HomeParentingSikap Posesif pada Anak
Ilustrasi: pixabay.com

Sikap Posesif pada Anak

Parenting 0 0 likes 104 views share

Oleh: Yunelia Ineke (@inekeike)*

Setiap anak memiliki pola perilaku yang hampir sama. Lahir, menyusu, berkomunikasi sesuai tahap perkembangannya, mencoba sesuatu setiap hari, berusaha tak kenal takut dan khawatir, dan lain sebagainya. Ajaibnya semua dilakukan tanpa diajari. Ya, itulah pemberian kasih sayang dari Penciptanya. Agar ia bisa bertahan hidup. Kemampuan yang sudah Allah bekali sejak lahir. Fitur pelengkap produk.

Ada perilaku yang khas pada anak-anak terutama di bawah usia tujuh tahun, yaitu posesif. Dalam artikel ini, kita akan membahas sikap posesif anak kepada bundanya. Bahwa bunda adalah miliknya sepenuhnya. Ia pencemburu sekali, bahkan cemburu ini sudah muncul saat ia mulai mengenali orang. Bayi berusia beberapa bulan akan menangis jika melihat bundanya menggendong anak lain, memeluk kakaknya, atau sekedar memegang orang lain.

Normalkah itu? Menurut seorang parent educator Calgary bernama Judy Arnall yang juga menulis buku “Discipline Without Distress”, perilaku anak yang posesif ini sebenarnya normal saja. Itulah fitrahnya, karena ia ingin meyakinkan diri bahwa bundanya sayang padanya. Karena ia adalah bayi yang baru lahir. Ia pendatang baru di dunia nyata ini. Ia butuh kepastian dari seseorang yang paling dekat dengannya yaitu bunda. Ia tidak mau bundanya menyayangi orang lain karena ia khawatir bundanya akan melupakannya atau berkurang kasih sayang kepadanya.

Dan tugas bunda adalah memenuhinya. Bijaklah memenuhi rasa posesifnya. Jangan jadikan bahan candaan yang terus-menerus karena menganggap lucu saat ia menangis melihat bunda menggendong anak lain misalnya. Saat bunda menganggapnya lucu, ia akan semakin khawatir. Ia akan mempertanyakan, “Bundaku masih sayang gak sama aku?” Dan ia akan semakin rewel. Atau ketika bunda bersikap keras, dengan dalih mengajarkan anak untuk tidak rewel dan menganggap terlalu manja, bunda tidak memenuhi rasa posesifnya, membiarkan anak galau. Mungkin saat itu ia tidak rewel tersebab ia takut dengan bunda yang keras/galak. Tapi ia akan memendam luka itu. Yang suatu saat akan dimunculkan dalam bentuk perilaku yang tidak menyenangkan.

Jangan Sampai Kita Menyesal

Saat rasa posesif ini tidak terpenuhi, dan anak tumbuh dewasa, rasa ini tidak akan hilang. Justru semakin meningkat. Sedangkan kepercayaannya pada bunda bahwa bunda sayang kepadanya perlahan mulai menurun. Ia akan mencari orang lain yang dapat memenuhi kebutuhan kasih sayangnya. Dan yang paling sering adalah menempuh jalan dengan berpacaran. Sayangnya, hal ini juga tidak akan memuaskan kebutuhannya. Jadilah ia petualang cinta. Hingga sampai usia dewasa pun, saat ia mempunyai pasangan, berumah tangga, ia akan menaruh kecurigaan yang tinggi pada pasangannya, yang merupakan dampak dari sikap posesifnya.

Tapi jika rasa posesif anak-anak terhadap bundanya dipenuhi, ia akan tenang. Ia yakin bundanya sayang padanya. Keyakinan ini akan terus meningkat dan rasa posesif itu akan menurun. Cemburu tetap ada tapi sudah bukan posesif berlebihan. Dan biasanya saat usia tujuh tahun, ia sudah tenang dan siap menghadapi dunia luarnya. Ia sudah yakin meski bundanya menggendong anak lain (misalnya), bundanya tetap sayang padanya, bundanya tetap miliknya. Bunda tidak akan kemana-mana. Tentunya tetap dengan menjalin komunikasi sesuai usianya.

Anak yang terpenuhi rasa sayangnya, akan mudah memberikan kasih sayangnya pada orang lain dalam bentuk yang sebenarnya. Bukan dalam bentuk sayang-sayangan pacaran atau pun dalam bentuk pelampiasan syahwat semata. Bekal kasih sayang orang tuanya menyebabkan ia memiliki stok rasa sayang yang banyak, kepedulian yang tinggi pada sesama dan tentunya disertai dengan tanggung jawab. Saat dewasa pun ia bisa menjalaninya dengan baik. Memberikan kasih sayang pada pasangannya dan juga pada anak-anaknya.

Jadi, jelas bahwa ada hubungannya antara tidak terpenuhinya rasa posesif pada anak-anak dengan perilakunya ketika dewasa. Orang-orang dewasa dengan rasa kecurigaan yang tinggi disertai posesif, hanyalah korban dari luka masa lalunya.

Dan kabar buruknya, waktu tidak bisa diputar ulang.

Semoga kita dapat menjadi orangtua yang bijak memahami sikap posesif anak. Wallahu a’lam bishowwab.

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.