HomeRuang KeluargaTidak Perlu Ada yang Terluka untuk Cinta
ilustrasi : elshinta.com

Tidak Perlu Ada yang Terluka untuk Cinta

Ruang Keluarga 0 0 likes 173 views share

Namanya Bunga, gadis yang masih duduk di bangku kuliah ini melakukan suatu perbuatan yang kasar kepada orangtuanya. Setiap pagi Bunga memaksa bapaknya untuk membersihkan kamar tidur dan kamar mandi, serta menyiapkan sarapan pagi yang dikehendakinya. Setiap malam Bunga memaksa bapaknya untuk menyediakan santap malam sesuai seleranya.

Apa yang terjadi?

Suatu hari Bunga pulang dari kuliah membawa sebilah celurit dan lakban. Ia membagi rumah menjadi dua bagian. Satu bagian untuk dirinya dan satu untuk orangtuanya. Semenjak hari itu, Bunga memperlakukan Bapaknya seperti pembantu. Disuruh suruh, diperintah sesuai keinginannya. Mengepel lantai bagian rumah Bunga. Membersihkan toilet Bunga. Menyiapkan teh panas dan sarapan sesuai selera bunga. Lalu untuk apakah Bunga membeli sebilah clurit?

Ternyata Sahabat, setiap kali sang Bapak menolak permintaan Bunga, segera clurit dikeluarkan dari kamar untuk mengancam. ”Bapak atau aku yang mati”, demikian ancam Bunga. Selalu.  Terpaksa sang Bapak selalu menuruti kemauan anaknya. Menyapu kamar, mengepel lantai, membuatkan teh, kopi, sarapan, makan malam, mencuci baju kotor, dan berbagai pekerjaan lainnya. Karena jika tidak dilakukan, berarti harus duel melawan anaknya yang bersenjata clurit.

Kenapa Bunga melakukan hal setega itu kepada Bapak dan Ibunya sendiri?

Rupanya, semenjak kecil Bunga sering mendapatkan perlakuan yang menyakitkan dan melukai hati serta perasan, dari bapaknya. Sang Bapak sering menampar, menendang, menjambak rambut, dan memaki-maki Bunga dengan kata-kata yang kasar dan kotor. Bunga sering menangis karena mendapatkan perlakuan kasar dari bapaknya. Hanya karena urusan kecil dan sepele, sang Bapak cepat emosi dan ringan tangan menampar wajah Bunga. Mungkin, maksud sang Bapak adalah mendisiplinkan Bunga, mendidik Bunga agar bisa mandiri dan cepat dewasa.

Torehan luka demi luka yang diderita Bunga, menjelma menjadi dendam dan kemarahan yang membara. Menjelma menjadi kesumat yang bergelora. Ia ingin ada waktu dimana bisa menuntaskan balas dendamnya. Dan waktu itu kini miliknya. Saat sang Bapak sudah mulai tua dan kian lemah, Bunga beranjak dewasa. Ia mendapatkan dirinya, kesempatannya, waktunya yang telah ditunggu sejak 20 tahun lalu untuk membalaskan dendamnya.

Pertanyaannya, mengapa harus ada yang terluka? Bukankah sang Bapak harusnya mencintai Bunga, dan Bunga sudah semestinya mencintai sang Bapak? Saat sang Bapak ditanya kenapa ia tega memukul Bunga semenjak masih kecil? Sang Bapak menjawab, karena itu merupakan bentuk kasih sayangnya kepada anak, agar anak bisa disiplin dan baik dalam kehidupan. Kenapa sang Bapak membentak Bunga sejak kecil ? Agar anak hormat kepada orang tua, agar anak menuruti orang tua, agar anak tidak manja, agar anak disiplin dalam hidupnya. Itu semua rasanya alasan yang mulia. Ya, jika memang mencintai, mengapa harus melukai? Dan lihatlah hasilnya, apakah cara yang digunakan sang Bapak untuk mendidik dan mendisiplinkan anak memberikan hasil seperti yang diharapkan? Ternyata tidak. Bahkan berkebalikan sama sekali. Bunga tidak tumbuh menjadi anak yang taat dan patuh kepada orang tuanya, justru menjadi pemberontak. Bunga tidak menjadi anak yang penuh cinta dan kasih sayang, justru menjadi anak yang penuh benci, dendam dan kemarahan.

Lihatlah, ternyata mencintai tidak berada pada tempat yang sama dengan melukai. Mencintai memiliki cara dan seni tersendiri. Melukai bukanlah bagian dari cara maupun seni mencintai. Mengapa harus ada yang terluka, jika landasannya adalah cinta? Ternyata, kesalahan terletak pada cara mengekspresikan cinta yang tidak pada tempatnya. Ekspresi cinta yang represif dan kasar. Ekspresi yang berlebihan dan tidak menggunakan perasaan.

Tidak patut orang tua berlaku keras dan kasar kepada anak-anaknya. Mereka adalah jiwa baru yang masih polos dan bersih, semestinya dijaga dan dirawat dengan penuh cinta kasih. Bentakan, pukulan, tendangan, dan aneka perlakuan kasar lainnya, hanya akan menimbulkan dendam dan trauma. Anak-anak bisa hidup dalam kungkungan ketakutan, kecemasan, kengerian dan ketidakceriaan. Bagaimana potensinya akan bisa tumbuh berkembang jika diperlakukan dengan cara semena-mena?

Hentikan semua bentuk kekerasan terhadap anak-anak. Hentikan berlaku zhalim kepada mereka. Penuhi hak-hak anak dengan sebaik-baiknya. Berikan kasih sayang dengan cara yang bijak dan benar. Mereka adalah masa depan bangsa, negara bahkan peradaban dunia.