HomePranikahRelung-Relung Jiwa Saat Jatuh Cinta (Bagian 4)
House-of-love-m

Relung-Relung Jiwa Saat Jatuh Cinta (Bagian 4)

Pranikah 0 1 likes 1.7K views share

Bagaimana Cinta Bekerja?

Sesungguhnya “cinta” bisa dibedakan dari “jatuh cinta”. Gejala menggebu-gebu dan tidak bisa dikendalikan adalah gejala jatuh cinta, bukan gejala cinta. Gejala jatuh cinta itu sangat nyata namun terbatas masa. Jatuh cinta akan dirasakan pada waktu yang tertentu, bukan sepanjang waktu. Jika seorang laki-laki dan perempuan saling jatuh cinta, maka mereka sudah masuk dalam sebuah jebakan perasaan yang rumit dan kuat. Setelah mereka menikah, maka perlahan perasaan itu berangsur-angsur ‘normal’, dan tidak lagi bercorak menggebu-gebu.

Ketika seseorang jatuh cinta, si dia yang dicintai akan mengubah kehidupan dan kegiatan sehari-harinya. Bagi orang yang tengah jatuh cinta, si dia adalah segalanya, dan segalanya adalah si dia. Apapun tentang dirinya, selalu menarik. Seperti apapun kondisinya, selalu menyenangkan. Kata-katanya yang biasa dan sederhana saja, terdengar demikian menarik dan menggelitik. Pemikirannya yang biasa dan sederhana saja, tampak demikian hebat dan mengagumkan. Kepribadiannya yang biasa dan sederhana saja, terlihat sedemikian anggun dan mempesona. Penampilannya yang biasa dan sederhana saja, tampak demikian istimewa dan tiada dua.

Tidak ada cela pada dirinya, semua sedemikian indah dipandang mata. Kesalahan dan  kecerobohannya pun terasa begitu menggoda. Orang yang jatuh cinta tidak menutup mata akan kesalahan dan kelemahan si dia, namun justru terasa unik dan menggemaskan. Kesalahan dan kelemahan seperti itu, kelak akan bisa menjadi masalah saat gejala jatuh cinta sudah berakhir. Saat jatuh cinta seseorang tengah berada di awang-awang, tengah berada di atas awan, terasa melayang-layang. Semua tentang si dia terasa indah dan menyenangkan. Saat gejala itu berakhir -misalnya karena sudah menikah- maka semua tampak biasa saja. Kesalahan pasangan bisa menjadi masalah besar dalam kehidupan rumah tangga.

Jatuh cinta membuat seseorang benar-benar berada dalam penjara kebahagiaan, namun juga kesengsaraan. Keindahan yang tak bercacat seperti itulah yang membuat orang yang jatuh cinta selalu terobsesi tentang si dia dan sulit berhenti memikirkannya. Bahkan orang yang jatuh cinta sulit berpikir tentang hal-hal lain, karena selalu teringat si dia. Dimanapun, sedang melakukan apapun, tiba-tiba semua berubah menjadi tentang si dia. Bahagia, namun tersiksa, karena menjadi sering berhenti melakukan hal-hal lain disebabkan memikirkan dan mengingatnya. Tampak tidak konsentrasi, tampak gelisah di tempat kerja. Pengen segera pulang dan bertemu si dia.

Orang yang tengah jatuh cinta merasakan semangat yang menggelora dan menjadi berbahagia setiap bertemu dengan si dia. Saat berpisah sejenak dari si dia, selalu dibayangi oleh senyumannya, kerlingan matanya, rona merah di pipinya, canda tawanya, renyah suaranya, bahkan desah nafasnya. Ucapan yang terbata-bata, perilaku yang salah tingkah, kalimat pesan di ruang chat, semua tampak indah mempesona. Semua pesan dari si dia melalui WhatsApp, Line, SMS, email dan surat, selalu disimpan dan dibaca berulang-ulang. Ya benar, dibaca berulang-ulang tanpa bosan.

Semua perilaku si dia telah menginfeksi, masuk melalui aliran darah dan hembusan nafas orang yang jatuh cinta. Ini semua sama sekali bukan cinta dalam artian yang sebenarnya, melainkan gejala jatuh cinta yang bersifat sesaat dan ada batas masa. Ada expired date. Masa dimana seseorang mengalami gejala delusi dan kekacauan mental, disebabkan terinfeksi oleh syahwat sesaat.

Berapa Waktu yang Diperlukan untuk Jatuh Cinta?

Jatuh cinta atau falling in love itu makna yang paling sederhana adalah cintanya telah jatuh kepada seseorang yang menjadi pilihan hati. Atau kondisi dimana cintanya telah menjatuhkan pilihan. Kondisi yang diusebut sebagai jatuh cinta ini bisa dialami oleh siapa saja, baik anak muda maupun orang tua. Interaksi dan komunikasi yang rutin serta intens, akan bisa membuat lelaki dan perempuan saling jatuh cinta, tidak peduli usia mereka.

Jatuh cinta bisa terjadi karena komunikasi dan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Semakin rutin dan intensif proses komunikasi dan interaksi tersebut, semakin mempermudah munculnya jatuh cinta. Komunikasi dan interaksi ini bisa bersifat langsung ataupun tidak langsung. Yang bersifat langsung misalnya dengan pertemuan, kencan, berdua-duaan, termasuk melalui teknologi komunikasi. Sedangkan yang bersifat tidak langsung misalnya melalui cerita dan pengaruh orang lain.

Berapa lamakah waktu yang diperlukan dalam suatu interaksi, yang membuat laki-laki dan perempuan sampai ke tingkat saling jatuh cinta? Tentu tidak ada ukuran waktu yang pasti, dan bisa berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Ada orang yang mudah dan cepat jatuh cinta, sehingga ada ungkapan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun ada yang cukup sulit untuk menjatuhkan cintanya kepada seseorang, terlebih apabila sudah memiliki trauma cinta.

Meskipun tidak ada ukuran waktu yang pasti, namun gejala-gejala sampai ke tahap jatuh cinta bisa dihitung waktunya. Berapa lama virus cinta ini menginfeksi hati seseorang? Menurut Gena Kaufman, untuk sampai kepada tahap jatuh cinta, rata-rata orang memerlukan 224 tweet, 163 pesan teks (SMS), 70 pesan inbox di Facebook, 37 email dan 30 panggilan telepon dalam interaksi antara lelaki dan perempuan.  Tentu saja ini analisa atas perilaku masyarakat Amerika. Di Indonesia, angka-angkanya bisa berbeda.

Bahkan Gena Kaufman mencatat hal yang lebih spesifik pada usia manusia. Pada anak muda di bawah 25 tahun, rata-rata hanya memerlukan waktu 24 hari saja untuk memutuskan dirinya jatuih cinta kepada seseorang. Sedangkan pada orang tua di atas 55 tahun, rata-rata memerlukan waktu dua setengah bulan untuk berada di tingkat itu. Artinya pada kalangan orang berusia tua, tetap bisa jatuih cinta namun memerlukan waktu yang lebih lama.