HomePernikahanSaling Percaya Melahirkan Kesetiaan Suami Istri
78b14a8fb5aa26c9892046dd00497d71

Saling Percaya Melahirkan Kesetiaan Suami Istri

Pernikahan 0 0 likes 139 views share

SALING PERCAYA MELAHIRKAN SETIA

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah seorang muslim kepada Allah, karena itu tidak boleh di dalamnya di isi dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan syarit Islam. Semua aktifitas dan perilaku suami istri haruslah berpijak pada aturan-aturan syariat. Sehingga pernikahan itu akan diberkahi oleh Allah, dan karenanya akan tampaklah hanya kebaikan-kebaikan yang ada dalam pernikahan itu.

Membangun keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga bukan sesuatu yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, atau sesuatu yang dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Ia butuh energi yang cukup besar dan juga waktu yang panjang untuk dapat mencapainya.

Kehidupan berumah tangga ibarat orang yang sedang berlayar dengan sebuah bahtera, tak dapat diperkirakan seperti apa gelombang yang akan menimpa bahtera, kecuali bahtera itu sudah mengangkat sauhnya dan berlayar di laut lepas. Begitu pun kehidupan berumah tangga, tak akan pernah dapat diketahui, cobaan-cobaan dan rintangannya kecuali suami istri itu sudah berjalan meniti kehidupan rumah tangga. Akan banyak dijumpai ujian-ujian rumah tangga, mulai dari ujian ringan hingga ujian yang sangat berat untuk di hadapi.

Namun, sebagai pasangan yang sudah berjanji untuk bersama-sama mengayuh bahtera rumah tangga, suami dan istri harus mampu untuk menghadapi semua bentuk ujian-ujian yang melanda. Salah satu bentuk ujian dalam kehidupan suami istri di antaranya yaitu berkurangnya atau bahkan hilangnya kepercayaan kepada pasangan.

Tidak ada satu pun pasangan suami istri yang ingin berada dalam posisi kehilangan kepercayaan dari pasangan. Keduanya pasti berharap kepercayaan dari atau kepada pasangan semakin lama justru semakin menguat. Karena salah satu tanda keharmonisan pasangan suami istri yaitu adanya sikap saling percaya di antara mereka.

 

Membangun Sikap Saling Percaya

Kepercayaan terhadap pasangan sejatinya adalah hak yang ada pada suami dan istri dan menjadi kebutuhan perasaan aman bagi keduanya. Hal ini haruslah bermula dari sikap berbaik sangka atau huznuzhon kepada pasangan. Sebagaimana dicontohkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang arab badui yang datang kepada Rasulullah saw seraya berkata, “’Sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak hitam. Aku mengingkarinya.’ Maka Nabi bertanya kepadanya : ‘ Apakah engkau mempunyai unta?’ Ia menjawab: ‘Ya’ Nabi bertanya lagi: ‘Apa warnanya?’ Ia menjawab: ‘Merah.’ Beliau bertanya: ‘Apakah padanya ada warna abu—abu?’ ‘Ya, ada satu abu-abu,’ jawabnya. Nabi terus bertanya: ‘Menurutmu dari mana asalnya?’ Arab badui itu menjawab: ‘Ya Rasulullah, itu mungkin dari keringatnya yang mencabut warna abu-abu itu.’ Rasululla berkata: ‘Atau mungkin ini keringat yang mencabut satu helai saja.’ Dan Rasulullah tidak membiarkannya larut dalam pengingkarannya (sikap tidak terima).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saling percaya satu sama lain di antara suami istri akan melahirkan kesetiaan di antara mereka. Tidak akan ada rahasia yang mereka perlu tutupi. Semua akan terbuka dan nampak terang benderang laksana siang hari. Sebagai contoh misalnya, sikap saling terbuka dalam hal telpon selular, suami dapat bebas melihat dan membaca siapa saja teman-teman istrinya atau apa saja kegiatan atau percakapan chattingan istrinya. Begitupun sebaliknya, istri tidak akan sungkan membuka dan membaca isi percakapan telpon suaminya.

Kepercayaan antara suami dengan istri dapat menjadi sesuatu yang sulit dilakukan, manakala keduanya menganggap bahwa kehidupan rumah tangga merupakan beban bagi dirinya. Ia Selalu memandang perjalanan rumah tangganya adalah persoalan yang tidak pernah habis. Maka kepercayaan kepada pasangan akan sulit terbangun.

Namun, pada pasangan suami istri yang menganggap bahwa rumah tangganya adalah ladang tempat mereka beribadah, maka kepercayaan ini akan sangat mudah untuk dibangun. Keduanya akan senantiasa menjalani kehidupan rumah tangga dengan nilai-nilai kebaikan agar rumah tangganya menjadi bernilai suatu ibadah. Berbaik sangka kepada sesama muslim saja dianjurkan oleh Allah, apalagi berbaik sangka kepada pasangan hidup yang menjadi orang terdekat.

Kepercayaan suami istri harus merupakan aktifitas yang timbal balik, mesti ada pada keduanya. Tidak sempurna bila kepercayaan itu hanya ada pada salah satu pihak. Dan tidak boleh dikeruhkan oleh kotoran dan noda sekecil apapun. Karena sedikit saja kepercayaan ini ternodai oleh salah satunya, maka dapat mengurangi rasa cinta dari yang lainnya. Dan hal ini dapat mempengaruhi kekokohan bangunan rumah tangga.

Pasangan suami istri harus mengedepankan sikap berbaik sangka kepada pasangan, jangan justru memperbesar rasa curiga terhadap pasangan. Semakin besar kecurigaan terhadap pasangan akan semakin membuat kehidupan rumah tangga itu menjadi selalu dilanda kegelisahan, tidak merasa tenang dan tentram. Ketika rasa curiga yang mendominasi dalam hati, ranjang tempat tidur berdua seakan-akan menjadi ranjang berduri yang siap menusuk mereka. Atau ketika keduanya berjalan bersama, seolah-olah mereka sedang meniti jalan yang penuh bara api yang dapat membakar keduanya.

 

Perangkat-perangkat Baik Sangka

Bila seseorang mempercayai pasangannya, maka ia akan cenderung untuk memaafkan dan melupakan kesalahannya, karena ia tidak akan memperpanjang masalah yang ditimbulkan oleh pasangannya saat itu. Berbeda dengan orang yang tidak mempercayai pasangannya, ia akan terus menerus teringat dan terngiang-ngiang dengan apa yang telah diiperbuat  oleh pasangannya dan mengasumsikan  bahwa pasangannya itu memiliki perilaku buruk. Hal ini dapat membuat seseorang sulit untuk memaafkan dan melupakan kesalahan pasangan.

Karena itu, dalam rumah tangga harus selalu tumbuh sikap berbaik sangka kepada pasangan agar keduanya dapat saling percaya. Ada hal yang harus senantiasa dipegang oleh pasangan suami istri dalam etika berbaik sangka yaitu, tidak mengungkit masa lalu dari kesalahan atau dosa pasangan. Karena Allah swt sendiri memerintahkan untuk menutup aib dan dosa, baik aib sendiri maupun aib orang lain.

Tidak pantas seorang bertanya kepada pasangannya dengan pertanyaan yang ngawur, seperti misalnya: “Apa cinta kita ini adalah cinta pertamamu?” Atau: “Apakah engkau pernah berhubungan dengan orang lain sebelum ini?” Bila salah satu di antara pasangan itu membenarkan pertanyaan itu, maka itu pun merupakan jawaban yang ngawur. Seharusnya pertanyaan yang ngawur dijawab dengan jawaban bijaksana, bukan jawaban yang melantur pula.

Untuk membangun kepercayaan dalam hubungan antara suami dengan istri, keduanya perlu mengingat satu hal, yaitu jangan pernah menghakimi pasangan. Ketika seseorang mendengar atau melihat sesuatu dari pasangannya, seringkali ia terlalu cepat berkomentar, mendahulukan mulutnya dari pada hati dan akalnya. Hal ini dapat mengakibatkan seseorang untuk cenderung menghakimi, sehingga akan membuat pasangannya menjadi berpikir dua kali untuk bercerita lagi kepadanya.

Maka, belajarlah untuk menjadi orang yang bisa menerima dan berempati dengan keadaan pasangan. Karena hal ini merupakan modal bagi suami istri untuk menumbuhkan sikap saling percaya di antara keduanya. Suami dan istri membutuhkan perasaan aman satu sama lain, karena itu janganlah saling menyerang atau menghakimi pasangan.