HomePranikahRelung-Relung Jiwa Saat Jatuh Cinta (Bagian 7)
teddy-1364124_1280

Relung-Relung Jiwa Saat Jatuh Cinta (Bagian 7)

Pranikah 0 0 likes 495 views share

Unsur dan Komponen Cinta

Cinta itu seperti seni, dia harus dirawat dan diperjuangkan. Jika tidak ada perawatan dan perjuangan, cinta tidak akan bisa langgeng. Dalam buku The Art Of Loving, Erich Fromm menjelaskan bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Membuat orang lebih suka mencaci maki dan membunuh secara keji, lebih suka mencari kesalahan dan kelemahan orang lain. Ahli psikoanalisis ini juga mengatakan bahwa cinta tidak pasif, tapi harus aktif.

Jika kita berharap untuk menerima cinta, maka kita terlebih dulu harus memberi cinta. Inti cinta adalah memberi, bukan menerima.  Memberikan apa yang dimiliki untuk kebahagiaan orang yang dicintai. Makna ini yang sering disalahpahami sebagai sebagai “kehilangan”. Menurut Fromm, ini tidak benar karena cinta tidak terbatas pada memberi secara materi. Aspek penting dari memberi justru memberikan jiwa, suka dan duka, minat dan pengetahuan, pemahaman dan perhatian kita kepada orang yang dicintai.

Selain itu, memberikan diri untuk cinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan kita sebagai individu. Saat seseorang memberi untuk cinta, yang hilang dari dirinya hanyalah keegoisan.  Mencintai adalah tindakan memberi  yang justru memperkaya diri karena dapat menumbuhkan  rasa  percaya diri, yang memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain.

Empat Unsur Cinta

Cinta bukanlah unsur tunggal, namun tersusun dari berbagai komponen dasar yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur dasar cinta, menurut Fromm adalah:

1. Perhatian (Care)

Tidaklah engkau dikatakan mencinta, jika engkau tidak memiliki perhatian terhadap apa yang engkau cintai. Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Hal ini terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya, atau perhatian penuh terhadap kekasih hati dari dua orang yang saling mencinta.

2. Tanggungjawab (Responsibility)

Bagaimana engkau mengatakan cinta, jika tidak memiliki rasa tanggung jawab? Justru karena engkau mencintai Indonesia, maka engkau memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Karena engkau menciontai kekasih hatimu, maka engkau sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan dirinya. Tanggung jawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggungjawab berarti mampu dan siap menanggapi.

3. Rasa Hormat (Respect)

Saat engkau memiliki respect maka saat itulah engkau telah memiliki rasa cinta. Hormat bukan merupakan perasaan takut dan terpaksa. Rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang harus tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya.

4. Pengetahuan (Knowledge)

Cinta itu “ilmiah”, ada unsur ilmu dan pengetahuan yang menyertainya. Cinta tidak membabi buta. Mem-babi saja sudah jelek, apalagi buta, tentu tambah jelek lagi. Seperti apa babi yang buta. Cinta memerlukan pengetahuan yang tidak bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya. Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif.

From menyatakan, “Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi akan lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan”.

“Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan efek samping sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik”.

Tiga Komponen Cinta

Menurut Robert J. Sternberg, ada tiga komponen penting dalam cinta, yaitu intimacypassion, dan commitment.

1. Keintiman atau intimacy

Yang dimaksud intimacy adalah suasana batin yang akrab dan dekat antara suami dan isteri. Hal iniberkaitan dengan bagaimana menciptakan suasana hubungan menjadi hangat dan nyaman. Pasangan suami istri yang selalu dekat secara emosi, memiliki keintiman, keinginan untuk selalu bersama, menandakan mereka memiliki unsur pertama dari cinta.

2. Gelora atau passion

Yang dimaksud dengan passion adalah motivasi dan gairah untuk selalu membahagiakan pasangan, untuk selalu memberikan yang terbaik bagi pasangan, untuk mau berkorban demi pasangan. Suami istri yang memiliki gairah untuk membahagiakan pasangannya, menandakan memiliki unsur kedua dari cinta.

3. Komitmen atau commitment

Commitment adalah sikap kesetiaan kepada pasangan. Suami dan istri memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Mereka memiliki disiplin dan dedikasi untuk menjaga dan merawat keutuhan keluarga. Ini menandakan memiliki unsur ketiga dari cinta.