HomeRuang KeluargaSuami Wajib Mendahulukan Nafkah untuk Istri
www.pinterest.com

Suami Wajib Mendahulukan Nafkah untuk Istri

Ruang Keluarga 0 2 likes 1.7K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Di antara kewajiban anak adalah selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا

Rabb-mu telah mewasiatkan (mewajibkan) agar kalian jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan agar berbuat baik (ihsan) kepada kedua orang tua” [QS. Al-Isra’: 23]

Allah ta’ala juga berfirman:

وصاحبهما في الدنيا معروفا

Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang ma’ruf” [QS. Luqman: 15]

Diantara perbuatan baik seorang anak yang sudah dewasa adalah memberikan nafkah kepada keduanya di saat mereka membutuhkan, apalagi ketika pada kondisi tidak ada orang lain yang bisa membantu mereka.

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah menukilkan ijma’ tentang kewajiban anak untuk menafkahi orang tuanya apabila tidak ada orang lain yang dapat menafkahi mereka. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa nafkah untuk kedua orang tua yang tidak memiliki penghasilan dan tidak memiliki harta adalah wajib dari harta anaknya” [Al-Mughni, 11/373].

Kewajiban anak untuk menafkahi kedua orang tuanya menjadi wajib apabila memenuhi tiga syarat:

Pertama: kedua orang tuanya faqir (miskin), tidak memiliki harta maupun penghasilan. Maka apabila orang tuanya berkecukupan atau memiliki penghasilan sendiri, maka tidak ada kewajiban nafkah atas anaknya, karena pada asalnya nafkah kepada orang tua termasuk dalam bab ihsan (berbuat baik), apabila tidak dibutuhkan, maka hukumnya tidak wajib. Lihat : Minahul Jalil (2/448), Al-Inshaf (9/392).

Hanya saja para ulama berselisih tentang kondisi orang tua faqir yang wajib dinafkahi, apakah disyaratkan keduanya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan ? Al-Malikiyyah dan Al-Hanabilah mempersyaratkan keduanya tidak mampu bekerja dan tidak berpenghasilan, sementara Al-Hanafiyyah dan Asy-Syafi’iyyah tidak mempersyaratkannya, karena seorang anak yang mengharuskan orang tua yang telah tua renta untuk berkerja mencari nafkah dalam keadaan dirinya berkecukupan, tidak mencerminkan sifat seorang anak yang berbakti. Lihat : Hasyiyah Ibnu Abidin (2/678), Mughnil Muhtaj (3/446).

Kedua: kondisi anak berkecukupan. Maka apabila kondisi ekonomi sang anak tidak mampu, ia tidak wajib memberikan nafkah kepada orang tuanya.

Ketiga: sang anak memiliki kelebihan harta setelah mencukupi kebutuhan dirinya, anak dan istrinya. Maka apabila harta sang anak hanya cukup sebatas kebutuhan dirinya, anak dan istrinya, maka sang anak tidak berkewajiban menafkahi orang tuanya.  Point ketiga ini dipersyaratkan oleh Al-Hanafiyyah, Asy-Syafi’iyyah dan Al-Hanabilah.

Ketika Harus Memilih, Siapa yang Didahulukan?

Pada kondisi anak sudah berumah tangga, memiliki istri dan anak, dan berkecukupan secara ekonomi, tidak ada masalah bagi dirinya untuk memberikan nafkah kepada istri, anak dan orang tua sekaligus. Namun, banyak keluarga yang tidak memiliki kecukupan ekonomi. Kondisi ekonomi sangat terbatas dan pas-pasan. Untuk memenuhi nafkah istri dan anak-anak saja kadang masih kurang, lalu siapa yang harus didahulukan?

Adalah kewajiban suami untuk mencukupi nafkah bagi istri dan anak. Namun dirinya juga tetap memiliki kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua, yang salah satunya adalah memberikan nafkah kepada mereka. Namun ketika berbenturan antara nafkah untuk kedua orang tua dan nafkah untuk istri, siapakah yang lebih didahulukan?

Kita simak hadits berikut ini. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ

“Mulailah dari dirimu, infakkanlah untuk dirimu, jika masih tersisa sesuatu maka untuk keluargamu, jika untuk keluargamu masih tersisa, maka untuk kerabat-kerabatmu” [HR. Muslim no. 997]

Al-Khaththabi rahimahullah berkata:

هَذَا التَّرْتِيب إِذَا تَأَمَّلْته عَلِمْت أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآله وَسَلَّمَ قَدَّمَ الْأَوْلَى فَالْأَوْلَى وَالْأَقْرَب فَالْأَقْرَب

“Apabila engkau memperhatikan urutan ini, engkau akan mengetahui bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendahulukan orang yang lebih berhak dan yang lebih berhak setelahnya (dalam infak), demikian pula beliau mendahulukan orang yang lebih dekat dan yang lebih dekat” [‘Aunul Ma’bud, 5/67].

Al-Muhallab rahimahullah berkata:

النَّفَقَة عَلَى الْأَهْل وَاجِبَة بِالْإِجْمَاعِ , وَإِنَّمَا سَمَّاهَا الشَّارِع صَدَقَة خَشْيَة أَنْ يَظُنُّوا أَنَّ قِيَامهمْ بِالْوَاجِبِ لَا أَجْر لَهُمْ فِيهِ , وَقَدْ عَرَفُوا مَا فِي الصَّدَقَة مِنْ الْأَجْر فَعَرَّفَهُمْ أَنَّهَا لَهُمْ صَدَقَة , حَتَّى لَا يُخْرِجُوهَا إِلَى غَيْر الْأَهْل إِلَّا بَعْد أَنْ يَكْفُوهُمْ ; تَرْغِيبًا لَهُمْ فِي تَقْدِيم الصَّدَقَة الْوَاجِبَة قَبْل صَدَقَة التَّطَوُّع

“Nafkah kepada keluarga adalah wajib berdasarkan ijma’. Pembuat syariat menamakan nafkah dengan istilah sedekah karena dikhawatirkan manusia akan menyangka bahwa menunaikan  nafkah yang wajib tidak ada pahalanya bagi mereka. Sungguh mereka telah mengetahui bahwa bersedekah mendatangkan pahala, demikian pula nafkah yang mereka keluarkan akan bernilai sedekah, agar mereka tidak mengeluarkan hartanya kepada  selain keluarga, kecuali setelah kebutuhan keluarganya tercukupi. Juga sebagai motivasi bagi mereka agar mendahulukan sedekah yang wajib dari sedekah yang sunah” [Fathul Bari, 9/623]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

إذا اجتمع على الشخص الواحد محتاجون ممن تلزمه نفقتهم ، نظرَ: إن وفَّى ماله أو كسبه بنفقتهم فعليه نفقة الجميع قريبهم وبعيدهم .وإن لم يفضل عن كفاية نفسه إلا نفقة واحد ، قدَّم نفقة الزوجة على نفقة الأقارب …لأن نفقتها آكد ، فإنها لا تسقط بمضي الزمان ، ولا بالإعسار

“Apabila terkumpul pada satu orang kewajiban menafkahi orang-orang yang memang menjadi tanggungannya, maka dilihat, jika harta dan penghasilannya cukup untuk menafkahi mereka seluruhnya, maka ia wajib menafkahi mereka, baik kerabat yang dekat maupun kerabat yang jauh. Apabila (hartanya) cukup untuk menafkahi dirinya dan tersisa hanya untuk nafkah satu orang, maka ia lebih mendahulukan nafkah istri dari nafkah kerabatnya. Nafkah untuk istri lebih ditekankan karena kewajiban menafkahi istri tidak gugur dengan berlalunya waktu, juga tidak gugur dalam kondisi sulit sekalipun” [Raudhatut Thalibin, 9/93]

Al-Mardawi rahimahullah berkata:

الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ : وُجُوبُ نَفَقَةِ أَبَوَيْهِ وَإِنْ عَلَوَا ، وَأَوْلَادِهِ وَإِنْ سَفَلُوا بِالْمَعْرُوفِ …إذَا فَضَلَ عَنْ نَفْسِهِ وَامْرَأَتِهِ 

“Yang benar dalam madzhab (Hambali), wajibnya menafkahi kedua orang tuanya dan kakek-neneknya ke atas, demikian pula wajib menafkahi anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai ke bawah dengan cara yang ma’ruf, apabila nafkah untuk dirinya dan istrinya masih tersisa” [Al-Inshaf, 9/392]

Asy-Syaukani rahimahullah berkata:

وقد انعقد الإجماع على وجوب نفقة الزوجة ، ثم إذا فضل عن ذلك شيء فعلى ذوي قرابته

“Telah terjadi ijma’ tentang kewajiban menafkahi istri, kemudian apabila hartanya masih tersisa, maka diberikan kepada kerabatnya” [Nailul Authar, 6/381]

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

فالصواب أنه يبدأ بنفسه ، ثم بالزوجة ، ثم بالولد ، ثم بالوالدين ، ثم بقية الأقارب

“Yang benar, ia mulai dari dirinya, kemudian istri, kemudian anak, kemudian orang tua, kemudian kerabatnya yang tersisa” [Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 5/194]

Dari berbagai keterangan para ulama tersebut, dapat dipahami bahwa suami wajib mendahulukan memberikan nafkah untuk istri, anak, baru kepada orang tua dan kerabat. Maka inilah yang harus dijadikan landasan dalam mengambil prioritas. Nafkah istri dan anak harus lebih diutamakan dibanding nafkah kepada orang tua dan kerabat. Ini berlaku apabila terjadi situasi kesulitan ekonomi yang mengharuskan untuk memilih.

Namun apabila sumber keuangan keluarga masih bisa dibagi dan disiasati, hendaklah semua pihak mendapatkan jatah secara proporsional, sehingga lebih banyak pihak yang mendapatkan kemanfaatan dan kemaslahatan.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Rujukan :

  1. Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Al I’tishom Cahaya Umat, Jakarta, 2010
  2. Muhammad Abduh Tuasikal, rumaysho.com