HomeRuang KeluargaRomantisme di Tengah Aksi Damai 212
doc pribadi

Romantisme di Tengah Aksi Damai 212

Ruang Keluarga 0 0 likes 466 views share

Aksi ummat Islam di sekitaran Monas hari Jumat 2 Desember 2016 kemaren benar-benar damai dan menyejukkan hati. Kendati tema yang diusung terkesan “sangar”, karena terkait tuntutan penangkapan dan pengadilan terhadap pelaku penistaan agama, namun dari awal hingga akhir aksi suasana yang terbangun adalah kedamaian dan kesejukan. Tidak ada kejadian kerusuhan, kerusakan, apalagi chaos yang membahayakan jiwa manusia. Sangat jauh dari situasi seperti itu.

Sejak awal sudah ada komitmen antara pihak GNPF-MUI dengan Kepolisian RI dan pihak-pihak terkait bahwa semua akan berusaha menjaga suasana aksi yang tertib, damai dan lancar. Pihak Kepolisian berjanji tidak akan melakukan pelarangan atau pencegahan terhadap masyarakat dari berbagai wilayah untuk mengikuti aksi yang diberi label 212 tersebut. Walaupun ternyata di lapangan tetap ada razia dan kejadian tidak menyenangkan terhadap para peserta aksi, namun akhirnya aksi tetap bisa berjalan dengan damai.

Beberapa indikasi kedamaian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Suasana yang sangat bersahabat dan merakyat

Pasar atau pesta rakyat. Itu kesan yang sangat kuat dalam aksi 212 kemaren. Di sepanjang perjalanan menuju silang Monas, kita menjumpai kelompok masyarakat saling berbagi satu dengan yang lain. Air mineral sangat banyak disediakan secara suka rela oleh sesama peserta aksi. Makanan ringan, buah sampai makan besar juga sangat banyak disediakan secara gratis oleh warga. Super keren, luar biasa akrabnya, padahal tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Saya bertemu kelompok masyarakat dari Cilacap yang datang membawa nasi pecel komplit, disediakan secara gratis untuk peserta aksi yang lapar. Saya bertemu beberapa pemuda dari Magelang, yang ikut aksi sambil membawa setundun pisang masak untuk dibagi-bagi kepada peserta lainnya. Saya melihat ada tukang roti bermerek yang hari itu menggratiskan semua roti jualannya untuk para peserta aksi. Saya melihat ada penjaja bakso dan siomay yang menggratiskan semua sediaannya hari itu untuk para peserta aksi.

Saya menemukan komunitas masyarakat yang secara sukarela menyediakan layanan kesehatan gratis. Saya juga menemukan komunitas masyarakat yang sukarela memunguti sampah dan membersihkan arena aksi. Semua bergerak atas kesadaran nurani, semua berbuat untuk bisa berkontribusi dalam aksi. Sebuah suasana yang sangat bersahabat dan merakyat. Sangat menyentuh hati siapapun yang melihatnya.

  1. Menu acara yang penuh nilai ibadah

“Subhanallah… Mirip suasana di Masjidil Haram,” ujar seorang sahabat ketika ikut berjalan kaki menuju simpang Monas. Terbayang saat menunaikan haji atau umrah, menyaksikan pemandangan masyarakat berduyun-duyun menuju Masjidil Haram, dengan suasana sangat khidmat. Demikian pula saat aksi 212 kemaren. Penuh dengan lantunan dzikir, shalawat, tausiyah, takbir, dirangkai denga  shalat Jumat dan doa bersama. Suasana sangat khidmat di tengah jutaan manusia. Semua terlarut dalam khusyuknya ibadah.

Mungkin ini menjadi sholat Jumat terbesar di dunia pada beberapa tahun terakhir ini. Sebuah prosesi ibadah yang sangat berkesan seumur hidup bagi siapapun yang mengikutinya. Beberapa peserta mengaku, untuk pertama kalinya ia bisa menangis pada ibadah sholat Jumat. Suasananya benar-benar berbeda daripada sholat Jumat biasanya.

  1. Mirip sebuah family gathering atau majelis taklim super akbar

Betapa damai aksi 212 kemarin, tampak pula dari banyaknya anak-anak yang dibawa oleh kedua orang tua mereka. Kendati di berbagai komunitas sudah ada anjuran agar tidak mengajak anak, namun karena ayah dan ibunya ikut aksi sementara anak tidak ada yang menjaga di rumah, maka akhirnya anak pun diajak serta. Hal ini menjadi pertanda bahwa suasana yang ada dalam aksi 212 benar-benar sangat damai dan bisa dinikmati oleh anak-anak kecil sekalipun.

Di sisi lain, sangat banyak kita jumpai pasangan suami istri yang menghadiri aksi 212 dan sekaligus menjadikannya sebagai momentum romantis. Mereka bergandengan tangan dan berduaan menyusup keramaian massa. Hal ini bisa membuat suasana keluarga mereka menjadi semakin romantis dan harmonis karena keduanya kompak mengikuti aksi dan menguatkan visi keluarga. Di berbagai titik dengan mudah kita menemukan pasangan suami istri duduk berdua, atau duduk bersama keluarga. Bahkan banyak ditemukan keluarga yang aktif berperan untuk melayani peserta aksi, misalnya dengan membagi minuman serta makanan gratis.

  1. Rumput dan tanaman pun aman

Bukan hanya jiwa manusia yang aman, bahkan rerumputan dan tanaman pun ikut aman dan damai. Rumput tidak diinjak oleh massa. Bagaimana bisa, lebih dari lima juta massa berkumpul namun bisa sedemikian terkendalikan. Saya takjub menyaksikan lapangan rumput yang cukup luas untuk menampung massa namun tidak ada seorang pun yang memasuki kawasannya. Semua massa bergerak tertib di jalan raya atau di trotoar pinggiran jalan raya. Tidak memasuki kawasan rumput. Benar-benar tertib, aman dan damai.

Maka jangan khawatir bahwa akan ada korban luka atau meninggal dunia akibat aksi damai, karena semua hal sangat dijaga. Bahkan rumput dan tanaman pun dijaga agar tidak rusak atau hilang keindahannya. Benar-benar luar biasa.

  1. Didukung cuaca mendung dan guyuran hujan

Suasana semakin syahdu haru karena didukung oleh naungan mendung dan guyuran hujan. Menjelang pelaksanaan sholat Jumat hujan mulai mengguyur, namun massa tetap tertib dan menunaikan ibadah dengan khusyuk. Bercampur antara bulir air hujan yang membasahi tubuh mereka, dengan bulir air mata yang deras mengucur karena haru. Penuh harap rahmat Allah menyertai bangsa Indonesia agar bisa lebih baik dan beradab. Situasi mendung dan hujan ini justru menambah kedamaian aksi 212.

Beberapa peserta memang sempat khawatir, bagaimana nanti kalau hujan? Ternyata setelah turun hujan, mereka justru berbahagia di tengah rintik dan guyurannya. Suasana mendung ini membuat hati ikut sejuk, tidak panas, dan turut mengkondisikan suasana aksi menjadi selalu damai hingga akhir acara.

  1. Kehadiran Presiden RI dan para petinggi

Logika keamanan yang paling sederhana, tidak mungkin Presiden RI hadir di sebuah kerumunan massa, jika tidak dipastikan jaminan keamanannya oleh aparat keamanan negara. Presiden adalah orang nomer satu di sebuah negara, dengan pengamanan dan pengawalan yang juga level satu. Kehadiran Pak Jokowi memberi sambutan jelas-jelas menandakan acara aksi 212 benar-benar damai dan tidak memiliki potensi kerusuhan apalagi chaos. Jika ada potensi kerusuhan, mustahil Presiden hadir di lokasi.

Sudah pasti para pengawal kepresidenan beserta aparat keamanan level satu sudah mengamati dan meneliti dengan seksama. Setelah yakin situasi aman terkendali, barulah Presiden RI hadir di tengah aksi massa. Ini jelas-jelas pertanda nyata bahwa aksi 212 adalah aktivitas yang aman dan nyaman ditinjau dari segi keamanan negara. Lalu mengapa masih ada yang mencurigai dan dikaitkan dengan potensi terorisme? Tentu itu sangat berlebihan.

Demikianlah beberapa catatan atas aksi super damai. Ini menjadi pertanda banhwa bangsa kita adalah bangsa besar, bangsa yang beradab, bangsa yang sopan santun dan penuh keluhuran budi. Tentunya harus dipimpin oleh sosok yang beradab dan berbudi pekerti luhur.