HomePernikahanPilih Mana : Istri Biologis, Istri Psikologis atau Istri Ideologis?
pak cah dan bu ida

Pilih Mana : Istri Biologis, Istri Psikologis atau Istri Ideologis?

Pernikahan 0 6 likes 3.1K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Kehidupan setelah pernikahan dan berumah tangga sangat dinamis dan selalu penuh dengan aneka warna maupun aneka rasa. Bukan hanya karena tergantung siapa yang menjalaninya, namun juga karena terdapat sangat banyak tujuan yang berbeda-beda dalam pernikahan dan berumah tangga. Di antara tujuan menikah adalah untuk menyalurkan fitrah kemanusiaan berupa syahwat, ini menyangkut sisi biologis. Menikah juga bermaksud mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup, ini sisi psikologis. Menikah juga bertujuan untuk mencapai visi besar dalam syariat dan dakwah Islam, ini sisi ideologis.

Untuk merealisasikan berbagai tujuan tersebut, suami dan istri saling berkolaborasi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berdua menjalankan peran, hak dan kewajiban sesuai fitrah masing-masing, dan sesuai pembagian yang telah mereka sepakati. Ada sisi feminin pada diri para istri yang tidak boleh hilang, ada pula sisi maskulin pada diri suami yang tidak boleh hilang. Karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan, sehingga mereka bisa saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menikmati satu dengan yang lainnya.

Saat Sisi-sisi Harus Saling Terpisah

Kita sering mendengar istilah ‘anak biologis’ dan ‘anak  ideologis’; sebuah dikhotomi untuk menggambarkan kondisi anak yang berbeda.  Ada anak —yang disebut sebagai anak—  karena dilahirkan dari suatu pernikahan. Inilah anak biologis. Ada pula anak yang berhasil dididik dan dicetak menjadi shalih dan shalihah sebagaimana harapan orang tua. Ini anak ideologis. Yang diinginkan adalah tidak ada dikhotomi. Pada saat yang sama, dia adalah anak biologis sekaligus anak ideologis.

Bagaimana jika ternyata keterpisahan ini juga terjadi pada suami dan istri?  Saat berbagai sisi yang harusnya bisa dijaga bersama, namun terpaksa mengalami keterpisahan. Ada istri biologis, ada istri psikologis, dan ada istri ideologis. Istri biologis adalah istri yang ‘hanya’ berfungsi untuk menyalurkan kesenangan syahwat semata-mata. Istri yang pandai memuaskan suami untuk melampiaskan semua hasrat seksualitasnya. Istri psikologis adalah istri yang mampu menenangkan, menenteramkan, membahagiakan bahkan membanggakan suami. Sedangkan istri ideologis adalah istri yang berkolaborasi secara ideologis untuk merealisasikan misi dakwah dalam hidup berumah tangga.

Ada pula suami biologis, ada suami psikologis, dan ada suami ideologis. Suami biologis adalah tipe pejantan, yang sangat perkasa untuk urusan ranjang. Sangat pandai memuaskan sang istri dalam menyalurkan hasrat seksualitasnya. Suami psikologis adalah tipe suami romantis yang berlaku lembut, penuh pengertian, sabar dan menghargai istri. Suami yang mampu memberikan ketenangan, keteduhan dan kedamaian pada istri. Sedangkan suami ideologis adalah tipe suami yang mengajak serta mengarahkan istri untuk melaksanakan tugas-tugas dakwah dalam hidup berumah tangga.

Bagaimana seharusnya suami dan istri bersikap agar tidak terjadi keterpisahan seperti ini? Bahwa satu istri telah bisa memenuhi semua fungsi, dan satu suami yang telah bisa memenuhi semua fungsi.

Kasus 1 : Ingin Istri Ideologis

Seorang suami menceritakan kegelisahannya tentang sang istri yang sangat malas beribadah dan suka berfoya-foya. Walaupun sudah selalu diingatkan dan dinasehati, namun sang istri belum bisa genap melakukan sholat wajib lima kali sehari. Masih banyak sholat yang bolong tidak dikerjakan. Puasa Ramadhan juga banyak bolong tanpa alasan yang jelas. Pada saat yang sama, sang istri masih senang ‘keluyuran’ untuk foya-foya di berbagai tempat, dan senang berkomunitas dengan orang-orang yang hobi dugem.

Yang ia inginkan, sang istri menjadi wanita salihah yang rajin ibadah dan pandai mendidik anak. Ia sangat khawatir anak-anaknya kelak akan meniru sifat dan perilaku ibunya yang jauh dari agama. Semakin lama anak-anak bertambah besar dan makin mengerti apa yang dilakukan sang ibu. Ia merasa gagal mendidik sang istri, namun tetap ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga demi membersamai anak-anak mereka. Berbagai upaya telah ia lakukan untuk mengajak sang istri bertaubat dari keburukan dan berubah menjadi wanita salihah.

“Istri saya sangat pandai menyenangkan suami di tempat tidur. Namun ia hanya istri biologis, yang pandai menyenangkan kebutuhan biologis suami saja. Ia bukanlah tipe istri salihah yang taat beribadah dan dekat dengan ajaran agama. Saya ingin dia bukan saja menjadi istri biologis”, ujarnya.

Rupanya sang suami memiliki kesadaran beragama yang lebih baik dan lebih maju dari sang istri. Memang dulu mereka bertemu pertama kali di tempat dugem, namun seiring perjalanan waktu sang suami menjadi lebih salih dan serius belajar agama. Sementara istrinya belum memiliki kesadaran yang sama dan masih berperilaku sebagaimana sebelum menikah. Ini yang membuat dirinya gelisah, karena tidak ingin anak-anak mengikuti jejak mereka saat masih jahiliyah.

Kasus  2 : Ingin Istri Biologis

Di tempat yang lain, seorang suami mengeluhkan tentang kondisi istrinya. Sang istri adalah perempuan salihah sekaligus aktivis dakwah, yang waktunya habis untuk mengurus berbagai macam kegiatan dakwah. Sejak pagi sudah ada kegiatan dakwah, hingga malam pun masih disibukkan dengan aneka urusan dakwah. Hari Sabtu dan Ahad yang semestinya menjadi waktu bersama keluarga, ternyata tetap tersita semua untuk kegiatan dakwah. Tentu sang istri merasa lelah, dan dampaknya tidak bisa optimal untuk mengurus suami serta anak-anak.

Ia ingin istrinya menjadi istri ‘normal’, yang bisa diajak bersenang-senang, berjalan-jalan, menikmati hidup bersama keluarga, dan pandai membahagiakan serta memuaskan suami. Sayang, harapan tinggal harapan. Malam Minggu yang diharapkan romantis, menikmati kesenangan bersama istri tercinta, ternyata justru sering ditinggal untuk acara dakwah. Ia harus rela dan bersabar bermalam Minggu tanpa istri, bahkan ditambah harus mengurus anak-anak. Awalnya ia merasa bisa memaklumi, semakin lama ternyata menjadi banyak kecewa.

“Saya laki-laki normal. Saya ingin memiliki istri yang juga normal. Yang bisa diajak bersenang-senang, yang bisa memuaskan suami. Istri saya itu terlalu ideologis”, ujarnya.

Sebenarnya sejak awal menikah, dirinya sudah tahu kondisi sang istri yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Namun ia tidak menyangka bahwa aktivitas dakwah yang dilakukan sang istri sedemikian padat dan menguras banyak waktu serta tenaga. Sering tidak bisa menemani anak-anak, sering piula tidak bisa membersamai suami di saat sedang senggang. Pada saat suasana libur sekalipun, tidak ada libur bagi dakwah yang dilakukan sang istri.

Kasus 3 : Ingin Istri Psikologis

Seorang suami menuturkan kondisi sang istri yang sangat jauh dari harapan. Hampir sepuluh tahun menikah namun tidak bisa mendapatkan ketenangan dari sang istri. Hidupnya justru diwarnai oleh kecemasan dan kegelisahan. Yang sangat membuat tidak nyaman adalah sifat dan sikap istri yang sangat terbuka dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan laki-laki lain. Sang istri selain berwajah cantik, juga memiliki pribadi yang sangat supel, pandai bergaul dengan siapa saja. Dampaknya ia memiliki banyak teman dekat, bahkan fans, dari kalangan laki-laki.

Masih banyak laki-laki yang berusaha mendekati sang istri dengan berbagai macam cara. Yang membuatnya menjadi tidak nyaman, karena melihat sikap istri yang tidak berusaha menghindar atau menutup. Menurutnya, sang istri bahkan memberikan peluang bagi banyak laki-laki untuk memiliki harapan kepada dia. Sudah sering ia mengingatkan dan menasehati istri, namun ia merasa tidak banyak perubahan pada sikap sang istri.

“Bagaimana saya bisa tenang, sedangkan istri saya tampak tidak bisa menjaga diri dalam berinteraksi dengan laki-laki. Saya khawatir ia tergelincir ke perbuatan selingkuh, karena banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya”, ujarnya.

Kekhawatiran sang suami tentu tidak berlebihan. Wajar jika ia menjadi khawatir, karena ia melihat sendiri bagaimana sikap sang istri dalam berinteraksi dengan laki-laki. Kondisi ini membuatnya tidak bisa tenang, hidupnya selalu gelisah dan tidak bisa konsentrasi. Satu sisi ia sangat mencintai sang istri, namun sisi lain ia tidak nyaman dengan sikap dan perbuatannya. Ia ingin hidup tenang, tidak terganggu oleh banyaknya laki-laki yang mendekati sang istri. Ia ingin istri yang bisa menenangkan dan menenteramkan dirinya.

Kasus  4 : Ingin Suami Ideologis

Seorang istri menangis di ruang konseling. Ia menceritakan kondisi suaminya yang masih suka berjudi dan mabuk-mabukan. Padahal sekarang sudah punya dua anak, namun kebiasaan buruk yang dimiliki sejak belum menikah itu tidak berubah. Sang suami sangat malas melaksanakan ibadah, sholatnya lebih sering bolong, komunitasnya lebih banyak dari kalangan orang-orang yang suka berjudi dan mabuk. Sudah berbagai macam cara dilakukan istri untuk mengingatkan dan menasehati suami, namun belum menunjukkan hasil perubahan yang signifikan.

Memang secara materi sangat tercukupi. Namun hal itu tidak cukup membuat bahagia sang istri. Bahkan kadang merasa khawatir serta was-was, jangan-jangan nafkah yang diberikan suami dari hasil berjudi. Ia tidak ingin memakan uang haram. Ia juga sangat khawatir anaknya akan meniru perbuatan sang ayah. Yang ia inginkan adalah, sang suami segera bertaubat dengan meninggalkan perbuatan judi dan mabuk, serta menjadi lelaki salih yang rajin ibadah.

“Memang suami saya sangat bertanggung jawab dan sayang keluarga. Kebutuhan materi kami sangat tercukupi. Namun saya tidak bisa bahagia hanya karena dipenuhi materi. Saya ingin dia menjadi suami yang salih dan mengerti agama”, ujar sang istri.

Sebenarnya sang istri sudah tahu sejak awal bahwa suaminya memang memiliki latar belakang yang relatif gelap. Namun sang suami pernah berjanji untuk memperbaiki diri dan berubah menjadi lebih baik jika sudah menikah. Ternyata hingga tahun kelima pernikahan mereka tidak ada perubahan yang berarti. Ini yang menyebabkan sang istriselalu merasa gelisah dan sangat ingin melihat sang suami benar-benar bisa berubah. Tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan materi, namun ia ingin sang suami bisa memimpin keluarga sesuai dengan arahan agama.

Kasus  5 : Ingin Suami Biologis

Di tempat yang berbeda, seorang istri mengeluhkan kondisi suami yang tidak mempedulikan istri dan anak-anak. Sang suami sangat aktif dalam kegiatan dakwah, sampai tidak memiliki cukup waktu untuk bersenang-senang dengan keluarga. Sejak bangun pagi hingga malam hari, waktunya habis untuk melakukan berbagai kegiatan dakwah bersama teman-temannya. Semua teman suaminya adalah orang-orang salih yang taat beragama dan aktif dalam kegiatan dakwah. Dirinya merasa terabaikan dan tidak pernah mendapatkan sentuhan kehangatan sebagaimana yang dibayangkan sebelum menikah.

Sang istri ingin mendapatkan kepuasan seksual, namun itu tidak pernah didapatkan dari sang suami yang super sibuk dalam kegiatan dakwah. Waktu yang dimiliki suami sangat sedikit untuk keluarga, jika pulang sudah larut malam, itupun dalam suasana lelah. Maka  ia sangat jarang mendapat sentuhan dari sang suami. Malam-malam sunyi sering kali harus ia lewati sendiri, tanpa suami yang menemani. Ia mendambakan sosok suami yang jantan dan tangguh, yang bisa memuaskan hasrat seksualnya.

“Saya kan hanya menuntut hak saya sebagai istri. Itu kan tidak berlebihan. Saya tidak menuntut sesuatu yang diluar hak saya sebagai istri. Itu saja saya tidak pernah mendapatkannya”, keluh sang istri.

Yang ingin dirasakannya adalah kebahagiaan biologis sebagaimana yang sering ia dengar atau ia baca tentang kehidupan seksual suami istri. Namun sayang hal itu tidak pernah didapatkan, karena memiliki suami yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Tentu ia tidak menghalangi dan tidak melarang suaminya aktif dalam dakwah, namun ia hanya ingin merasakan kesenangan syahwat yang Allah halalkan bagi pasangan suami istri setelah menikah.

Kasus 6 : Ingin Suami Psikologis

Seorang istri mengeluhkan kondisi suaminya yang memiliki terlalu banyak fans-girl. Sang suami adalah seorang enterpreneur yang tengah sukses. Pekerjaan yang ditekuni sang suami membuatnya banyak berinteraksi dengan berbagai kalangan. Dengan wajah yang tampan, bisnis yang sukses, pribadi yang supel, membuat sang suami banyak dikerubuti cewek cantik dimanapun ia berada. Ini yang membuat sang istri tidak tenang dalam hidupnya. Ia sangat khawatir suaminya tergoda oleh perempuan-perempuan yang agresif mendekati sang suami.

Banyak perempuan yang mendekati suaminya, bahkan terang-terangan menawarkan diri untuk menjadi istri siri atau istri simpanan saja. Satu sisi ia sangat mencintai sang suami dan tidak ingin kehilangan, namun ada kecemasan dan kegelisahan yang tidak bisa dihindarinya setiap kali sang suami pergi bekerja. Terbayang sang suami berinteraksi dengan banyak kalangan, dan banyak perempuan menggoda suaminya dengan berbagai macam cara. Bayangan buruk seperti ini muncul karena menurutnya, sang suami tampak sangat menikmati dikelilingi banyak fans.

“Saya ingin suami saya bisa menjaga diri. Bukannya saya tidak percaya, namun selama ini saya merasa dia sangat terbuka dengan banyak perempuan yang mendekatinya. Saya selalu khawatir ia tidak bisa menjaga diri dalam interaksi,” ujar sang istri.

Tentu ia ingin hidup tenang dan damai setelah berumah tangga, bukannya cemas dan khawatir sepanjang hari. Yang diinginkan adalah suami yang pandai menjaga diri, tidak mudah tergoda oleh cewek-cewek cantik yang mengelilingi dalam pekerjaan suaminya. Ketenangan, kedamaian, keteduhan, itulah yang ia inginkan dalam hidup berumah tangga.

Semua Harus Tawazun

Ada yang harus selalu dijadikan pedoman oleh suami dan istri dalam membangun kehidupan berumah tangga, yaitu keseimbangan. Tawazun atau seimbang, adalah ajaran Islam yang sangat mendasar. Manusia harus memiliki kehidupan yang seimbang, dari sisi jasmaniyah dan ruhaniyah, material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, semua memerlukan pemenuhan kebutuhan. Jika tidak seimbang, pasti akan menimbulkan keguncangan dan kegelisahan. Pada titik tertentu, ketidakseimbangan akan mudah melahirkan penyimpangan.

Pada contoh kasus-kasus yang saya sampaikan di atas, menandakan ada yang tidak seimbang dalam kehidupan seseorang. Ada yang terlalu berorientasi duniawi. Mengejar kesenangan dunia sampai melupakan kewajiban yang sangat asasi sebagai hamba Allah. Kehidupan hanya digunakan untuk mengejar kesenangan-kesenangan sesaat, tanpa memiliki perhatian sisi ruhani. Kondisi ini sangat membahayakan manusia, karena akan membuat dirinya tersesat dari jalan kebenaran, tidak mengenal agama, tidak memahami hakikat dirinya sebagai hamba.

Ada pula orang yang terlalu memperhatikan akhirat, sampai tidak memiliki perhatian terhadap kesenangan dunia. Hidupnya dihabiskan untuk kegiatan dakwah, mengajak orang lain menuju hidayah, namun melupakan hak-hak keluarga yang semestinya dipenuhi. Suami atau istri sering tidak mendapat perhatian, karena waktunya telah banyak dihabiskan untuk kegiatan keagamaan. Muncullah perasaan sakit hati pada istri, atau merasa diabaikan pada diri suami, karena hak-hak mereka tidak dipenuhi. Kondisi seperti ini pun merupakan contoh ketidakseimbangan dalam kehidupan yang harus diatasi dan dicarikan solusi.

Maka hidup harus selalu menjaga keseimbangan. Seimbang antara bekerja dan mengurus rumah tangga. Seimbang antara aktivitas di dalam rumah dan di luar rumah. Seimbang antara perhatian kepada orang lain, dan perhatian kepada keluarga sendiri. Seimbang antara ibadah mahdah, dengan ibadah umum dalam berbagai bidang kehidupan. Seimbang antara membahagiakan pasangan dengan membahagiakan banyak khalayak. Keseimbangan adalah penentu kebahagiaan dalam kehidupan.

Namun pondasi dari sikap tawazun adalah nilai-nilai kebenaran. Tidak boleh meletakkan perbuatan dosa dan maksiat dalam timbangan kehidupan. Perbuatan melanggar, dosa, kemaksiatan dan berbagai kejahatan harus ditinggalkan. Tidak boleh dipelihara dan dijaga dengan alasan untuk keseimbangan. Seimbang harus berada dalam kebenaran. Tidak boleh berada dalam kemaksiatan dan kezaliman.

Satu Istri, Suami, Banyak Fungsi

Hidup berumah tangga adalah sebuah proses yang tidak pernah ada habisnya sampai akhir umur manusia. Maka suami dan istri harus selalu berusaha melewati proses dengan sebaik-baiknya, saling menguatkan, saling menjaga kebersamaan, saling mengisi dan saling memberi. Tidak ada manusia sempurna, siapapun yang masih berjenis manusia, selalu akan memiliki kekurangan dan kelemahan. Namun kekurangan dan kelemahan ini adalah untuk dikuatkan dan dikokohkan bersama pasangan.

Jangan menjadikan alasan kekurangan pasangan untuk mencari yang lain secara salah dan menyimpang. Banyak laki-laki selingkuh karena merasa tidak terpenuhi harapannya oleh sang istri. Banyak pula istri selingkuh karena merasa dikecewakan oleh suami. Hendaknya suami dan istri berusaha untuk melakukan yang terbaik guna memenuhi harapan pasangan. Dengan cara seperti ini, kedua belah pihak akan selalu mendapatkan haknya tanpa perlu menuntut dari pasangan. Di saat yang sama, masing-masing pihak selalu berusaha untuk terus menerus memperbaiki kualitas diri.

Jadilah istri yang bisa memenuhi ruang ideologis, psikologis dan biologis pada diri suami. Jadilah suami yang bisa memberikan kebutuhan ideologis, psikologis maupun biologis bagi diri istri. Satu istri, satu suami, dengan banyak sisi serta fungsi. Tidak terpisah-pisah, namun menjadi satu kesatuan pribadi. Hal seperti ini bisa diupayakan secara bersama-sama oleh suami dan istri. Saling menguatkan, saling mengingatkan, saling memberikan yang terbaik untuk pasangan.

Anda tidak perlu memilih, ingin istri ideologis, istri biologis atau istri psikologis. Karena semua sisi telah berkumpul dalam satu pribadi. Selamat merayakan kebahagiaan bersama pasangan dalam semua sisi dirinya.

 

 

Mertosanan Kulon, 1 Agustus 2017