HomePernikahanSepuluh Menit Penyelamat Biduk Rumah Tangga
e6b788878d8ac6beb2ffb0dd79a92fce

Sepuluh Menit Penyelamat Biduk Rumah Tangga

Pernikahan 0 4 likes 1.8K views share

SEPULUH MENIT PENYELAMAT BIDUK RUMAH TANGGA

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Perjalanan kehidupan rumah tangga tak ada yang selamanya berjalan mulus dan lurus seperti jalan tol. Terkadang ditemui jalan berbatu atau jalan tanah tak beraspal. Ada tikungan dan persimpangan yang harus dilalui bersama. Suami istri harus saling menghargai dan mengenali sifat dan karakter pasangannya.

Suami akan merasa lebih berharga di hadapan istri manakala ia mampu menunjukkan keberadaan dirinya sebagai sosok yang mampu bersikap seperti layaknya seorang pahlawa. Ia mampu memberikan pertolongan manakala istrinya membutuhkan pertolongan. Ia mampu menenangkan istrinya ketika sang istri dilanda emosi jiwa karena ulah anak-anak atau karena pekerjaan rumah yang tak pernah habis, atau karena permasalahan di kantornya. Atau sekedar mendengarkan cuitan panjang istri yang ingin berbagi kisah hariannya.

Sebagaimana kisah di bawa ini, Lusi dan Teddy sepasang suami istri yang keduanya bekerja di luar rumah. Suatu malam keduanya terlibat obrolan santai dan ringan dalam suasana yang tenang dan rileks.

“Hari ini segalanya kacau,” Lusi memulai ceritanya. “Kamu pasti heran. Benar-benar tidak disangka, di luar perkiraan.” sambung Lusi

“Bagaimana ceritanya?” Teddy menunjukkan responnya

“Dalam perjalanan ke kantor tadi, aku berhenti sejenak di minimarket karena ada sesuatu yang harus aku beli…”

“Lalu.”

“Baru saja mau parkir, tiba-tiba ada seorang ibu dengan mobil sedan, terlihat ia sambil menelpon datang dari arah berlawanan dan menyerobot tempat parkir.”

“Masa?”

“Ya, seakan dunia miliknya. Lalu aku buka kaca jendela dan bicara padanya saat ia keluar mobil, ‘Hei, aku tadi akan parkir di sini.’”

“Lalu dia bilang apa?”

“Beuhh boro-boro menjawab, dia tidak acuh pergi begitu saja.”

“Ya ampunn, menyebalkan sekali!!”

“Ada ya orang seperti itu.”

“Terus, apa yang terjadi?”

“Karena merasa kesal, aku memutuskan untuk menenangkan diri sejenak dengan minum kopi sebelum memulai pekerjaan, aku beli secangkir kopi  di kantin gedung kantor.”

“Saat mau masuk lift menuju ruanganku, aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajuku.”

“Ya ampun!”

“Aku berusaha menghilangkan nodanya di toilet kantor, tapi masih tercium bau dan nodanya tidak hilang semua.”

“Kamu pasti jadi tidak nyaman.”

“Mmmm…”

“Aku paham.”

“Sudahlah, masih panjang lagi ceritanya, tapi sekarang aku sudah merasa lebih baik dibandingkan tadi.”

“Hari yang buruk ya.”

“Kadang kalau hari diawali dengan hal buruk, akan terus memburuk dan aku sulit untuk keluar dari situasi itu.”

“Aku tahu bagaimana rasanya.”

“Ya sudahlah, tapi setidaknya kita bisa menikmati malam ini.”

Teddy bangkit dari duduknya dan memeluk Lusi erat-erat. “Ya, hari esok akan lebih baik.”

“Kamu memang yang terbaik untuk ku.” Kata Lusi membalas pelukan Teddy. “Hanya dengan bicara denganmu saja aku sudah merasa lebih baik dan hilang semua peristiwa-peristiwa buruk itu.”

 

Obrolan di atas merupakan suatu episode di mana kadang kala seorang istri atau perempuan itu seringkali tidak benar-benar sedang berniat mencari solusi. Ia hanya butuh menyalurkan kebutuhan dasar untuk menjalin ikatan batin. Dengan cara itu seorang istri bisa berbagi segala hal hingga detil semua yang dialaminya seharian tanpa mengharapkan suatu hasil apa-apa. Ia hanya butuh untuk didengarkan ceritanya, bukan diberi solusi atas permasalahan. Hanya dengan berbagi melalui cerita tentang apa yang dialaminya sepanjang hari, tingkat oksitosin atau hormone bahagia seorang istri akan meningkat.

Jadwalkan Obrolan Remahan Itu!

Pasangan suami istri seharusnya mengagendakan obrolan seperti ini, obrolan ringan atau obrolan remahan  sebagai media untuk menjalin ikatan batin bagi keduanya. Dengan obrolan ini, seorang suami akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan tidak merasa terbebani dengan perasaan sebagai ‘problem solver’. Dan istri juga akan belajar untuk berbagi kepada suami pada waktu dan suasana yang tepat. Sehingga keduanya akan memiliki perasaan yang saling mengikat dan menguatkan.

Obrolan yang sepertinya sepele, hanya tentang peristiwa harian yang dialami oleh istri. Namun  obrolan seperti ini akan memberikan manfaat besar bagi seorang istri. Ketika  suami menerima semua perasaan istrinya dengan tulus tanpa penyangkalan, istri akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia akan melihat suaminya sebagai sosok yang luar biasa baiknya. Maka hanya akan ada sosok suami dalam hatinya.

Dari obrolan di atas, kita dapat melihat bahwa ternyata tanpa perlu mengeluarkan banyak kata-kata berupa petuah atau nasihat, suami dapat membantu istri untuk menemukan sendiri jalan keluar dari permasalahan dirinya.

Jadi inti dari obrolan remahan ini adalah membangun ikatan batin antara suami dengan istri. Ikatan yang sangat dibutuhkan oleh pasangan suami istri. Ikatan yang akan membuat suami istri menyatu tanpa ada sekat di antara keduanya. Semakin sering obrolan dilakukan antara suami dengan istri, akan semakin kuatlah ikatan yang terbangun di antara mereka. Keduanya akan semakin saling memahami bahkan dapat saling mengetahui isi hati dan pikiran pasangannya. Sehingga konflik antara keduanya menjadi semakin kecil bentuknya.

Obrolan ini bertujuan bahwa istri hanya berbagi dan suami mendengarkan, tanpa ada embel-embel pemecahanan masalah. Ketika suatu saat seorang istri mengatakan banyak hal yang harus ia kerjakan dan ia tidak tahu harus memulainya dari mana, atau ia mengatakan bahwa pekerjaan rumah tidak ada habis-habisnya. Hal ini harus dipahami suami bukan sebagai suatu permintaan bantuan atas problem-problem yang dihadapi istrinya, karena bantuan yang dibutuhkan istri saat itu adalah suami yang mau mendengarkan semua cuitannya.

Manfaat Obrolan Remahan

Obrolan ringan seperti ini harus dijadwalkan oleh pasangan suami istri, tidak usah menunggu saat merasa perlu untuk berbicara. Karena secara naluriah istri butuh tempat untuk menyalurkan keinginan berbicaranya sebagai peningkat hormone bahagianya. Dan obrolan ringan  ini jauh lebih efektif bila memang direncanakan. Tidak harus memakan waktu yang lama, obrolan ini cukup berlangsung selama 10 menit saja dan dilakukan paling sedikit tiga kali dalam seminggu. Biarkan istri berbicara mengeluarkan apa saja yang dirasakannya pada hari itu selama obrolan berlangsung, suami tidak perlu memberikan komentar apapun terhadap cerita istri. Bantuan yang diharapkan istri dari suami saat itu hanyalah suami mau mendengarkan semua ungkapan perasaannya saat itu. Dan ketika waktu sepuluh menit habis, istri saat itu akan merasa sangat lega dan lepas serta bahagia hatinya. Ia akan sangat berterima kasih kepada suami karena telah bersedia menjadi pendengar setianya.

Obrolan ringan ini akan menjadi lebih bermakna ketika diakhiri dengan saling berpelukan sebagai bentuk penguatan dari suami kepada istri dan penghargaan dari istri kepada suami. Waktu sepuluh menit yang dapat menentukan kebahagiaan pasangan suami istri sepanjang kehidupan rumah tangganya. Pasangan suami istri yang menjadwalkan obrolan ringan secara rutin akan mampu menjadikan obrolan lain yang tingkatnya lebih tinggi terbebas dari stres. Ketika suami istri suatu saat dihadapkan dengan suatu masalah dalam rumah tangganya, misalnnya mengenai permasalahan ekonomi keluarga, ketika keduanya sudah terbiasa mengobrol secara ringan, maka pembicaraan dalam rangka mencari penyelesaian suatu masalah menjadi lebih mudah dilakukan oleh keduanya, karena masing-masing sudah mengenal gaya bahasa dan tutur kata  bicara pasangan. Sehingga permasalahan yang timbul dalam rumah tangga saat itu tidak menjadi sumber konflik bagi keduanya.

Begitupun sebaliknya, pasangan yang tidak pernah atau jarang melakukan obrolan remahan ini, akan mengalami kesulitan manakala dihadapkan pada suatu permasalahan rumah tangga yang mengharuskan keduanya untuk berbicara dalam memutuskan perkara tersebut. Karena masing-masing belum atau tidak mengenali gaya bahasa dan tutur kata bicara pasangan, maka mudah sekali keduanya dilanda kesalah pahaman terhadap pasangan.

Maka, janganlah merasa bila obrolah remahan ini sesuatu yang tidak penting dalam kehidupan rumah tangga, justru obrolan remahan inilah yang dapat menyelamatkan biduk rumah tangga