HomeKisah InspiratifSeberapa Besar Sabarmu?
22999989_1729218763769637_512993813305824003_o

Seberapa Besar Sabarmu?

Kisah Inspiratif 0 1 likes 228 views share

Cukupkah Bekal Sabarmu?

@Ummu Rochimah

“Masih lama ya bu… ibu tunggu saja di luar nanti dipanggil.” begitu pesan tante suster setelah mengukur tensi darah dan sedikit interview riwayat penyakit. Secara saya adalah pasien yang baru pertama kali berkunjung ke poliklinik bedah di RSCM.

Dengan modal perkataan suster tersebut dan mengingat nomor antrian saya yang bertengger di angka 073, pede saja saya dan suami memutuskan untuk makan dan sholat zhuhur terlebih dahulu. Karena saat itu waktu sudah menunjukkan sekira pukul 11.30, sedangkan waktu zhuhur sekira pukul 11.38.

Dengan santai, kami berjalan meninggalkan poli bedah lalu menuruni tangga dan menyusuri koridor RS mencari penganan sekedar pengganjal perut dan menuju musholla. Kenapa tidak ke masjid? Mulanya kami ingin mencoba untuk sholat di masjid RSCM yang tersohor itu. Tapi setelah suami bertanya ke om satpam, ternyata jawabannya,”Jauuh… pak masjidnya dari sini, bapak ibu ke musholla saja lebih dekat” Ohh begitu, dan sebagai orang yang baru pertama kali menjejakkan kaki di RS ini, baiklah kami percaya saja dulu pada petugas, nanti selepas ini baru menjelajah ke sudut-sudut lain.

Selepas menunaikan hak tubuh dan kewajiban diri, kembali kaki ini melangkah menuju poli bedah RSCM di lantai 2. Sesampai di dalam, terlihat masih cukup banyak pasien yang menunggu panggilan. Kami pun segera mencari posisi duduk yang agak nyaman, cukup untuk bisa terdengar oleh telinga bila suatu saat dipanggil.

Waktu terus bergulir, detak jam seperti berjalan dengan lambat, saya khusyu’ mendengarkan panggilan, sambil sesekali tengok kanan kiri dan ngobrol sekilas dengan pasien lain. Terdengar sesekali suster memanggil nama pasien, sempat muncul sebentuk tanya dalam hati dan timbul rasa penasaran juga, mengapa bukan nomor antrian yang dipanggil, mengapa justru nama pasien yang dipanggil? Tapi akhirnya tanya ini menguap dari kepala seiring rasa lelah yang mulai menyergap. Pak suami yang menemanipun tetap diam dalam duduknya, tidak menunjukkan keberatannya untuk tetap menunggu. Sehingga membuat saya mencoba tetap tenang dalam penantian.

Ternyata rasa penasaran itu tak bisa hilang, hingga akhirnya tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya kepada pasien yang duduk di sebelah, “Ibu nomor antriannya berapa?” Dan ibu yang duduk di sebelah saya menjawab, “Nomor 041,”
Jawaban singkat yang cukup menentramkan saat itu, dalam hati berkata,”Nomor 041 saja belum dipanggil apalagi nomor 073…”
Yah, cukup dengan menambah rasa sabar saja lah untuk sampai dipanggil.

Sesekali terdengar lagi suster memanggil pasien lain, dan si ibu pasien di sebelah pun sudah berlalu memasuki ruang periksa dokter. Hingga kemudian sekira satu jam berlalu dan antrian semakin berkurang, namun nama saya belum juga terdengar menggema di ruangan.
Sabarr!! seru hati kepada akal.

Hingga kemudian secara tidak sengaja tertangkap oleh mata saya file rekam medis seorang pasien dengan tempelan nomor antrian 077 dipanggil oleh suster, sontak saya berdiri dan berjalan mengikuti suster memasuki ruang periksa, dengan rasa tidak sabar saya berucap, “Suster, saya nomor 073 mengapa belum dipanggil?!” ujar saya dengan sedikit nada protes.
Lalu suster berjalan memasuki ruangan, satu persatu bilik dokter dimasukinya, saya mengikuti di belakangnya selayaknya ekor. Dan di salah satu ruangan, nampak seberkas file dengan nomor antrian 073 tergeletak di atas meja dokter tersebut.
“Duuh..! Ibu sudah dari tadi dipanggil, tapi ngga ada..!! ujarnya dengan sedikit keras.

“Waduuh.. maaf, mungkin pas saya sholat kali ya? Tapi selesai sholat saya langsung ke ruang tunggu lagi.” sahut saya cemas dengan sedikit membela diri.

“Iya, tadi ibu sudah saya panggil tiga kali.” dokter di depan saya membenarkan ucapan suster.

“Tapi ya sudah, silakan ibu duduk.” ucap dokter menghilangkan perasaan cemas yang sempat muncul, khawatir ditolak untuk diperiksa, dan harus mengulang proses dari awal. Lalu pemeriksaan pun dilanjutkan.

Huuff….. legaa..!

 

💡Hikmah Kisah🌺

Pertama, ternyata nomor antrian di poliklinik ini tidak merepresentasikan urutan panggilan. Entahlah, mengapa ini terjadi, belum sempat terpikirkan jawabnya. Atau saya belum memahami mekanismenya. Jadi cukup memperbanyak doa supaya namanya segera dipanggil. Heu..heeuuu…. 😥

Kedua, dari pengalaman ini, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri, bahwa boleh jadi di mata Allah bab mengenai sabar saya belum selesai, belum lulus, sehingga Allah membuat skenario seperti itu.

Terkadang bagi sebagian orang lebih mudah memilih untuk menyalahkan orang lain atas peristiwa yang menimpanya. Ini yang menyebabkan banyaknya kebencian-kebencian terhadap orang lain muncul dalam diri seseorang. Melihat dan menilai negatif terhadap orang lain.

Padahal, bila kita memahami hakikat takdir Allah, bahwa tidak ada sesuatu pun kejadian atau peristiwa di muka bumi ini terjadi tanpa seizin Nya. Apapun peristiwa itu, sebuah kesenangan atau kesulitan yang menghampiri kita, yakinlah bahwa itu semua adalah seizin Allah.

Lalu mengapa kita harus menyalahkan orang lain atas peristiwa itu? Terburu-buru membenci orang lain atas kejadian yang kita alami. Padahal kalau dipikir, dari pada mengotori hati dengan menilai negatif dan benci kepada orang lain, mengapa tidak kita adukan saja semua nya kepada Allah? Mengadulah kepada Allah. Curahkan saja semua perasaan kita kepada pembuat skenario hidup kita, dijamin setelah itu hati akan menjadi lapang. Hidup kita pun akan menjadi lebih baik dan bahagia.

Kebahagiaan kita bukan ditentukan oleh perlakuan orang lain terhadap kita, tapi lebih kepada cara kita menyikapi semua persoalan yang menghampiri hidup kita.

Ketiga, jangan pernah lupa bawa bekal makanan dan terutama minuman untuk apapun urusannya di RSCM, karena tempat jual makanan jauh aja, pegelll jalannya 😂

“Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannashir”

#catatankehidupan
#mytripmylesson