HomePernikahanSiapa yang Cerewet, Laki-laki atau Perempuan?
service

Siapa yang Cerewet, Laki-laki atau Perempuan?

Pernikahan 0 4 likes 1.4K views share

SIAPA YANG CEREWET, LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN?

@Ummu Rochimah

Membaca judul di atas biasanya  kebanyakan orang akan langsung memberi jawaban, pasti perempuan!. Karena sudah menjadi keyakinan bagi banyak orang, bahwa perempuan adalah makhluk yang paling banyak bicara daripada laki-laki. Sudah dikenal oleh umum bahwa perempuan itu cerewet! Padahal dalam kenyataannya, keyakinan ini tidak sepenuhnya benar. Keyakinan tersebut hanyalah reduksi umum yang tidak  mendasar dan merugikan kaum perempuan.

Dalam kenyataannya, ketika di luar dan di tempat-tempat umum, justru laki-laki terlihat cerewet. Sedang perempuan terlihat sedikit bicara. Adapun ketika di dalam rumah, masalahnya akan berbalik, perempuan akan selalu banyak bicara dan laki-laki sedikit bicara atau diam.

Penyebabnya adalah, karena laki-laki memandang kehidupan luar seperti sebuah pergulatan. Tempat yang ganas. Dan ia wajib mempergunakan senjata yang ada pada dirinya untuk mewujudkan kemenangan, agar ia tetap pada kedudukannya yang tinggi di puncak piramida.

Selain itu harus menjaga dirinya dari usaha orang lain untuk menggeser dan mengejek dirinya. Dan senjata yang paling kuat dalam medan seperti ini tentu adalah bicara. Sehingga ia banyak mengeluarkan omongan, karena itulah maka ia tampak sebagai orang yang banyak bicara ketika berada di luar rumahnya. Namun, ketika ia kembali ke rumah ia akan menjadi terlihat sedikit bicara, karena menurut laki-laki, rumah adalah tempat yang tidak harus diisi dengan banyak bicara.

Sementara perempuan, mereka akan sedikit bicara ketika di luar rumah dan di tempat-tempat umum, namun ketika berada di dalam rumahnya, ia akan banyak berbicara dan bahkan  dapat membicarakan hampir semua hal. Maka ketika di rumah, nampak bahwa perempuan menjadi orang yang banyak bicara atau cerewet.

Banyak laki-laki yang beranggapan bahwa perempuan tidak akan bisa berhenti berbicara ketika berada dalam rumah. Ia akan membicarakan berbagai masalah, sampai ketika tidak ada lagi masalah atau sesuatu yang dapat dibicarakan, ia akan mencari-cari sesuatu untuk dibicarakan. Tentu hal ini dapat mengganggu dan mempengaruhi emosi laki-laki.

Seorang spesialis mengajak sekelompok laki-laki dan perempuan menghadiri seminar untuk mendiskusikan tema “Siapa yang banyak berbicara, laki-laki atau perempuan?” Ketika diskusi dimulai, terlihat ada seorang laki-laki di antara hadirin yang banyak berbicara. Ia menyampaikan banyak sekali pertanyaan, menjawab pertanyaan pihak lain dan ia tidak berhenti berbicara.

Ketika moderator mengatakan bahwa perempuan biasanya mengeluhkan suaminya yang diam ketika di rumah, lalu ia diam dan memandang istrinya yang duduk di sampingnya, yang tidak berbicara satu kata pun. Kemudian ia berdiri dan berkata: “Izinkan saya untuk mengatakan pengamatan yang penting dan istimewa. Istri saya tidak bisa berhenti bicara ketika berada di rumah.”

Seluruh hadirin tertawa ketika ia mengatakan hal itu. Karena mereka semua melihat, bahwa ia orang yang banyak bicara dan istrinya pendiam. Bagaimana bisa dianggap benar ungkapannya ini?

Ia merasa tidak enak dan malu, kemudian berkata: “Ini benar-benar terjadi. Ketika saya selesai bekerja dan pulang ke rumah, saya menjadi bodoh dan tidak mempunyai kata untuk dibicarakan. Sedang istri saya memiliki keinginan besar  untuk bicara dan tidak dapat berhenti.”

Yang menarik dari tema ini adalah, yang terjadi pada suami istri ketika berada di dalam rumah. Semuanya tahu bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk istirahat, menurut laki-laki maupun perempuan.

Namun pemahaman istirahat antara laki-laki dan perempuan berbeda. Istirahat menurut laki-laki adalah jauh dari pergulatan dalam pekerjaan di tempat umum, tidak perlu ada perdebatan-perdebatan atau keharusan melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk eksistensi dirinya. Istirahat adalah tidak ada pembicaraan, atau sekurang-kurangnya memiliki hak untuk tidak bicara. Dan rumah adalah tempat yang paling ideal bagi seorang laki-laki untuk beristirahat. Itulah mengapa kebanyakan laki-laki menjadi begitu pendiam ketika berada di dalam rumahnya.

Adapun istirahat menurut perempuan, adalah suatu perasaan bebas untuk mengutarakan semua yang ada dalam hatinya tanpa perlu rasa khawatir dan takut, dan rumah merupakan tempat terbaik yang dirasa bebas untuk berbicara apa saja, karena tidak ada ketakutan akan diamati oleh orang lain atau harus menafsirkan pembicaraan orang lain. Karena itulah perempuan terlihat  banyak bicara di rumah, baik pada hal-hal penting maupun tidak penting.

Coba kita bayangkan suatu kondisi yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari pasangan suami istri. Seorang suami yang lelah setelah menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja di luar rumah, lalu pulang ke rumah ingin beristirahat untuk mempersiapkan kegiatan selanjutnya. Sementara istri yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam rumah telah menunggu-nunggu kedatangan suami agar bisa menumpahkan semua kata-kata yang telah disimpannya sepanjang hari.

Sumber :

  1. Thariq Kamal An Nu’aimi, Psikologi Suami Istri, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2000