HomePranikahRelung-Relung Jiwa Saat Jatuh Cinta (Bagian 8-Habis)
moslem__marriage

Relung-Relung Jiwa Saat Jatuh Cinta (Bagian 8-Habis)

Pranikah 0 1 likes 693 views share

Hati-hati Menjaga Hati

Jangan bermain-main dengan hati dan perasaan anda terhadap pasangan jenis. Orang Jawa mengatakan “sembrana agawe kulina”, atau “witing tresna jalaran saka kulina”. Semula hanya iseng (sembrana), tidak serius. Mungkin sekedar bercanda, bercerita, lama-lama menjadi kebiasaan dan terbiasa (kulina). Jika sudah berlanjut menjadi kebiasaan, maka anda akan berada dalam suasana keterjebakan perasaan. Dua hati bertaut yang sangat rumit suasananya, terutama pada pasangan kekasih yang sama-sama sudah berkeluarga.

Ingat suami, ingat isteri, ingat anak-anak, ingat keluarga besar, ingat posisi anda di tempat kerja dan masyarakat. Hubungan gelap seperti itu bisa menghancurkan semua hal yang sudah anda bangun bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Kredibilitas sebagai pemimpin, kehormatan sebagai suami, penghargaan sebagai orang tua, kebanggaan keluarga besar, posisi dan jabatan di tempat kerja, semua bisa hilang dan sirna karena cinta buta. Sekejap saja hilangnya.

Saya bertemu seseorang yang dicopot dari tempat kerjanya karena affair di kantor. Saya pernah pula bertemu seseorang yang dikeluarkan dari organisasi karena cinlok, padahal ia telah merintis organisasi tersebut sejak kecil hingga sekarang sudah sangat besar. Saya bertemu pula dengan seseorang yang kehilangan jabatan, kehilangan keluarga, kehilangan kepercayaan masyarakat, karena cinta buta pada isteri orang lain.

Maka berhati-hatilah menjaga hati. Jangan cepat-cepat menjatuhkan pilihan dan jatuh cinta secara sembarangan. Jaga komunikasi dan interaksi agar tidak sampai ke tingkat berlebihan dan pelanggaran. Begitu anda jatuh cinta, perasaan itu tidak bisa dikembalikan ke bentuknya semula begitu saja. Perlu waktu yang panjang untuk mengobatinya, padahal hanya memerlukan waktu sekejap saja untuk bisa jatuh cinta.

Jangan bermain-main dengan hati anda dan hati orang yang anda cintai. Ingat, jatuh cinta itu seperti terinfeksi penyakit jiwa. Menjadi tidak waras dan tidak rasional perbuatan serta perilakunya.

Lalu Kapan Saatnya Memutuskan untuk Menikah?

Pada saat saya mengisi forum Kuliah Pranikah yang digelar oleh Muslimah Care Center (MCC) Yogyakarta, saya mendapatkan pertanyaan yang menarik. ”Kapankah saat yang tepat untuk mengambil keputusan menikah?” Pertanyaan ini berkaitan dengan tiga tahap perasaan manusia kepada pasangan jenisnya yang saya jelaskan di forum itu. Dari tiga level perasaan manusia, di level manakah mestinya diambil keputusan untuk menikah? Demikian kurang lebih inti pertanyaannya.

Sebagaimana telah sering saya tulis, pernikahan adalah suatu bentuk ibadah. Nikah tidak semata-mata karena keinginan pribadi seorang laki-laki dan perempuan, namun menikah memiliki sejumlah agenda yang sakral dan sangat menentukan masa depan peradaban kemanusiaan. Maka mengambil keputusan untuk menikah, semestinya dilakukan pada saat yang tepat. Apakah perlu menunggu jatuh cinta baru memutuskan untuk menikah?

Karena situasi orang yang jatuh cinta itu tidak rasional, sebaiknya anda memutuskan untuk menikah dengan seseorang, pada kondisi yang masih rasional. Pada saat hubungan anda dengan si dia belum sampai pada tahap ketiga. Dengan demikian, semua masih bisa dipertimbangkan, tidak membabi buta. Anda masih bisa memperbincangkan, mendiskusikan, memusyawarahkan soal pilihan pasangan hidup anda dengan orang-orang yang anda percaya. Saat mengambil keputusan menikah, anda harus berada dalam situasi bisa dipertanggungjawabkan dan berada dalam kesadaran yang utuh.

Jangan biarkan hati dan pikiran anda dikuasai syahwat, yang menjerat akal sehat anda sehingga tidak bisa lagi berpikir secara jernih. Ingatlah, menikah adalah untuk selamanya. Menikah itu tidak boleh diberi catatan kaki “jika tidak cocok, kita bisa bercerai”. Dalam ajaran agama, perceraian adalah perbuatan halal yang dibenci Tuhan. Artinya, agama mempersulit jalan untuk perceraian, namun mempermudah jalan untuk pernikahan.

Biarlah hati bersih dan akal sehat anda menimbang secara jujur tentang pilihan pasangan hidup yang akan mendampingi anda “selama-lamanya”. Ingat kata “selama-lamanya” ini, ingat ungkapan Susannah Fincannon yang pernah berjanji kepada Tristan untuk menunggu dia pulang, dan akan tetap setia menunggu Tristan “selama-lamanya”. Namun terlalu lama Susannah menunggu Tristan yang tidak kunjung pulang, sampai akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Alfred, saudara Tristan.

“Ternyata selama-lamanya itu lama”, kata Susannah. Itu kisah dari “Legends of The Fall”.

Ya, jangan dikira “selama-lamanya” itu cuma sebentar. Maka ketika mengambil keputusan yang berdampak “selama-lamanya” harus dalam kondisi akal sehat dan hati bersih. Jangan memutuskan pada kondisi akal sehat sudah tidak berfungsi karena terlanjur jatuh cinta.

Daftar Bacaan :

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Menjadi Pasangan Paling Bahagia, Era Intermedia, Solo, 2014

Cahyadi Takariawan, Wonderful Journeys for A Marriage, Era Intermedia, Solo, 2016

Erich Fromm, The Art Of Loving: Memaknai Hakikat Cinta, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011

Harville Hendrix,The Magic of Love, Bagaimana Mendapatkan dan Mempertahankan Cinta di Abad Ini,Ufuk Press, Jakarta, 2011

Robert J. Sternberg, The Triangle of Love: Intimacy, Passion, Commitment, Basic Book, New York, 1988

ilustrasi : https://id.pinterest.com/pin/490470215645975369/