HomeKeuanganTidak Cukup Kata Cinta, Keluarga Butuh Biaya
cashbox-1642990_960_720

Tidak Cukup Kata Cinta, Keluarga Butuh Biaya

Keuangan 0 0 likes 400 views share

Seorang istri tengah protes dan uring-uringan kepada suaminya….
Istri : Kenapa sih Bang kamu dulu ga bilang kalau semiskin ini? Susah banget nih hidup kita ga punya apa-apa…
Suami : Sebenarnya aku dulu sudah sering bilang padamu Dek, cuma kamu ga pernah peduli…
Istri : Oh ya? Emang dulu Abang bilang apa?
Suami : Aku dulu kan sudah sering mengatakan, bahwa aku tidak punya apa-apa di dunia ini, kecuali kamu…. Eh, kamu malah menjawab “so sweet….”
Istri : Hah?

Anda tentu sudah sering mendengar lawakan di atas. Namun jangan salah paham, walau itu lawakan, namun sesungguhnya benar-benar terjadi dalam kehidupan keseharian. Nyatanya hingga hari ini, persoalan kesulitan ekonomi ikut mempermudah munculnya ketidakpuasan hidup berumah tangga, hingga ke tingkat perceraian. Sangat banyak persoalan hidup berumah tangga yang dipicu oleh ketidakberdayaan keluarga.

Keluarga menjadi rentan terhadap permasalahan salah satunya karena kurang berdaya atau bahkan tidak berdaya. Diantara penyebab munculnya persoalan bahkan sampai perceraian di Indonesia adalah karena faktor ekonomi. Hal ini menandakan, ada faktor kerentanan yang disebabkan karena ketidakmampuan ekonomi, sehingga membuat pondasi keluarga menjadi rapuh. Maka untuk menjaga keharmonisan keluarga tidak cukup hanya dengan melakukan persiapan menjelang pernikahan dan pembinaan hidup berumah tangga, namun juga harus ada upaya untuk menjadikan keluarga mandiri dan produktif.

Tujuan Pemberdayaan Keluarga

Program pemberdayaan merupakan upaya meningkatkan harkat dan martabat keluarga agar bisa mencapai tujuan hidup berkeluarga. Tujuan pemberdayaan keluarga adalah memampukan dan memandirikan keluarga, sehingga bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak, bisa mendapatkan kesehatan yang prima dan bahkan memiliki tabungan untuk hal-hal penting atau darurat yang tidak diduga dalam kehidupan. Ujungnya adalah keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera.

Pemberdayaan juga bermaksud menjadikan keluarga sebagai basis perubahan dan perbaikan bagi masyarakat sekitar. Semua anggota keluarga terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan sekitar, tidak menjadi beban bagi masyarakat dan negara, dan tidak membuat kerusakan bagi lingkungannya.

Program pemberdayaan ini membuat semua keluarga memiliki makna dan kemanfaatan baik secara internal maupun eksternal, ke dalam maupun keluar rumah. Secara internal, program pemberdayaan membuat keluarga bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan hidup mereka tanpa menjadi beban bagi pihak lain. Secara eksternal, hal ini akan memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Menurut Prof. Dr. Euis Sunarti, pemberdayaan keluarga memiliki dimensi tujuan yang sangat luas, meliputi :

1. Membantu keluarga untuk menerima, melewati, menjalani dan mempermudah proses perubahan yang akan dan tengah dialami keluarga

2. Menggali potensi dan kapasitas anggota keluarga baik dari segi kepribadian maupun dari segi ketrampilan dan manajerial

3. Mendorong keluarga agar memiliki daya ungkit yang memadai untuk mandiri

4. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan hidup seluruh anggota keluarga sepanjang tahap dan siklus hidup keluarga

5. Membangun daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi terhadap perubahan dalam kehidupan

6. Membina dan mendampingi proses perubahan sampai tahap kemandirian

Tiga Program Pemberdayaan

Pemberdayaan keluarga semestinya mengacu pada Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menyatakan, “Keluarga sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan sosialisasi anak, mengembangkan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik serta memberikan kepuasan dan lingkungan sosial yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”. Pemberdayaan berorientasi memampukan keluarga dalam menghadapi situasi kenelangsaan dan kesulitan, hingga mampu keluar dari kondisi sulit itu.

Untuk mencapai berbagai tujuan mulia tersebut, menurut Prof. Euis Sunarti, bisa dilakukan melalui tiga program, yaitu peningkatan kapasitas SDM anggota keluarga, penguatan ekonomi keluarga, serta kegiatan pendukung. Contoh kegiatan peningkatan kapasitas SDM anggota keluarga adalah dengan program penguatan motivasi, pelatihan enterpreunership dan kewirausahaan untuk menciptakan jiwa wirausaha serta jiwa kemandirian. Semua anggota keluarga harus memiliki semangat bekerja, berusaha, dan memiliki kemampuan untuk mengelola kehidupan berumah tangga tanpa mengabaikan semua sisinya.

Contoh kegiatan penguatan ekonomi keluarga adalah pelatihan ketrampilan aneka kreasi, yang bisa memberikan ketrampilan praktis sebagai bekal berproduksi secara mandiri. Ada sangat banyak jenis kegiatan kreatif dalam rumah tangga yang bisa melibatkan seluruh anggota keluarga untuk berproduksi.

Pengolahan barang-barang bekas menjadi sesuatu yang produktif sudah banyak contoh keberhasilannya, bahkan dari sampah sekalipun. Jika semua anggota keluarga memiliki mental wirausaha dan memiliki ketrampilan kreatif, akan membuat keluarga mampu mandiri bahkan bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Keluarga yang terberdayakan semua potensinya, membuat mereka sibuk dalam hal-hal yang produktif. Dengan cara itu, keluarga menjadi tidak sempat mempersoalkan hal-hal sepele dalam kehidupan, karena semua memiliki kegiatan positif yang menyibukkan. Sebaliknya, keluarga yang tidak berdaya, membuat suasana sangat sensitif di antara anggotanya. Mereka mudah saling menyalahkan satu dengan yang lainnya, dan akhirnya mudah terjatuh dalam persoalan-persoalan yang rumit.