HomePernikahanSuami Tidak Bisa Sukses Sendirian
couple-437987_1280

Suami Tidak Bisa Sukses Sendirian

Pernikahan 0 0 likes 500 views share

“Behind every succesful man, there’s a woman telling him he isn’t successfull enough.”

Kita sudah sering mendengar ungkapan di atas, bahwa kesuksesan suami sangat banyak ditentukan oleh doa istri. Hal ini menandakan betapa suami dan istri selalu saling memberikan pengaruh –baik positif maupun negatif- dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupan, termasuk dalam urusan karier. Suami tidak akan sukses sendirian, selalu ada pengaruh istri dalam setiap kondisinya. Termasuk pengaruh dari isi doa istri.

Selalu Ada Istri Hebat di Balik Suami yang Hebat

Ungkapan ini pun sudah sangat sering kita dengarkan. Tidak terbayang bagaimana repot dan beratnya suami jika diganggu dengan sikap istri yang tidak mendukung sukses suami. Seorang istri yang berperilaku dan berperangai buruk, banyak melakukan tindakan menyimpang dari kepatutan, sehingga menjadi kendala bagi suami dalam melaksanakan berbagai aktivitas keseharian. Suami menjadi tidak tenang bekerja, hatinya menjadi kacau, pikirannya menjadi ruwet karena memikirkan perbuatan istri yang tidak bisa dikendalikan.

Sebaliknya, betapa nyaman hati suami saat bekerja dan menjalankan aktivitas keseharian, apabila memiliki istri salihah yang selalu menjaga kebaikan diri. Istri yang pandai menjaga kehormatan kendati tengah ditinggal suami bekerja, istri yang selalu memberikan support kepada suami, menjadikan ketenangan bagi hati dan pikiran suami. Dengan kondisi itu, suami bisa bekerja optimal, bisa mendapatkan capaian yang memuaskan, sehingga mampu mencapai puncak prestasi. Di balik kesuksesannya, ada support yang sangat besar dari istri.

Bisakah Suami Sukses Sendirian?

Jika ada sepasang suami istri dengan tiga anak-anak, dimana suami bekerja penuh dan istri di dalam rumah sepenuh waktu, perhatikan kira-kira apakah peran istri dalam membantu sukses suami. Anak pertama sekolah di bangku SD, anak kedua sekolah di TK dan anak ketiga masih balita. Mereka tidak memiliki pembantu rumah tangga. Anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan jasa layanan antar jemput.

Ritme kegiatan suami setiap hari kurang lebih seperti ini: setelah Subuh mulai bersiap-siap berangkat kerja. Pada jam 06.30 sudah pergi dari rumah menuju tempat kerja. Pulang sampai di rumah sudah jam 18.00. Masih ditambah ada kegiatan organisasi maupun kegiatan kemasyarakatan lain di waktu sore atau malam hari. Maka praktis ia tidak memiliki waktu yang memadai untuk melakukan aktivitas praktis kerumahtanggaan karena waktunya habis untuk pekerjaan. Itupun masih ditambah lemburan dan kegiatan tambahan di hari Sabtu dan Ahad.

Sedangkan ritme kegiatan istri setiap hari kurang lebih seperti ini: setelah Subuh mulai bekerja di dapur, sambil membersihkan rumah, mengurus dua anaknya untuk menyiapkan keperluan berangkat sekolah. Istri menyiapkan sarapan untuk suami dan ketiga anak-anaknya. Setelah suami berangkat, ia menyiapkan kedua anak untuk berangkat sekolah. Setelah dua anak berangkat sekolah, ia menyelesaikan mengurus keperluan rumah tangga, seperti mencuci baju, membersihkan kamar tidur, merapikan rumah, sambil mengurus si bayi yang masih kecil. Siang hari anak kedua yang sekolah di TK sudah pulang, ia mulai menemaninya untuk bermain. Sore hari anak pertama pulang dari sekolah SD, iapun bertambah kegiatan dengan mengurus keperluan tiga anak sekaligus di rumah. Istri menyiapkan makan malam untuk ketiga anak, dan juga untuk suami yang akan pulang jam 18.00. Malam hari sang istri menemani dua anaknya belajar, sambil berusaha menidurkan si bayi. Setelah anak-anak tidur, ia masih harus melayani suami sembari berangkat tidur si ranjang. Begitulah aktivitas sang istri yang sangat padat dan sangat sibuk di rumah.

Bayangkan saja jika istri tersebut mogok melakukan kegiatan-kegiatan rutin tersebut. Anak-anak pasti akan terlantar karena tidak ada yang mengurus. Rumah pasti akan sangat kotor dan berantakan karena tidak ada yang membersihkan dan merapikan. Suasana itu apabila berlangsung dalam waktu lama, akan membuat semakin tidak kondusifnya keluarga. Anak-anak yang merasa tidak mendapatkan perhatian akan menjadi liar dan nakal.

Maka suami tidak akan bisa mencapai sukses sendirian. Sebagai pasangan yang terikat oleh pernikahan, suami dan istri pasti saling memerlukan, saling tergantung, saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Mereka tidak bisa lagi hidup sendiri-sendiri secara bebas dan mandiri, karena ada banyak konsekuensi akibat pernikahan. Mereka telah menjadi satu bagian yang saling menguatkan ataupun melemahkan. Saling mendukung dalam kebaikan ataupun keburukan. Tentu saja suami dan istri harus memilih untuk memberikan kekuatan pengaruh yang positif dalam kebaikan.

Tidak ada suami yang bisa menggapai sukses tanpa peran istri. Demikian pula sebaliknya, tidak ada istri yang bisa menggapai sukses tanpa peran suami. Jangan menganggap pasangan anda hanya pelengkap, apalagi dianggap ‘pelengkap penderita’. Sungguh besar peran istri dalam kesuksesan suami, sebagaimana sangat besar peran istri dalam keterpurukan suami.