HomePernikahanSaat Istri Diam-Diam Menangis Di Balik Punggung Suami
couple-f

Saat Istri Diam-Diam Menangis Di Balik Punggung Suami

Pernikahan 0 4 likes 6.4K views share

Oleh : Ida Nur Laila *

Sering saya mendengar kisah-kisah semacam ini. Para istri yang mengeluh bahwa dirinya diam-diam menangis di balik punggung suaminya. Mengapa diam-diam? Karena mereka tak ingin diketahui isaknya, dengan berbagai alasan yang mungkin berbeda satu sama lain.

Anda para pembaca perempuan, pernahkah menangis di balik punggung suami? Anda para suami, pernahkan memergoki istri menangis diam-diam?

Suami yang asyik mendengkur, tak menyadari peristiwa ini. Ada juga yang sebenarnya mengerti, bahwa istrinya diam-diam menangis dibelakang punggungnya, namun mereka tidak bereaksi. Tentu juga dengan alasan. Bisa jadi memang mereka tak tahu harus berbuat apa. Atau justru mereka ingin membiarkan istrinya menuntaskan perasaannya lewat tangisan. Ada pula yang memang tak peduli lagi gerak perasaan istrinya.

Adapun para istri, apa alasan menangis dibelakang punggung suaminya? Ini beberapa jawaban yang saya temukan dari curhatan ibu-ibu:

1. Cemburu
Cemburu dapat menyulut kesedihan tak terperi. Seorang istri mungkin mencemburui apa saja selama ia merasa diduakan atau dikesampingkan. Ada yang cemburu mendapati suaminya lebih mesra dengan HP, BB atau akun media sosialnya daripada memperhatikan dirinya. Adanya pihak ketiga juga bisa memicu rasa cemburu. Pihak ketiga tidak melulu yang dicurigai sebagai WIL (Wanita Idaman Lain). Bisa saja ibu mertua, ipar, pembantu, urusan pekerjaan, teman-teman, hobi bahkan anak.

2. Merasa tidak dihargai
Seringkali perasaan ini muncul dari kurang verbalnya suami dalam urusan memberikan pujian atau sekedar ucapan terimakasih. Istri merasa telah melakukan banyak hal untuk keluarganya, namun suami tidak ‘melihat kebaikan itu’. Menurut saya sebenarnya bukannya suami tidak melihat. Mereka melihat dan mereka mengerti, hanya saja sebagian suami ada yang berat untuk mengucapkan penghargaan. Atau bahkan gagal mengekspresikan perasaannya.

3. Merasa diabaikan
Sebenarnya perasaan ini juga efek dari cemburu dan merasa tidak dihargai. Istri yang merasa bahwa kehadirannya, perbuatannya dan ucapannya tidak bisa merebut hati suami, sungguh merasakan kepedihan. Saat bertanya, tidak dijawab. Saat datang, tidak dilihat, saat melakukan sesuatu, tidak dikomentari.

Apa lagi ya? Mungkin lebih banyak lagi variasi alasan yang lebih teknis. Namun satu hal lagi, fluktuasi perasaan seorang perempuan yang dipengaruhi sistem hormonal, kadang tidak bisa dipahami laki-laki. Perempuan dalam setiap bulannya mengalami siklus sensitif yang dirinya sendiri belum tentu menyadari dan memahami, apalagi suaminya. Perempuan yang sedang sakit, sedang hamil dan sedang hopeless tentang urusan memiliki anak atau tidak, juga lebih sensitif.

Apa yang harus dilakukan suami?

Saya bukan laki-laki, tetapi saya mewakili perempuan dengan subyektivitas saya. Para suami hendaknya memperhatikan bahasa verbal dan bahasa pesan non verbal seorang istri. Seorang istri yang bertanya, seringkali sebenarnya mereka sudah memiliki jawaban yang mereka inginkan. Lucu, ya. Tetapi begitulah kenyataannya.

Contoh sederhana ketika istri menanyakan penampilannya hari ini.
“Gimana dandananku, Mas?” Pertanyaan umum saat akan bepergian dan istri telah meluangkan beberapa waktu untuk mematut diri. Atau setelah potong rambut ke salon.
Jika suami hanya mendengus, apalagi tanpa memandangnya, bisa dipastikan istri kecewa dan merasa diabaikan.
Sesungguhnya jawaban yang diinginkan hanya acungan dua jempol sambil tersenyum lebar. Atau ungkapan sederhana:
“Mama cantik…”
“Sudah pantes…!”
“Wow…!”
Tapi mengapa sulit untuk sebagian lelaki mengerti hal ini. Sebagian istri mungkin tak sampai hati berterus terang minta dikomentari, hanya mengatakan, ”Lihat aku mas…” atau sekedar mondar-mandir dengan dandanannya menunggu reaksi suami, tanpa kata-kata. Nah para suami, mainkan peranmu!

Padahal menyenangkan hati istri sendiri itu berpahala. Jika memuji perempuan lain yang bukan mahramnya, itu masalah dan bisa membawa fitnah. Untuk masalah yang lebih serius, jika istri bertanya, coba jawab dengan balik bertanya,
“Kalau menurut kamu, gimana tuh?” Biasanya istri akan nyerocos mengungkapkan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Ia hanya membutuhkan pembenaran atau sedikit koreksi dari pendapatnya, itulah yang terjadi. Kecuali jika istri juga menjawab, “Aku tuh nanya pendapatmu. Aku benar-benar tak tahu harus ngapain…” Naah, barulah berikan sedikit saran.

Jadi suami, juga perlu melihat perubahan sikap istri. Istri yang biasanya cerewet, jika tiba-tiba berdiam diri, pasti ada maunya atau ada yang mengganggu fikirannya. Berharap suaminya akan menanyainya. Istri yang pendiam, dan tiba-tiba cerewet, juga perlu didengar dan ditanggapi.

Sssttt saya bagi rahasia untuk para suami, ya. Istri akan merasa nyaman dan tentram jika selain bahasa verbal yang serba hemat dari para suami, para suami juga menambah porsi ungkapan non verbal. Misal nih, banyak membelai, mencium, mencolek, menggandeng, meremas atau memeluk istri.

Jangan memulai tidur dengan memunggungi istri. Itu menyakitkankan bagi istri. Jika anda memang ingin privasi, sedang tidak mau disenggol istri, tetap awali tidur dengan memeluk dan mencium istri. Setelah beberapa waktu kemudian, anda berbalik memunggungi istri, istri tak akan tersinggung. Jika ingin tidur terpisah. Pamitlah.

Misal:
“Ayah mau lembur di kamar kerja, ntar kalau ayah ketiduran di sofa, bangunkan ya….”
“Ayah mau nonton film/tv dulu, mama tidur duluan…’

Itu menunjukkan bahwa suami masih menghargai keberadaan istri. Dalam realitas, ada istri yang menangis semalaman lantaran suaminya kerja lembur dan ketiduran di ruang kerja. Dia merasa diabaikan.

Yang ditunggu seorang istri saat menangis adalah pelukan hangat dari suaminya yang akan meredakan emosi dan tangisnya. Mungkin tak perlu kata-kata, karena kadang kata menjadi sumber salah faham. Nantilah saling berbincang setelah semua lebih baik.

Agar istri merasa tidak diabaikan dan menepis rasa cemburu, maka libatkan istri dalam dunia suami. Dunia pertemanan, teman sekantor, teman sehobi dan lain-lain. Istri akan mengenal kesibukan dan dunia suami, serta merasa dihargai.

Kepada para istri, jadilah istri yang manis dan jujur. Jika memang sedang sedih dan ingin perhatian, katakan saja dengan verbal agar suami lebih ngeh. Jangan hanya menunggu dan berharap suami menyadarinya sendiri perasaan anda. Itu namanya mengharap suaminya menjadi “paranormal” yang konon bisa membaca fikiran dan menebak perasaan orang.

Perempuan haruslah memiliki jiwa yang kuat agar tidak mudah retak oleh persoalan yang tidak penting, tidak prinsip, tidak logis. Belajar menimbang masalah dengan proporsional. Memahami cara berfikir laki-laki sehingga tidak menjadi mudah salah faham atas sikap suami.

Suami dan istri, jadilah satu jiwa dalam biduk rumah tangga. Jika satu terluka, yang lain ikut merasakan dan segera menolong. Tidak melakukan pembiaran. Mari saling merawat jiwa untuk cinta jangka panjang.

*) Penulis adalah  Konsultan dan Trainer di Jogja Family Center, Penulis Buku “Menyayangi Anak Sepenuh Hati”.