HomePernikahanSuami Istri : Sahabat Tepat untuk Curhat
ilustrasi : www.pinterest.com

Suami Istri : Sahabat Tepat untuk Curhat

Pernikahan 0 0 likes 1.6K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Jika ada dua orang bersahabat, apakah yang biasanya mereka lakukan? Ada sangat banyak hal mengasyikkan yang biasa dilakukan oleh dua orang bersahabat. Mereka rela menghabiskan waktu berlama-lama untuk apa saja. Sahabat adalah seseorang yang kita rela betah berlama-lama mendengarkan cerita yang sama. Sahabat adalah seseorang yang kita rela berkorban untuk menyenangkan dan membahagiakannya. Sahabat adalah seseorang yang kita dengan mudah melakukan aktivitas bersama.

Sahabat adalah seseorang yang kita rela menceritakan semua masalah hidup kita hanya kepada dia. Sahabat adalah seseorang yang kita rela membuka semua aib kita hanya kepadanya. Sahabat adalah seseorang yang sangat nyaman untuk menjadi tempat curhat kita. Berbagai macam hal tentang kesedihan dan kebahagiaan bisa disampaikan kepada sahabat dengan leluasa. Tanpa ada perasaan tidak nyaman atau sungkan, karena kuatnya ikatan diantara mereka.

Suami Istri Sebagai Sahabat

Demikianlah seharusnya suami istri. Mereka bukan sekedar terikat secara legal formal sebagai suami istri, yang dibuktikan dengan kepemilikan buku nikah. Bahkan istilah suami istri, hanyalah istilah teknis dalam fiqih untuk menunjukkan bahwa mereka telah sah dan halal berinteraksi dan berkegiatan sebagai suami dan istri. Namun hakikatnya, mereka adalah sahabat sejati, yang saling mencintai, yang saling menyayangi, yang saling menghormati, yang saling menghargai, yang saling memuliakan, yang saling menjaga dalam kebaikan.

Karena suami istri adalah sahabat sejati, semestinyalah mereka saling curhat, saling membuka diri, saling menyampaikan kegelisahan dan kebahagiaan, saling merenda harapan. Berbagai masalah, berbagai kesulitan, berbagai kesenangan, bisa diobrolkan dengan santai. Semua bisa diselesaikan dengan nyaman dan menyenangkan bersama pasangan. Semua kegiatan bisa dijalankan dan dinikmati bersama pasangan. Termasuk hobi, minat, dan berbagai kegiatan hidup lainnya.

Suami dan istri harus memiliki tradisi mengobrol dan saling bercerita, tanpa ada perasaan takut atau beban berat. Mengapa demikian? Karena mereka adalah sahabat setia dalam suka dan duka. Suami dan istri harus leluasa menyampaikan keluhan, perasaan, pikiran, keinginan, harapan, tanpa merasa takut atau khawatir bahwa ceritanya tidak didengarkan. Hendaknya mereka menyediakan diri untuk selalu bersedia menemani pasangan, mendengarkan ceritanya, dan merenda harapan bersamanya.

Jika suami dan istri tidak bisa saling curhat, atau ada suasana tidak nyaman saat curhat, menandakan mereka belum mencapai kondisi sahabat. Ketika ada masalah bukan curhat kepada pasangan, justru curhat kepada sahabat yang ada di luar rumah. Justru curhat melalui chatting dengan orang lain. Saat suami ada masalah, ia memilih diam di rumah atau curhat ke orang lain. Saat istri ada masalah, ia memilih untuk curhat ke sahabat-sahabat sosialita, atau teman di arisan dan pengajian. Harusnya, sahabat sejati yang dicurhati pertama kali adalah suami atau istri, bukan orang lain.

Agar Curhat Terasa Menyenangkan

Bagi pasangan suami istri yang belum memiliki kualitas persahabatan yang bagus, mereka belum terbiasa dengan curhat dengan pasangan. Ada istri yang takut untuk berbicara, mengobrol dan curhat dengan suami. Ada suami yang enggan berbicara dengan istri. Mereka lebih leluasa berbicara dan mengobrol dengan orang lain, dibanding berbincang dan mengobrol dengan pasangan. Hal ini menandakan, curhat justru menjadi beban, bukan sesuatu yang menyenangkan dan melegakan. Dampaknya, mereka lebih senang menceritakan masalah kepada orang lain dibanding  kepada pasangan.

Dari sisi suami, struktur berpikir laki-laki yang cenderung “mencari penyelesaian masalah”, justru menjadi kendala baginya untuk mendapatkan curhat istri. Bagi beberapa kalangan suami, mendengar curhat istri adalah beban berat. Mereka berpikir seperti ini:

“Kok masalah terus sih?”

“Aku harus mencari solusi lagi nih…”

“Bisakah kamu memberikan waktu kepada aku untuk istirahat?”

Hal yang harus dipahami oleh para suami adalah, bahwa tidak semua curhat istri itu berbentuk masalah yang harus diberikan solusi. Seringkali mereka hanyalah melakukan “eksplorasi perasaan” agar merasa lebih nyaman. Bagi perempuan, dengan melakukan curhat, kemudian curhat itu didengarkan dan direspon positif oleh pasangan, sudah sangat melegakan dan membuat dirinya merasa nyaman. Cukuplah istri merasa menderita dan tidak bahagia, hanya karena tidak bisa leluasa curhat kepada suaminya.

Hendaknya para suami belajar berpikir lebih santai dalam menghadapi curhat sang istri. Pahamilah bahwa curhat menjadi salah satu kebutuhan perempuan, dan menjadi salah satu bahasa komunikasi umum kaum perempuan. Para suami cukup menyediakan waktu dan perhatian, dengan sikap yang santai, mendengarkan, kemudian merespon dengan positif atau respon empati. Saat istri bercerita, biarkan ia mengeksplorasi perasaannya dengan leluasa. Jangan dipotong, jangan disela. Jangan dicemooh, jangan pula dicela. Ia hanya butuh didengarkan.

Dari sisi istri, carilah waktu dan momentum yang tepat untuk curhat kepada suami. Saat ia baru pulang dari bekerja, biarkan istirahat sejenak. Biarkan ia bersantai sesaat. Jangan langsung diajak curhat. Setelah suami merasa santai dan nyaman, barulah anda mulai membuka percakapan. Mengajak suami  curhat pada waktu yang tidak tepat hanyalah membuat suasana yang tidak nyaman.

Pada waktu memulai pembicaraan pun, mulai dengan hal-hal ringan dan lucu yang terjadi hari ini. Misalnya cerita tentang anak, cerita tentang tetangga atau teman, yang membuat suami merasa tertarik mendengarkan. Bahkan bagus jika bisa membuat suami tertawa gembira, karena hal ini akan menjadi pintu masuk untuk mulai berbicara panjang lebar dalam tema-tema penting lainnya. Kemampuan memilih kalimat pembuka ini sangat penting bagi suami, apakah dirinya akan antusias untuk mengikuti obrolan istri, atau ia akan lebih asyik dengan gadgetnya.

Jangan mengawali pembicaraan dengan tema ‘masalah’, karena hal ini akan membuat suami merasa berat dan mendapat beban. Contoh tema ‘masalah’ itu adalah sebagai berikut:

“Bang, aku pengen ngomong nih… Ada masalah berat yang harus aku ceritakan kepadamu…”

“Bang, ada persoalan yang harus segera kita pecahkan berdua…”

“Ayo bicara Bang, kita sedang menghadapi masalah besar nih…. Jangan diam saja…”

Semua bentuk kalimat di atas adalah negatif, dan akan membuat suami merasa tidak nyaman, karena dirinya merasa sebagai tertuduh. Hindari kalimat-kalimat di atas saat mengawali obrolan dengan suami. Jika suami merasa dirinya tengah berposisi sebagai tertuduh, maka ia justru akan cenderung diam dan tidak merespon, atau justru menampakkan sikap yang ‘menantang’. Namun hal itu justru membuat suasana pembicaraan menjadi tidak nyaman.

Maka hendaklah istri pandai memilih kalimat pembuka, yang membuat suasana jiwa suami menjadi nyaman, ‘good mood’, sehingga akan lebih antusias dalam menemani curhat istri. Ini adalah bagian dari seni berkomunikasi suami istri, bagian dari psikologi komunikasi, yang sepertinya tampak remeh dan sepele, namun memberikan pengaruh yang besar dalam menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pembicaraan.

 

Bandara Soekarno Hatta, 9 November 2017