HomePranikahProposal Menikah, Perlukah?
pak cah dan bu ida

Proposal Menikah, Perlukah?

Pranikah 0 1 likes 1.2K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Sahabat muda, jika anda sudah merasa siap untuk menikah, wujudkan kesiapan anda dalam bentuk proposal tertulis. Ya benar, proposal tertulis. Sebuah proposal berbentuk tulisan yang tersimpan dalam file dan bisa dicetak dalam lembar-lembar kertas. Sebuah proposal yang menunjukkan kesiapan diri anda menghadapi pernikahan dan berumah tangga. Juga sekaligus menunjukkan jati diri anda. Proposal ini menjadi bahan dialog serta bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan untuk menikah.

Anda tidak akan memutuskan sendirian bukan? Anda pasti memerlukan pihak-pihak lain untuk ikut memutuskan pernikahan. Misalnya orang tua, calon mertua, dan terlebih lagi adalah calon pasangan hidup anda. Maka menikah adalah bab mempertemukan berbagai kepentingan, dan bukan mempertentangkannya.

Ditujukan Kepada Siapa?

Proposal ini bukanlah untuk keperluan bisnis, juga bukan untuk ‘menaikkan harga’ dalam proses pernikahan agar memiliki posisioning yang lebih tinggi dibanding orang lain. Ini adalah proposal pertanggungjawaban diri bahwa anda sudah benar-benar memiliki kesiapan yang memadai untuk melaksanakan pernikahan. Maka secara hakiki, pertanggungjawaban proposal itu langsung kepada Allah. Dengan kesadaran ini, anda tidak akan bermain-main dalam membuatnya.

Pada dasarnya, proposal ini sebenarnya sedang anda tujukan kepada diri anda sendiri. Karena anda menyusun dan pada saat yang sama anda tengah mematut diri : benarkan sudah layak dan sudah siap untuk menikah? Maka semua isi proposal itu anda tujukan kepada diri anda sendiri, dan untuk anda sendiri. Dengan membaca ulang isi proposal itu, akan selalu mengingatkan anda untuk selalu berusaha memperbaiki  diri dan berbenah agar lebih baik lagi upaya persiapan menuju pernikahan.

Secara teknis, proposal itu merupakan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang akan diajukan oleh calon pasangan hidup anda, orang tua anda, juga calon mertua anda. Jika anda lelaki, ada banyak pertanyaan dari calon istri yang mungkin dia tanyakan saat anda menyatakan serius ingin menikah dengannya. Jika anda perempuan, ada banyak pertanyaan yang mungkin ditanyakan saat anda tengah berproses dengan calon suami. Berbagai pertanyaan itu —sebagian besarnya— sudah ada jawabannya dalam proposal yang anda susun.

Demikian pula, biasanya ada banyak pertanyaan ‘standar’ yang diajukan oleh orang tua terhadap anak yang menyampaikan permintaan izin menikah. Juga akan banyak pertanyaan yang biasanya disampaikan oleh calon mertua kepada anda. Nah, dengan memiliki proposal, sesungguhnya anda telah menyediakan jawaban ‘template’ yang akan memudahkan bagi anda untuk berkomunikasi dengan semua pihak tentang rencana pernikahan anda.

Manfaat Proposal Menikah

Membuat proposal menikah sangat penting bagi calon pengantin laki-laki maupun perempuan. Ada sangat  banyak manfaat proposal ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menunjukkan Jati Diri dan Identitas Anda

Proposal menikah adalah salah satu upaya tertulis untuk membuka diri, mengenalkan diri, menunjukkan identitas diri anda kepada calon pasangan hidup anda dan keluarganya. Dengan demikian proposal ini bisa menjawab pertanyaan tentang siapakah diri anda? Dalam batas tertentu, proposal itu telah menunjukkan berbagai hal ihwal tentang diri anda.

  1. Memantapkan Kesiapan Menikah

Dengan membuat proposal, maka anda akan semakin mantap dalam berproses menuju pernikahan. Berbagai persiapan yang telah dan harus anda lakukan akan tampak dalam proposal tersebut. Proposal ini sebagai pertanda bahwa anda memang tengah berada dalam langkah menuju pernikahan, berbeda dengan ketika anda belum menyusun dan memiliki proposal. Artinya, proposal ini memberikan kemanfaatan bagi diri anda sendiri, bukan hanya bagi pihak lain.

  1. Melakukan Kuantifikasi Kesiapan Menikah

Ada hal-hal yang bersifat kualitatif, namun ada yang harus bercorak kuantitatif. Dalam proposal, dinyatakan hal-hal yang bersifat kuantitatif dengan ukuran yang jelas. Misalnya, anda siap menikah pada bulan apa tahun berapa? Saat ini, anda memiliki penghasilan berapa setiap bulannya? Ini sesuatu yang bersifat kuantitatif. Dengan demikian anda tidak sedang mengkhayal, namun benar-benar merancang, dan bertanggung jawab atas rancangan anda.

  1. Memverbalkan Visi dan Tujuan Berumah Tangga

Dalam proposal itu, anda harus menyatakan visi serta tujuan pernikahan dan rumah tangga yang anda kehendaki. Apa visi keluarga anda? Ini menjadi visi pribadi yang akan anda komunikasikan kelak dengan calon pasangan hidup anda. Ini merupakan visi level pertama. Pada level kedua, dialogkan visi pribadi anda dan visi pribadi calon pasangan hidup anda ketika proses ta’aruf menjelang pernikahan. Hingga menjadi visi yang disepakati bersama sebelum menikah. Pada level ketiga, kokohkan dan internalisasikan visi keluarga anda kelak setelah menikah.

  1. Merancang Masa Depan

Proposal menikah juga memiliki makna merancang masa depan. Ada rancangan pribadi anda terkait masa depan, misalnya anda akan tinggal menetap dimana, meneruskan kuliah dimana, bekerja dimana, di sektor apa, anda akan memiliki anak berapa, dan lain sebagainya. Ketika anda tengah proses ta’aruf dengan calon pasangan hidup, dialogkan rencana masa depan masing-masing. Apakah bisa dipertemukan, atau memang sangat sulit dipertemukan. Misalnya terkait tempat tinggal, studi lanjut, pekerjaan, dan lain sebagainya.

  1. Memperjelas Peran Kerumahtanggaan

Proposal menikah juga menunjukkan kejelasan peran kerumahtanggaan. Jika anda laki-laki, nyatakan apa yang akan anda lakukan dalam kehidupan berumah tangga, dan apa harapan anda terhadap calon istri. Jika anda perempuan, nyatakan apa yang akan anda lakukan dalam kehidupan berumah tangga, dan apa harapan anda terhadap calon suami. Corak pembagian peran dalam kehidupan pernikahan bisa saja berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya, namun apapun bentuknya, harus berdasarkan kerelaan dan persetujuan kedua belah pihak.

  1. Menjadi Bahan Diskusi dan Alat untuk Menimbang

Kemanfaatan lain dari sebuah proposal adalah untuk menjadi bahan diskusi bersama pihak-pihak yang terkait, misalnya orang tua dan calon mertua. Dalam contoh lelaki dan perempuan lajang yang belum memiliki calon, maka proposal juga menjadi alat untuk menimbang, apakah bersedia menikah dengan si dia atau tidak bersedia.

Proposal Berisi Apa Saja?

Dalam proposal pernikahan, ada yang versi pendek atau ringkasan, ada pula versi panjang atau lengkap. Panjang atau pendeknya, bisa dilihat dari kelengkapan poin data, ataupun panjang pendeknya narasi. Namun, sebuah proposal menikah hendaknya memuat ha-hal berikut:

  1. Identitas Diri

Minimalnya memuat keterangan tentang nama lengkap anda, nama panggilan, tempat dan tanggal lahir, agama, golongan darah, tinggi badan, berat badan, riwayat penyakit (jika ada), alamat tempat tinggal, alamat email, nomer handphone, serta alamat berbagai media sosial yang anda miliki. Bisa anda tambah keterangan tentang sifat diri anda, hobi, dan hal-hal lain yang semakin memberikan gambaran identitas diri anda.

  1. Riwayat Keluarga

Minimal berisi keterangan tentang nama ayah / ibu, agama ayah / ibu, tempat tinggal ayah / ibu, pekerjaan ayah / ibu, organisasi ayah / ibu, jumlah saudara kandung. Bisa ditambah keterangan lain tentang keluarga.

  1. Riwayat Pendidikan

Memuat keterangan tentang pendidikan formal maupun nonformal yang pernah anda tempuh sejak kecil hingga sekarang.

  1. Riwayat Kegiatan

Memuat riwayat kegiatan yang biasa anda lakukan, baik semasa sekolah atau kuliah, maupun kegiatan saat ini. Kegiatan bisa diperinci dengan detail, seperti aktivitas anda dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, atau dalam kancah organisasi massa, LSM, parpol, kegiatan serta corak pengajian atau kegiatan keagamaan, dan lain sebagainya.

  1. Riwayat Pekerjaan

Memuat riwayat pekerjaan yang pernah anda tekuni sejak memulai bekerja, hingga pekerjaan riil yang anda lakukan saat ini. Baik yang sifatnya tetap atau tidak tetap, baik yang sifatnya formal ataupun informal / nonformal.

  1. Visi Menikah dan Berumah Tangga

Nyatakan dengan jelas visi pernikahan dan hidup berumah tangga yang anda ingin bangun bersama pasangan anda kelak. Keluarga seperti apa yang anda harapkan, pasangan hidup seperti apa yang anda inginkan, anak-anak seperti apa yang anda harapkan.

  1. Tujuan Menikah

Nyatakan tujuan-tujuan menikah yang anda yakini dan ingin anda capai dalam pernikahan. Hal ini akan menjadi pondasi dalam membangun kehidupan berumah tangga kelak bersama pasangan anda.

  1. Waktu Kesiapan Menikah

Nyatakan kapan waktu menikah yang anda harapkan. Misalnya bulan Januari tahun 2018. Sebutkan alasan anda, mengapa menetapkan kesiapan menikah pada waktu tersebut. Dengan demikian anda dan calon anda bisa berhitung serta mempertimbangkan berbagai hal terkait waktu pernikahan yang telah anda tetapkan.

  1. Rencana Masa Depan

Nyatakan anda memiliki rencana akan tinggal menetap dimana, alasan anda apa memilih tempat itu, anda akan bekerja dimana, anda akan meneruskan kuliah dimana, dan lain sebagainya. Semua rencana masa depan anda, akan sangat berpengaruh terhadap pasangan hidup anda. Maka anda harus mendialogkan pada saat proses ta’aruf sebelum menikah.

  1. Pembagian Peran

Poin ini memuat keinginan dan harapan anda tentang pembagian peran dalam hidup berumah tangga kelak. Nyatakan apa yang akan anda lakukan dalam hidup berumah tangga, dan apa harapan anda terhadap calon pasangan hidup anda. Hal ini harus anda dialogkan dengan calon pasangan pada saat proses ta’aruf.

  1. Kriteria Calon Pasangan Hidup

Berikutnya, anda harus mendeskripsikan kriteria calon pasangan hidup yang anda kehendaki atau anda harapkan. Seberapa detail kriteria tersebut, tergantung anda sendiri. Karena pada dasarnya, itu adalah hak pribadi anda, namun juga sebuah doa, sebuah harapan, dan juga proses untuk diwujudkan bersama. Ini bukan hanya karena anda belum memiliki calon, bahkan bagi anda yang sudahmemiliki calon pun, penting untuk mendeskripsikan kriteria yang diharapkan.

Siapa yang Menyusunnya?

Proposal ini harus anda susun sendiri, dengan pertimbangan yang masak dan matang dari kondisi diri serta keluarga anda. Bisa jadi anda merasa sangat siap menikah, namun ada kondisi dalam keluarga besar anda yang membuat anda harus menunda pernikahan. Masing-masing orang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda-beda, maka anda harus mengenali dan mendalami kondisi yang ada dalam keluarga.

Berdasarkan pengenalan anda atas kondisi diri sendiri dan kondisi riil keluarga, maka anda bisa menyusun sebuah proposal menikah dengan jelas dan detail. Selamat merancang masa depan, selamat merancang kebahagiaan, selamat merancang peradaban.

 

 

Yogyakarta, 15 Agustus 2017

 

Bahan Bacaan

Cahyadi Takariawan, Wonderful Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017