HomePernikahanSeberapa Jauh Jarak antara Akal dan Perasaan?
pak cah

Seberapa Jauh Jarak antara Akal dan Perasaan?

Pernikahan 0 0 likes 2.2K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Tahukah anda, seberapa jauh jarak yang terbentang antara akalnya laki-laki dan perasaan perempuan? Sungguh, saya tidak ingin membesar-besarkan perbedaan. Namun sekedar berbagi, agar kalian bersiap diri dan bisa menghindari. Bagi saya, mudah memahami mengapa kaum perempuan lebih cepat merasakan ketidakpuasan dalam hidup berumah tangga. Mudah juga bagi saya memahami fakta bahwa 70 % perceraian terjadi karena gugat cerai pihak istri.

Kami menyaksikan fenomena ‘jarak akal dan perasaan’ ini setiap hari di ruang konseling. Ini yang sering saya sampaikan di Kelas Pranikah : kelak saat kalian menikah, air mata perempuan mudah tumpah karena merasa tersakiti oleh ucapan dan tindakan suami. Sementara suami merasa heran mengapa istri bisa menangis oleh ucapan yang baginya ‘cuma kayak gitu’, atau tindakan yang baginya biasa saja.

Ada yang Terluka, Ada yang Tidak Merasa

Seorang isteri datang ke ruang konseling, bercerita dengan air mata yang tumpah ruah. Menyampaikan semua kegetiran yang dialami selama hidup berumah tangga. Seakan tidak ada sisi bahagia sama sekali, karena tertutup oleh berbagai kesedihan yang dipendam dalam-dalam.

“Namun yang saya heran, suami saya merasa tidak ada masalah. Setiap saya ajak berbicara tentang masalah rumah tangga, ia selalu mengatakan tidak ada masalah. Ia merasa baik-baik saja, jadi ia menyimpulkan sayalah yang bermasalah”, ungkap sang isteri.

Mengapa suami merasa tidak ada masalah, sedangkan sang isteri merasa ada sangat banyak masalah dalam keluarga? Benarkah suami tidak pernah memiliki masalah? Salah satu yang membuat suasana perbedaan tersebut adalah sebanyak apa suami dan isteri menggunakan potensi akal dan perasaannya.

Ketika menghadapi masalah, lelaki cenderung lebih banyak menggunakan akal, sehingga selalu berusaha bersikap rasional dalam memahami realitas masalah. Lelaki memiliki ukuran-ukuran tersendiri tentang berat atau ringannya suatu masalah, tentang sulit atau mudahnya menyelesaikan masalah.

Ego kelelakiannya dan konstruksi sosial yang terbentuk di masyarakat selama ini, mengajak ia untuk tidak mau tampak ada masalah di mata istri. “Aku bisa”, adalah kata akal lelaki. Pantang disebut tidak bisa dan tidak mampu.

Berbeda dengan perempuan yang lebih banyak menggunakan potensi perasaan. Dengan perasaannya, isteri merasakan tekanan yang berat saat menghadapi masalah. Menangis bagi kaum perempuan adalah bahasa perasaan, tidak saja soal kesedihan atau keberatan suatu masalah, bahkan perempuan bisa menangis untuk hal-hal yang tidak mampu ia jelaskan.

Sulit memahami karakter suami, cukup membuat para istri menangis. Sambil merasakan keheranan, betapa anehnya laki-laki. Ini di sisi istri. Di sisi suami, mereka pun sulit mengerti mengapa istrinya demikian cemas dan banyak menuntut. Banyak suami tidak mengerti tuntutan istri, sambil merasa keheranan, betapa anehnya perempuan.

Ketika menghadapi persoalan keluarga, suami dengan akalnya memerlukan bahan perbandingan untuk mengatakan suatu masalah sebagai berat atau ringan. Bagi kaum perempuan, karena ia banyak menggunakan potensi perasaan, maka lebih mudah baginya untuk merasakan tingkat keberatan atau kerumitan masalah tersebut. Tanpa harus membandingkan dengan masalah lain.

Menuju Harmoni

Saya selalu meyakini bahwa semua hal dalam hidup berumah tangga itu bisa dipelajari. Ada sebab-sebab yang bisa dipelajari dan dijelaskan secara akdemik, mengapa sebuah keluarga bisa harmonis dan bahagia. Ada pula sebab-sebab yang bisa dijelaskan secara akademik, mengapa sebuah keluarga lebih sering mengalami benturan, konflik dan pertengkaran dari hari ke hari. Hingga akhirnya banyak yang memilih untuk bercerai.

Tidak sulit memahami laki-laki, tidak sulit memahami perempuan. Tidak sulit memahami karakter suami, tidak sulit memahami karakter istri. Sepanjang kedua belah pihak saling membuka diri untuk terus belajar dan mengerti, mencari informasi, selalu berusaha memahami. Sangat banyak buku dan kepustakaan untuk bisa dipelajari, sebagai pondasi memahami siapa suami dan siapa istri. Yang sulit adalah fase membuka diri.

Ego yang sama-sama tinggi membuat suami dan istri selalu menciptakan jarak, enggan melakukan hal terbaik untuk pasangan. Saling membuat syarat untuk hadirnya cinta : “Aku mau berubah, jika kamu pun berubah. Sayangnya aku tidak melihat kamu mau berubah, maka akupun tidak mau berubah. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu tidak meminta maaf kepada aku”. Itulah yang sering terjadi, saling menciptakan jarak, saling membuat syarat. Akhirnya tercipta jarak, semakin lama semakin jauh.

Jika suami dan istri berhasil membuka diri untuk mengerti, memahami, menerima dan berubah bersama-sama pasangan menuju kondisi yang lebih baik, maka harapan penyatuan sangat terbuka lebar. Jika saling menutup diri, saling menuduh, saling melukai, saling menghukum, saling mencela, saling mengkritik, saling menyalahkan, saling menyerang, saling mendiamkan, saling menjauh, maka selamanya mereka tidak akan pernah mengalami penyatuan hati dan jiwa.

Saling membuka diri, saling mengerti, saling memahami, saling memberi yang terbaik, itulah kunci untuk selalu menjaga kebahagiaan dan keharmonisan keluarga.