HomePernikahanSedang Mencari Calon Suami ? Pilih Lelaki Salih
1b47f382bb69c9c93a9be31f66f2fad6_L

Sedang Mencari Calon Suami ? Pilih Lelaki Salih

Pernikahan 0 5 likes 3.1K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

“Baru setahun saya menikah dengannya, namun serasa sudah beratus tahun. Saya sangat tersiksa sejak bulan pertama menikah. Orangnya sangat kasar dan temperamental. Suka berkata-kata kotor dan menyakiti badan saya. Benar-benar saya sudah tidak tahan hidup dengannya”, ungkap seorang istri di sela isak tangisnya.

Lebay? Sama sekali tidak. Itu kisah nyata, bukan drama atau film dan sinema. Menikah yang dibayangkan penuh keindahan, ternyata hanyalah kehidupan yang penuh penderitaan. Di ruang konseling, kami hampir setiap hari mendengar curhat yang semacam itu. Sedih, namun itu adalah realitas yang tak bisa diselesaikan hanya dengan kesedihan. Semua sudah terlanjur, dan harus diurai persoalan untuk mendapatkan jalan keluar yang membahagiakan.

Jenis-jenis Suami

Mungkin anda menganggap saya mengada-ada ketika membuat pembagian suami berdasarkan jenisnya. Namun saya ingin menunjukkan kepada anda semua, bahwa kenyataannya memang ada berbagai jenis suami, jika dilihat dari cara memperlakukan sang istri. Secara sederhana, saya bagi menjadi tiga jenis saja, untuk membuat lebih mengerti tentang perbedaan-perbedaan di antara suami.

  1. Suami “Negatif”

Yang dimaksud adalah suami yang terbiasa menyakiti istri, baik fisik maupun psikis, atau bahkan keduanya. Ada pula suami yang tidak bertanggung jawab, tidak memberikan nafkah lahir maupun bathin. Ada suami yang tidak jelas, setelah menikah ternyata tidak ‘berfungsi’ sebagaimana mestinya. janji yang diucapkan saat akad nikah. Ada pula suami yang meninggalkan sang istri tanpa kejelasan. Ada suami yang tinggal di rumah tidak mau bekerja, sementara menyuruh sang istri bekerja keras mencukupi kehidupan keluarga. Ada suami yang berperilaku seksual menyimpang. Ada suami tukang selingkuh.

Ada suami yang kasar, suka membentak, berlaku galak, dan memaki-maki sang istri. Ada suami tukang mabuk dan judi, harta keluarga habis untuk mabuk dan judi. Ada suami lebih mencintai hobi daripada istri. Ada suami yang kerjanya foya-foya padahal tidak bekerja. Ada suami yang tidak mengerti sama sekali tentang pendidikan anak, sehingga tidak terlibat dalam pengasuhan dan pembinaan anak-anak, semua diserahkan kepada istri. Dan berbagai tipe negatif lainnya.

  1. Suami “Normatif’

Yang dimaksud adalah suami yang melaksanakan peran dan memenuhi kewajiban sebagai suami. Bekerja keras mencari nafkah, mencukupi kebutuhan hidup berumah tangga, memberikan pendidikan kepada anak, juga berkegiatan sosial bersama masyarakat sekitar. Namun bukan sosok yang pengertian dan perhatian terhadap istri. Tidak bisa berlaku romantis, tidak bisa bersikap mesra, tidak bisa memperlakukan istri sesuai harapan istri.

Suami seperti ini tidak melakukan hal-hal yang menyimpang atau menyeleweng, hanya saja kurang bisa membahagiakan keluarga. Di rumah lebih banyak diam, tidak banyak bicara, lebih suka bekerja melakukan hal yang bermanfaat. Pada dasarnya dia setia, juga bertanggung jawab. Namun tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kebutuhan emosional istri. Yang penting sudah memberikan nafkah yang mencukupi, serta memberikan kebutuhan biologis untuk memuaskan istri di ranjang.

  1. Suami “Positif”

Yang dimaksud adalah sosok suami yang bukan saja melaksanakan peran serta kewajiban hidup berumah tangga, bukan saja tidak melakukan pelanggaran dan penyimpangan, namun juga bisa memperlakukan istri sesuai harapan dan keinginan sang istri. Mereka adalah sosok suami yang penuh pengertian, penuh perhatian, berlaku mesra dan romantis, namun juga tegas dan bisa mengambil keputusan di saat yang diperlukan.

Tidak perlu membayangkan sosok sempurna, karena memang tidak ada manusia sempurna. Namun suami tipe ini tidak mau melakukan tindakan yang bisa menyakiti dan menzhalimi istri. Mereka tidak akan mentelantarkan, meninggalkan, melakukan kekerasan fisik maupun psikis. Mereka tetap memuliakan istri kendati ada hal yang tidak disukai. Mereka tetap mencintai istri kendati ada kekurangan dan kelemahan pada diri sang istri.

Adakah suami positif di zaman cyber ini? Pasti ada, dan sangat banyak jumlahnya. Para lelaki yang menempa kebaikan diri melalui kegiatan keagamaan. Para lelaki salih yang aktif berkegiatan di majelis ilmu. Para lelaki yang menjaga shalat berjama’ah di masjid. Para lelaki yang menjaga tilawahnya. Para lelaki yang menjaga ibadah. Para lelaki yang menjaga diri mereka dari yang syubhat apalagi haram. Para lelaki pekerja keras mencari rejeki halal. Para lelaki yang menghormati kedua orang tuanya, menyayangi saudaranya, santun kepada sesama.

Suami Salih, Dambaan Semua Perempuan Salihah

Maka ketika anda tengah berproses menuju pernikahan, jangan sembarangan memilih calon suami. Kesalahan dalam memilih suami akan berdampak panjang dalam kehidupan anda, dunia dan akhirat. Pilihlah calon suami yang salih, yang akan mencintai, memuliakan, menjaga dan membimbing anda hingga ke surga. Hanya lelaki salih yang akan bisa memuliakan dan menghormati perempuan, tidak akan menyakiti, mentelantarkan atau menyia-nyiakan istrinya.

Kadang penampilan seorang laki-laki sedemikian menarik dan tampak terhormat, akan tetapi kepribadiannya tidak bisa ditebak hanya oleh penampilan fisik semata-mata. Ketertipuan oleh casing atau penampilan memang sangat mungkin terjadi oleh karena sikap keberpura-puraan, atau asesoris dan atribut yang melekat pada diri seseorang. Atribut yang melekat pada diri seseorang, bahwa dia direktur, bahwa dia pejabat, bahwa dia pemimpin perusahaan besar, telah menimbulkan persepsi awal bahwa ia layak dipercaya. Padahal atribut seperti itu tidak bisa dengan sendirinya menjadi jaminan kebaikan seseorang.

Casing bisa saja direkayasa, atribut dan asesoris itu bisa saja imitasi. Apalagi di zaman cyber sekarang ini. Sangat mudah melakukan rekayasa image dan citra. Maka jangan terjebak dalam hal-hal yang bercorak fisik atau materi semata-mata, karena memilih calon suami akan berdampak sangat panjang dalam kehidupan anda, baik dunia maupun akhirat. Pertimbangkan masak-masak, pikirkan dengan jernih, lakukan upaya spiritual dengan istikharah, upayakan meminta nasihat dan pertimbangan dari orang-orang yang terpercaya agar tepat dan selamat dalam menentukan calon suami.

Banyak perempuan terpedaya oleh sesuatu yang masuk melalui perasaan dan hatinya, bukan oleh sesuatu yang masuk melalui penglihatan matanya. Misalnya laki-laki yang pandai merayu, memberikan perhatian secara serius, menampakkan pengertian dan sikap care, menunjukkan kebaikan dalam perilaku, akan lebih menggoda bagi kaum perempuan.

Mengingat ketertipuan sangat mungkin terjadi, hendaknya para perempuan jomblo menjadikan pertimbangan kebaikan agama sebagai landasan utama pemilihan suami. Adalah sah bagi perempuan untuk memilih calon suami yang kaya, tampan, memiliki status sosial yang bagus, berpangkat, berpendidikan tinggi, dari keluarga yang baik, macho, atletis, dan ribuan sifat lainnya, tetapi landasan kebaikan agama tetap harus dinomorsatukan. Dengan kebaikan agama, menjadikan ia lelaki shalih yang akan memuliakan dan membimbing istrinya ke surga dunia maupun surga akhirat.

Suatu ketika ada seorang laki-laki menghadap Hasan bin Ali, sembari bertanya, “Ya Hasan, puteriku akan dipinang, kepada siapakah aku harus menikahkannya?” Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkan puterimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bila ia mencintainya pasti akan menghormati dan memuliakannya, dan bila ia tidak mencintainya pasti tidak akan menzhalimi puterimu.”

Inilah landasan memilih suami bagi para perempuan lajang. Jangan sampai salah pilih, jangan sampai terjebak casing, jangan tertipu penampilan semu. Pilih dengan hati, dengan pikiran yang bening, dengan istikharah, dengan musyawarah kepada orang-orang yang dipercaya kebaikannya.