HomePernikahanSehabis Cekcok Terbitlah Cinta
ilustrasi : www.pinterest.com

Sehabis Cekcok Terbitlah Cinta

Pernikahan 0 2 likes 1.6K views share

SEHABIS CEKCOK TERBITLAH CINTA

@Ummu Rochimah

 

Kehidupan rumah tangga adalah suatu bentuk perpaduan antara dua manusia yang berbeda, baik berbeda secara fisik maupun psikologis, berbeda dalam akal dan pikiran, berbeda cara pandang dan lain-lain. Karena itu, dalam kehidupan rumah tangga tidak mungkin tanpa adanya cekcok atau pertengkaran antara suami istri. Karena cekcok menjadi salah satu tanda bahwa rumah tangga tersebut hidup, ada dinamisasi di dalamnya.

Justru harus dipertanyakan jika sebuah rumah tangga tidak pernah mengalami cekcok antara suami dengan istri. Justru akan menjadi aneh jika suami istri tidak pernah mengalami pertengkaran. Benarkah rumah tangga itu dibangun oleh dua orang manusia atau bukan jenis manusia.

Hanya yang perlu diperhatikan dalam hal cekcok antara suami istri adalah cara mengelolanya. Perhatikan ilustrasi dalam kisah berikut yang ditulis oleh John Gray dalam bukunya ‘Why Mars and Venus Collide’.

Emily dan Roger tengah membahas tempat berlibur dan pembicaraan menjadi memanas.

“Sudah tiga kali Thankgiving kita rayakan dengan orang tuamu,” kata Emily dengan nada tidak senang. “Thankgiving salah satu liburan kesukaanku. Aku ingin melewatkannya dengan keluargaku.”

“Tapi itu artinya kita harus pergi jauh hanya untuk makan.”  protes Roger. “Sangat tidak menyenangkan.”

“Tapi tidak ada aturan kita harus selalu mengunjungi keluargamu setiap Thankgiving, kan?” ucap Emily

“Konyol sekali. Kenapa kau membesar-besarka soal itu?!.” sahut Roger

“Apa tidak bisa sekali saja diubah rutinitas liburan kita? Kenapa kau kaku sekali sih?!” Emily mulai menyalahkan Roger

“Kenapa masalah ini jadi begitu penting untukmu?!” Roger mulai marah. “Hanya kalkun saja, lagi pula ibuku lebih pintar memasak.”

“Bisa-bisanya kau bicara seperti itu. Aku tidak terima!!” Emily sakit hati dan emosinya meninggi.

“Keluargamu heboh.”

“Setidaknya orangtuaku membantu kita berdua.”

“Apa maksudnya?”

“Jangan memulai….”

“Tahu tidak, kupikir kita harus hentikan  pembicaran ini sekarang. Aku mau baca buku.”

Dan Roger pun meninggalkan ruangan.

Ilustrasi percakapan di atas dapat terjadi di mana saja, dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Namun inti perbicaraannya kurang lebih sama. Liburan dan keluarga selalu dapat memancing emosi yang akhirnya dapat menimbulkan percekcokan.

Salah satu tantangan terbesar dalam upaya menjaga hubungan kasih sayang antara suami istri adalah dalam hal berinteraksi dengan perbedaaan-perbedaaan yang terdapat di antara mereka. Biasanya bila pasangan suami istri berbeda pendapat, maka diskusi yang semula hangat dapat berubah menjadi panas membara yang akhirnya dapat membakar keduanya.

Ada dua model hubungan pernikahan yang diwarnai dengan  pertengkaran. Ada pasangan suami istri yang selalu terlibat pertengkaran dan perdebatan. Akibatnya seiring perjalanan waktu, cinta keduanya akan semakin lemah, kemudian layu sehingga mati.

Model hubungan kedua, yaitu pasangan suami istri yang meskipun ada perbedaan dan perselisihan, namun keduanya selalu berusaha menekan emosinya dan berpura-pura tenang, sepertinya semua berjalan biasa-biasa saja dan tidak ada permasalahan antara mereka. Akibat tertekan emosi dan perasaannya, dengan berjalannya waktu akan menyebabkan hilangnya perasaan cinta di antara keduanya.

Dalam dua model di atas, terlihat bahwa model pertama, mereka hidup dalam konflik nyata. Sementara model kedua, mereka hidup dalam konflik terpendam. Kedua-duanya tidak baik dan tidak akan memberikan kebahagiaan.

Apa yang Terjadi Saat Suami Istri Cekcok?

Sebuah diskusi di antara suami istri yang semula ringan dan hangat dapat tiba-tiba menjadi pertengkaran yang panas membara disebabkan oleh keduanya lupa bahwa mereka-suami dan istri- memiliki tabiat yang berbeda. Mereka lupa pada perbedaan psikologis antara mereka.  Pertengkaran ini tidak hanya melukai salah satu, namun terkadang dapat melukai keduanya.

Bila suatu pertengkaran tidak dapat dihindari, maka seharusnya keduanya mengingat akan suatu hal, yaitu bahwa seberapapun hebatnya pertengkaran itu, tidak boleh disertai dengan mencerca atau menghina satu sama lain yang akan memberikan pengaruh negatif. Saling menyalahkan atau mengolok-olok satu sama lain. Sebuah pertengakaran biasanya terjadi karena adanya perbedaan pandangan antara dua orang yang terlibat.  Pertengkaran yang dilakukan oleh dua orang yang sangat dekat hubungannya, seperti halnya suami istri hal ini justru akan membuat semakin sulit salah satu pihaknya menerima pandangan pihak lain.

Pertengkaran seperti inilah yang akan dapat melukai perasaan salah satu atau bahkan keduanya. Terlebih lagi suami istri adalah dua orang yang sangat dekat hubungannya. Terlukai atau tersakiti perasaan oleh orang yang sangat dekat dapat menimbulkan luka yang sangat dalam dan sulit untuk disembuhkan. Dan bila hal ini kerap terjadi, tidak mustahil bunga-bunga cinta dalam hati akan layu kemudian mati.

 

Mengambil Jeda untuk Menghindari Pertengkaran

Terkadang berbicara dapat menjadi jalan keluar dari suatu permasalahan, tetapi dalam kondisi tertentu tidak berbicara justru akan menjadi lebih efektif. Ketika ketegangan meningkat antara suami dan istri, salah satu ketrampilan yang paling penting adalah mengambil waktu jeda.

Saat pertengkaran mulai terjadi, seorang suami biasanya harus mengambil inisiatif untuk berlalu meninggalkan pertengkaran itu. Karena hormon laki-laki didesain untuk flight or fight, lari atau bertarung. Sedangkan perempuan, dalam keadaan tertekan hormonnya terdesain untuk lebih banyak bicara. Saat ketegangan mulai terbangun dan suara mulai meninggi, hal terbaik adalah menunda pembicaraan sampai kedua belah pihak sudah lebih tenang dan baik.

Selama waktu jeda ini, yang perlu dilakukan oleh seorang suami adalah melakukan sesuatu yang disenanginya dan seorang istri perlu berbicara dengan seseorang selain pasangannya. Ini sangat penting. Karena kadang-kadang, saat suami berlalu dari pertengkaran, seorang istri akan terus membuntuti dan  mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Situasi ini hanya akan memperburuk keadaan.

Untuk memulai waktu jeda, yang perlu dilakukan oleh mereka, entah suami atau istri cukup mengatakan kalimat yang sopan dan tidak pedas, kemudian berhenti bicara dan berlalu. Tinggalkan ruangan , sehingga otomatis ketegangan akan mereda. Masa jeda ini diperkirakan membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam untuk kemudian memulai lagi pembicaraan yang sama.

Bagi sebagian besar istri atau perempuan pada umumnya, mengambil waktu jeda adalah hal yang sulit dilakukan karena sifat alami perempuan yang suka berbicara saat dalam kondisi tertekan. Bagi sebagian perempuan, berbicara umumnya memang berguna untuk mengurangi tekanan, namun hal ini tidak berlaku bagi laki-laki. Dalam dunia perempuan, berlalu begitu saja ditengah percakapan merupakan sesuatu yang dianggap melanggar aturan, dapat membuat tersinggung dan marah.

Sementara bagi sebagian besar suami atau laki-laki secara umum, mengambil waktu jeda dengan meninggalkan arena pertengkaran justru sebenarnya untuk melindungi pasangannya dari serangan yang mungkin akan lebih menyakitkan yang muncul dari dalam diri mereka, yang terkadang muncul dalam bentuk serangan fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan lain-lain. Karena seorang laki-laki hanya memiliki pilihan, lari atau bertarung.

 

Yang Harus Dilakukan Saat Jeda

Ketika seorang istri mengambil waktu jeda, ia harus berpikir matang-matang dan berbicara dengan seorang teman, terapis, pembimbing, komunitasnya atau menuliskan perasaannya dalam diary dan bisa juga dengan berdoa. Dengan cara tersebut ia secara perlahan bisa mengenali perasaannya, memahami pikirannya untuk kemudian menemukan kebutuhan dan perasaan positif dirinya. Mengingat hal-hal baik yang telah dilakukan oleh suami terkadang dapat meredakan perasaan negatif seorang istri yang sedang dilanda emosi.

Dalam banyak kasus, seorang istri tidak dianjurkan untuk berbicara atau mencurahkan perasaannya saat itu kepada anggota keluarga lain, seperti anak, atau orang tua—mertua bagi pasangan–. Karena berbicara dengan anggota keluarga saat perasaan benci terhadap pasangan yang saat itu sedang memuncak, justru akan meninggalkan sebuah kesan negatif yang akan melekat dalam ingatan anggota keluarga lain. Sementara boleh jadi perasaan benci istri kepada pasangannya saat itu hanya perasaan sesaat, yang kemudian dapat menghilang.

Untuk suami yang mengambil jeda  pertengkaran, yang pertama ia harus lakukan adalah melakukan sesuatu yang membuat perasaannya lebih baik, lalu memikirkan cara yang lebih baik untuk membicarakan permasalahannya. Ia harus melakukan suatu aktifitas penghasil hormon testoteron yang dia senangi, seperti melakukan hobi atau kesukaannya, menonton pertandingan, atau membaca koran.

Setelah merasa lebih baik, dia bisa merenungkan apa yang tadi menjadi bahan pertengkaran, apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Ia perlu mengingat kata-kata persisnya yang tadi telah diucapkan, mengingat apa yang tidak ia katakan tapi seharusnya diungkapkan. Ia perlu melihat dengan kritis apa kesalahan pasangan dan apa kesalahan dirinya. Dengan berpikir seperti ini, seorang suami akan menempatkan dirinya dalam mode pemecahan masalah, hal yang selalu membuat suami merasa lebih baik dan menjadikannya pembicara yang baik.

Dia dapat mempertimbangkan apa yang dibutuhkan pasangan dan bagaimana seharusnya pasangan menyampaikan itu sehingga ia merasa lebih dihargai. Hal ini akan membantu suami memahammi bahwa tidak selalu mudah menyampaikan sesuatu dengan cara yang tidak mengganggu perasaan pasangan.

 

Dinamisasi sebuah pernikahan adalah suatu keniscayaan, pertengkaran antara suami dengan istri menunjukkan bahwa ada interaksi humanis di antara mereka. Pertengkaran hanyalah sarana latihan dan untuk menyalakan kembali api-api asmara.

Dengan pertengkaran, suami istri dapat mengetahui bagaimana cara bertengkar yang dapat menerbitkan kembali cinta mereka. Dengan pertengkaran, suami istri dapat mengetahui bagaimana menghadapi pertengkaran dan yang terpenting juga, mengetahui bagaimana menyudahi pertengkaran dengan baik.

 

Sumber :

John Gray, Ph.D, Why Mars and Venus Collide, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008