HomePernikahanTitik Rawan Pernikahan
moslem-couple-hipwee

Titik Rawan Pernikahan

Pernikahan 0 7 likes 9.5K views share

Sejak seorang anak lelaki tumbuh dewasa dan memulai proses menuju pernikahan, jauh dalam lubuk hatinya sudah memiliki keinginan yang sangat kuat untuk melakukan berbagai hal demi membahagiakan pujaan hatinya. Ketika melangsungkan prosesi pernikahan, keinginan itu tumbuh semakin kuat. Menikah dengan seseorang yang dicintai sepenuh hati, membuatnya sangat bersemangat untuk membahagiakan sang istri. Ia berjanji dalam hati untuk membuat sang istri bahagia bersamanya, dan bisa bangga memiliki suami seperti dirinya.

Setelah menikah dan memulai hidup berumah tangga, ia pun bekerja keras mencari nafkah, mencari penghidupan yang layak, mengusahakan sarana untuk membahagiakan belahan jiwanya. Berpagi-pagi sudah berangkat kerja, dan pulang sore hari dalam kondisi yang lelah karena beban pekerjaan, yang diharapkan adalah melihat sang istri tersenyum bangga kepada dirinya. Seluruh uang gajian plus bonus beserta struk gaji dari perusahaan, diberikan semuanya kepada sang istri. Inilah usaha maksimal yang dilakukan suami demi membahagiakan sang istri.

Kebahagiaan istri saat menerima dirinya sepulang kerja, wajah cerah dan sumringah istri saat menerima uang belanja yang diberikannya, adalah balasan yang sangat menyenangkan dan membanggakan hati suami. Bagi seorang suami, kebahagiaan istri adalah hal yang sangat ingin dilihatnya. Banyak suami khawatir bahwa dirinya tidak mampu membahagiakan istri, misalnya karena penghasilan yang kecil atau pas-pasan. Maka betapa bahagia sang suami saat istri bisa menerima penghasilan yang pas-pasan tersebut dengan sepenuh suka cita.

Pada dasarnya, kehidupan laki-laki banyak diwarnai oleh episode kepahlawanan. Inilah sisi maskulin atau sifat kelelakian pada diri suami. Apabila ia bekerja keras mencari nafkah, kemudian sang istri bisa menerima pemberian nafkah darinya dengan bahagia, saat itu suami merasa telah menjadi pahlawan bagi keluarga. Sisi inilah yang harus dipenuhi dalam diri suami oleh para istri. Akan menjadi hal yang membahayakan bagi kaum laki-laki jika sang istri tampak tidak bahagia, bahkan menampakkan sikap yang meremehkan, merendahkan dan menyalahkan suami.

Saat Istri Telah Mencukupi Semua Kebutuhannya Sendiri

Berbeda dengan zaman dulu, sangat banyak perempuan di zaman sekarang bekerja di berbagai sektor bersama kaum laki-laki. Mereka berkarir dan mendapatkan kesempatan maupun peluang yang sama dengan laki-laki. Bisa naik pangkat, naik gaji dan mencapai posisi yang tinggi. Tentu ini adalah hal yang menggembirakan, karena perempuan bisa mendapatkan penghasilan sendiri yang bahkan lebih tinggi dari sang suami.  Istri tidak hanya tiggal di rumah menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, namun bekerja untuk memperkuat ekonomi keluarga.

Persoalan muncul ketika ia kembali pulang ke rumah. Ia bukanlah istri yang berharap uang dari suami, karena sudah menghasilkan uang sendiri. Pada beberapa kalangan, penghasilan istri jauh lebih tinggi dari suami, sehingga kontribusi ekonomi suami menjadi tidak berarti. Tekanan dan beban pekerjaan yang didapatkan seharian, sepulang kerja ia ingin mendapat sambutan suami yang penuh pengertian dan kelembutan terhadap dirinya. Sifat kewanitaannya menuntut untuk dipenuhi saat pulang ke rumah. Diajak mengobrol, didengarkan dan direspon secara positif oleh suami.

Yang diperlukan oleh istri dari suaminya adalah komunikasi. Mengobrol, bercerita, bercengkerama, mencurahkan perasaan, adalah hal yang sangat disenangi para istri. Itu semua membahagiakan hatinya. Intinya adalah keinginan untuk berkomunikasi, sehingga ia bisa leluasa bercerita tentang apa saja yang menjadi perasaan hatinya. Ia ingin curhat dan semua curhatnya didengarkan dengan seksama oleh suami. Ia ingin berbagi dan mengutarakan berbagai keinginan dengan leluasa.

Ia bahkan tidak terlalu peduli dengan pemberian suami, karena pada kalangan perempuan yang mandiri mereka tidak lagi bergantung kepada pemberian suami. Di sini mulai terjadi konflik serius, jika tidak berusaha saling memahami. Pada saat suami merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada sang istri, mulai saat itu kepercayaan dirinya sudah runtuh, Ia merasa menjadi suami yang gagal, menjadi suami yang tidak berfungsi, suami yang tidak mampu melindungi dan membahagiakan istri. Ia merasa sang istri telah menghina dan tidak menghormatinya lagi. Apalagi ketika sang istri benar-benar menampakkan sikap tidak memerlukan bantuan suami.

Episode kepahlawanan suami tidak mendapatkan tempat pada diri istri. Ia merasa menjadi suami yang tidak dibutuhkan dan tidak memiliki peran atau jasa penting bagi keluarga.

Menyadari Titik Rawan Pernikahan

Inilah salah satu titik rawan dalam kehidupan pernikahan.

Istri tidak akan bisa bahagia jika kebutuhan untuk komunikasi tidak dipenuhi suami. Perempuan adalah makhluk verbal yang mampu memproduksi duapuluh ribu kosa kata setiap hari. Mereka butuh penyaluran dengan bicara, mengobrol, berbincang, bercerita, curhat dan aktivitas komunikasi verbal lainnya. Ketika istri bertemu suami, hal yang ingin didapatkan adalah asyik mengobrol, asyik berbincang, asyik berkomunikasi, asyik curhat. Ini yang membahagiakan. Bahkan pada tipe ibu rumah tangga penuh waktu sekalipun, mereka juga lelah kerja di rumah seharian, dan memerlukan curhat kepada suami.

Sementara itu suami ingin dihargai seluruh jerih payahnya bekerja mencari nafkah, sebagai perjuangan bagi kebahagiaan keluarga. Saat ia merasa kerja keras yang dilakukan tidak mendapatkan apresiasi positif dari istri, bahkan cenderung dilecehkan, yang muncul adalah perasaan kegagalan. Jika episode kepahlawanan tidak bisa didapatkan dari istri dan anak-anaknya, di saat itu suami bisa mengalami disorientasi. Saat suami merasa istrinya tidak bahagia dengan kehadirannya, ia mulai merasa kecewa. Keinginan terbesar yang sudah dimiliki sejak sebelum menikah adalah membahagiakan istri, maka ketika ia melihat istrinya tidak bisa happy, yang mucul adalah kekecewaan.

Bagi suami, rasa lelah sepulang kerja, yang diperlukan oleh suami adalah istirahat dan tidak diganggu istri serta anak-anak. Sementara itu bagi istri, rasa lelah yang mendera akan segera hilang ketika mengobrol dengan suami. Bagi suami, melihat kebahagiaan istri adalah hal yang membahagiakann dirinya. Sementara itu bagi istri, kebahagiaan itu ada ketika sang suami nyaman diajak berkomunikasi, enak diajak curhat. Persoalan muncul jika keduanya tidak saling mengerti dan tidak saling menyesuaikan dengan keinginan pasangan.

Perhatikan titik rawan mereka.

  1. Episode Kepahlawanan

Pada saat suami merasa tidak dihargai di rumahnya sendiri, ia akan cenderung mencari orang lain yang bisa menghargai dan menghormatinya. Di sini ia bisa bertemu dengan perempuan yang bisa membuat dirinya terhargai dan menjadi pahlawan. Saat di rumah ia merasa gagal membahagiakan pasangan, di tempat lain ada orang yang sangat berbahagia dengan kehadirannnya. Sayap kepahlawanannya segera mengembang, dirinya merasa mendapat tempat yang sangat berharga dan istimewa. Ia benar-benar merasa menjadi laki-laki sejati.

  1. Episode Komunikasi

Pada saat istri merasa tidak terpenuhi kebutuhan komunikasi bersama suami, ia akan cenderung mencari orang lain yang bisa nyaman diajak ngobrol dan curhat. Di titik ini ia bisa bertemu dengan lelaki yang sangat nyambung saat mengobrol, sangat care saat ia curhat. Ketika di rumah suami sangat cuek dan tidak bisa diajak mengobrol, di tempat lain ada orang yang bisa menampung curhatnya, bisa mendengar dengan seksama, bisa merespon semua pembicaraannya. Kebutuhan katarsis dan curhat benar-benar terpenuhi, dirinya merasa diterima, disayang dan dicintai. Ia benar-benar merasa diperlakukan sebagai perempuan, dan ia merasa bahagia.

Jika keduanya tidak menyadari kondisi ini, akan cenderung berjalan semakin menjauh satu dengan yang lain. Keduanya mendapatkan orang lain yang lebih sesuai, lebih bisa mengerti, lebih bisa menerima, lebih bisa menghargai dirinya. Situasinya akan semakin buruk karena keduanya tidak berusaha untuk mendekat, saling mengerti dan menerima perbedaan, dan mengusahakan untuk memenuhi harapan pasangan.

Hendaknya suami bisa menjadi tempat dan teman curhat yang baik bagi istri. Jika istri selalu bisa leluasa berkomunikasi dengan suami, hal ini sudah sangat membahagiakan hatinya. Demikian pula hendaknya istri bisa menghargai dan menghormati suami. Jika suami merasa dihargai dan dihormati, ia akan bahagia. Ketidakbahagiaan istri pada dasarnya bermula dari sikap diri suami, sebagaimana ketidakbahagiaan suami pada dasarnya bermula dari sikap diri istri. Jika keduanya bisa saling menempatkan diri dengan tepat, akan menghasilkan kebahagiaan bersama.

ilustrasi : hipwee.com

Bahan Bacaan

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Menjadi Pasangan Paling Bahagia, PT Era Adicitra Intermedia, Solo, 2015

John Gray, Mars dan Venus Bersatu Selamanya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000