HomeParentingSetulus Hati Mendengarkan Buah Hati
Ilsutrasi: pixabay.com

Setulus Hati Mendengarkan Buah Hati

Parenting 0 1 likes 169 views share

Oleh: Erni Nuryati*

Can any body hear me?  Begitulah judul dari salah satu buku yang kami pinjam beberapa hari yang lalu dari perpustakaan dekat rumah. Saat membaca judulnya, saya penasaran dengan isi buku ini, terlebih buku ini termasuk kategori buku bacaan anak-anak. Sempat terlintas bagaimana respon Ayyis, anak pertama saya setelah baca buku ini. Hmm.. Bisa menjadi bahan diskusi yang bagus dengan Ayyis.

Malamnya, kami langsung membaca bukunya bersama-sama. Karena Ayyis sedang belajar membaca, Ayyis membacakan buku untuk saya. Di lembar pertama, tertulis pesan dari penulisnya. Simpel, hanya empat kata tapi itu mengena di hati saya. Pesannya tertulis To Mum and Dad. Menarik!

Lembar demi lembar dibacakan Ayyis dan saya mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sesekali saya juga membenarkan bacaannya yang salah. Ceritanya adalah tentang seorang anak laki-laki bernama Jack. Jack anak pendiam di tengah keluarga yang “gaduh”. Suatu hari, Jack ingin mengatakan kepada keluarganya, bahwa ia akan pergi ke gunung. Awalnya dia mengatakan kepada ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur. Namun, ibunya yang sedang sibuk memasak, tidak merespon apa yang dikatakan Jack. Ibunya justru balik bertanya tentang makanan yang sedang dibuatnya.

Ah, baru lembar kedua, saya yang mendengarnya sudah baper. Jangan-jangan saya juga seperti ini.

Kemudian Ayyis membacakan lembar selanjutnya. Kali ini Jack mengatakan kepada nenek dan kakeknya yang sedang santai mengobrol. Nenek dan kakeknya pun tak merespon. Mereka justru bertanya tentang sweater yang akan dibuat oleh mereka. Di luar rumah, dia menemui ayahnya yang sedang sibuk memerah susu sapi, dan lagi-lagi Jack tak direspon. Kemudian, Jack menemui dua saudaranya yang sedang asyik bermain. Kali ini pun Jack tak direspon. Akhirnya, Jack pergi ke gunung ditemani boneka kesayangannya. Di puncak gunung, Jack yang sedih pun berteriak mencurahkan isi hatinya “Can anybody hear me?” Adakah yang bisa mendengarku? Jack pun bermain di gunung sampai larut malam. Di rumah, keluarga Jack pun menyadari bahwa Jack telah pergi. Tapi tidak ada yang tahu kemana perginya Jack, karena ketika jack meminta izin, keluarganya tidak ada yang mendengarkan. Malam semakin larut, keluarga Jack terus mencari ke seluruh sudut kota. Syukurlah, Jack masih ingat jalan pulang, dan keluarga yang mencari-carinya pun dapat menemukannya. Akhirnya, setelah kejadian tersebut, keluarga Jack menjadi pendengar setia setiap kata yang diucapkan Jack.

Setelah membaca, kami mengulas buku ini bersama-sama. Saya meminta Ayyis untuk mengulas apa yang baru saja dibacanya, “Mum, this is so sad story.. No body hear Jack.  Harusnya dia perbesar volum suaranya, supaya keluarganya bisa mendengarkannya”. Begitu ulasan dari seorang anak enam tahun ini. Kemudian dengan mata bulat yang menyiratkan keingintahuannya,  Ayyis balik bertanya “How about you, Mum?”

Ah, tiba-tiba saya merasa tersentil. Pesan dari penulis buku ini, dan pertanyaan Ayyis memang tak salah sasaran. Jangan-jangan saya pun pernah melakukan yang sama. Alih-alih sibuk, jadi tak mendengarkan cerita anak dengan sabar. Alih-alih sibuk, mendapati anak bertengkar, langsung saja disambut dengan serentetan pertanyaan dan omelan, bahkan ketika anak hendak berbicara, selalu saja memotongnya. Jangan-jangan saya pun pernah menjadi pendengar yang buruk.

Mendengarkan memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Maka sebagai orang tua, kita harus belajar meningkatkan kemampuan mendengarkan. Bagaimana caranya?

Pertama, dengarkan dahulu.
Bila kita menginginkan anak kita mendengarkan kita, kita seharusnya mendengarkan mereka terlebih dahulu. Seorang anak yang didengarkan akan belajar bagaimana seharusnya mereka mendengarkan, bukan? Dengarkan dahulu dan dengarkan dengan baik apa yang ingin disampaikan anak kita. Jangan langsung bereaksi atau memotong pembicaraan. Biarkan mereka berbagi cerita dan menyelesaikan apa yang hendak mereka katakan.

Kedua, dengarkan selalu.
Jadikan diri kita sebagai orangtua yang siap mendengar pada setiap kesempatan. Dengan mendengar, kita bisa mendapatkan informasi terkini tentang apa yang sedang terjadi dengan anak kita, apa yang sedang dipikirkannya dan apa yang sedang dirasakannya. Informasi yang didapat bisa jadi bersifat penting bahkan mendesak untuk segera ditangani.

Ketiga, mendengar aktif.
Kita bisa menjadi pendengar yang aktif ketika kita mampu memberikan perhatian yang penuh terhadap apa yang ingin disampaikan anak kita. Bagaimana cara mendengar aktif? Pertama, fokuskan perhatian kita terhadap apa yang dibicarakan anak kita sampai mereka selesai berbicara. Anak-anak biasanya tidak tahu apa yang sedang mereka rasakan. Dengan mendengar aktif, mereka dapat terbantu untuk mengeksplorasi apa yang mereka pikirkan dan rasakan, sehingga mereka mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang sedang mereka rasakan. Kemudian, ulangi kembali apa yang mereka sampaikan dan rasakan, tanpa ada tambahan interpretasi kita. Hanya mengulang kembali apa yang mereka katakan dan apa yang kita dengar. Misal, “Kakak bilang, kakak memukul Rayna karena dia nakal. Kakak marah dengan Rayna. Apa yang Ummi bilang, benar?” Setelah itu, perkenankan anak untuk mengoreksi kalimat yang kita katakan. Misalnya si anak akan mengoreksi, “Bukan! aku tadi memukulnya setelah Rayna bilang aku nakal, dan aku bilang kalau Rayna yang nakal. Dia bikin nangis. Kenapa Rayna bilang gitu ya, Mi?” Dan.. Percakapan pun menjadi terbuka, bukan? Dengan mendengar aktif, anak diberikan kesempatan untuk mengoreksi maksud yang kadang kita salah pahami, dan kemudian mereka dapat menceritakan kembali maksudnya secara jelas.


Ke
empat, luangkan waktu dan tempat untuk berbicara secara khusus.
Ada waktu-waktu tertentu yang terkadang kita tidak bisa mendengarkan anak dengan perhatian seratus persen. Lalu, apa yang bisa kita lakukan:

  1. Menjelaskan

Kita bisa berhenti sejenak dari kesibukan, setidaknya beberapa menit, lalu tatap mata anak dengan sayang, berterus terang dan katakanlah, “Ummi benar-benar ingin mendengarkannya apa yang ingin Kakak ceritakan, tapi sekarang ummi harus mengerjakan sesuatu. Nanti kita bicarakan lagi ya sayang.” Setelahnya, pastikan anak kita benar-benar merasa didengar, dilihat dan dihargai.

  1. Membuat Janji

Kita dapat membuat janji untuk fokus mendengarkan mereka. Kita dapat menyampaikannya dengan, “Kakak, bagaimana kalau ceritanya nanti setelah makan? Sambil minum cokelat. Oke?”

  1. Laksanakan

Sangat penting bagi kita untuk mengingat, bahwa kita mempunyai janji dan waktu khusus untuk fokus mendengarkan mereka. Jangan membuat mereka kecewa dengan janji-janji yang kita buat tapi tidak dipenuhi. Pada waktu yang lain, mereka tidak akan lagi percaya dengan janji kita.

Anak adalah cermin orang tuanya. Seorang anak yang didengarkan, akan belajar untuk mendengarkan. Memberikan perhatian dan menjadi pendengar yang baik adalah salah satu hal yang penting bagi perkembangan anak kita di masa mendatang. Sudahkah kita menjadi pendengar yang baik?

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.