yang wajib.” Sebagaimana juga pendapat Ibnu Qudamah, “Hukum walimah secara mutlak tidak wajib.”

Dalam proses walimah, ada contoh dari Nabi Saw, bahwa beliau mengundang tamu dan menjamu dengan hidangan makan. Anas r.a. menceritakan, “Rasulullah Saw. telah masuk pengantin dan memerintahkan saya untuk mengundang orang makan-makan dalam pesta perkawinan itu” (HR. Bukhari, Baihaqi, dan lain-lain).

Sebagian riwayat menunjukkan beliau Saw. melaksanakan pesta walimah selama tiga hari. Dari Anas r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. telah menikah dengan Shafiyah dengan mahar pembebasannya (sebagai tawanan Perang Khaibar) dan mengadakan upacara pesta perkawinan selama tiga hari” (Dibawakan oleh Abu Yu’la dalam Sahih Bukhari).

Mengenai waktu dilaksanakannya walimah, para ulama berbeda pendapat. Imam An-Nawawi dalam Nailul Authar menjelaskan, “Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Al-Qadhi Iyadh meriwayatkan bahwa  yang paling benar adalah pendapat Imam Malik bahwa disunahkan walimah ketika kedua pengantin sudah bercampur. Sementara, ulama yang lain berpendapat bahwa walimah dilaksanakan pada saat akad nikah, dan menurut Ibnu Jundub walimah dilaksanakan pada saat akad nikah dan setelah bercampur”.

Dengan demikian, ada rentang pelaksanaan walimah dalam pandangan para ulama, yaitu pada saat akad nikah, atau setelah akad nikah ketika pengantin sudah bercampur. Keduanya bisa diterima, dan kita bisa memilih pendapat yang paling memungkinkan dengan situasi dan kondisi.

Yang Dilakukan Pengantin setelah Walimah

Seusai acara akad nikah dan walimah tersebut, hendaknya pengantin laki-laki dan perempuan masuk ke kamar pengantin berdua saja. Inilah yang disebut dengan khalwah, yaitu ‘berkumpulnya istri dan suami setelah akad nikah yang sah, di suatu tempat yang memungkinkan bagi keduanya untuk bermesraan secara leluasa, dan keduanya merasa aman atau terjamin dari datangnya seseorang kepada mereka berdua. Pada mereka berdua tidak ada sesuatu penghalang yang bersifat alami, atau jasmani, atau syar’i, yang dapat mengganggu mereka berdua dalam bermesraan atau bercumbu (Wahb Az-Zuahili dalam Fiqhul Islam wa Adillatuhu).

Jika pengantin perempuan sudah mendahului berada di kamar, pihak laki-laki mengetuk pintu perlahan-lahan sembari mengucapkan salam yang lembut bagi istrinya yang telah menunggu di dalam. Segera suami masuk ke dalam kamar dan melakukan hal-hal berikut ini.

1.Mendoakan Istri

Di antara Sunah kenabian adalah doa suami untuk istri ketika bertemu setelah akad nikah dan walimah. Caranya adalah dengan meletakkan tangan kanan suami ke bagian kening istri (tempat tumbuhnya rambut), sembari mengucapkan doa. Rasulullah Saw. bersabda:

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا (وَلْيُسَمِّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ) وَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.

“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan:

Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a’udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” (HR. Abu Daud, no. 2160; Ibnu Majah, no. 1918. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

2.Shalat Sunah Berdua

Suami dan istri hendaknya melaksanakan shalat berjamaah dua rakaat dengan suami sebagai imam. Hal ini untuk membuat awalan yang baik dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id, budak Abi Asid, ia berkata, “Saya menikah padahal posisi saya waktu itu masih sebagai budak. Saya mengundang beberapa sahabat Rasul Saw., antara lain Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Shalat hendak dimulai dengan bacaan iqamah. Abu Dzar bangkit dan maju ke depan untuk mengimami. Para hadirin menyuruh saya untuk maju, ‘Engkau saja.’ Saya bertanya kepada mereka, apakah saya pantas menjadi imam? Serentak mereka menjawab, ‘Ya.’ Saya kemudian maju ke depan menjadi imam, padahal saya masih menjadi budak. Mereka mengajarkan kepada saya, ‘Kalau engkau masuk menemui istrimu, shalatlah bersama dua rakaat, kemudian mohonlah kepada Allah agar dianugerahi kebajikan dan dilindungi dari kejahatan. Sesudah itu terserah engkau dan istrimu.’”

Diriwayatkan oleh Syaqiq bahwa telah datang seorang laki-laki bernama Abu Jarir, lalu berkata, “Saya telah menikahi seorang wanita muda (perawan) dan saya khawatir ia akan membangkitkan marah saya.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datangnya dari setan. Ia ingin engkau membenci apa yang dihalalkan Allah kepadamu. Kalau istrimu masuk menemuimu, ajaklah ia shalat dua rakaat di belakangmu.”

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud, ada tambahan, “Ucapkanlah doa, ‘Ya Allah, berilah keberkahan kepadaku dengan istriku dan berikan keberkahan kepada mereka (keluarga istri) dengan aku. Ya Allah, persatukanlah kami berdua selama persatuan itu mengandung kebajikan-Mu dan pisahkanlah kami berdua jika perpisahan itu menuju kebaikan-Mu.’” (Dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaiban)

Inilah shalat sunah yang dilaksanakan pertama kali secara bersama-sama oleh suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga. Awal yang amat indah untuk menempuh perjalanan kehidupan keluarga yang berkelanjutan; tidak diawali oleh kemaksiatan sebelum akad nikah, tetapi dimulai dengan doa dan shalat sunah setelah selesai akad nikah.

3.Hubungan Suami Istri

Hubungan seksual antara suami dan istri tidak mesti dilakukan pada saat pertemuan pertama tersebut, bisa dilakukan pada waktu-waktu setelahnya kapan saja yang memungkinkan. Pada prinsipnya, hubungan suami istri dilakukan ketika sudah ada kesiapan penuh dari kedua belah pihak. Apabila istri masih ada perasaan takut, cemas, dan khawatir, karena belum terbangun suasana yang enak di antara keduanya, sebaiknya hubungan suami istri ditunda sampai ada suasana yang kondusif.

Apabila suasana mental kedua belah telah siap, keduanya bisa meningkatkan kedekatan secara lebih intim, disertai dengan cumbu rayu sebagai sebuah pengantar untuk melakukan hubungan suami istri. Itulah fasilitas yang Allah berikan kepada suami dan istri bahwa mereka berdua bisa saling menikmati keindahan-keindahan ciptaan Allah dari diri pasangannya. Allah Swt. telah berfirman,

“Istri-istri kalian itu seperti sawah ladang kalian maka datangilah ladang kalian itu dari arah mana pun yang kalian suka” (Al-Baqarah: 223).

Ayat ini menunjukkan kebebasan dalam bersenang-senang antara suami dan istri sehingga mereka berdua bisa mengekspresikan kegembiraan secara optimal. Islam menghendaki hubungan suami istri adalah bagian yang utuh dari ibadah, sehingga diperlukan sejumlah etika di dalam menunaikannya. Di antaranya adalah dengan doa yang dibaca oleh suami dan istri sebelum mereka melakukan hubungan.

Apabila hendak melakukan hubungan suami istri, hendaklah membaca doa berikut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ فَقَالَ بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: “Bismillah Allahumma jannibnasy syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana. Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari, no. 6388; Muslim, no. 1434).

Demikianlah beberapa tuntunan syari’at bagi pengantin, setelah akad nikah dan walimah.