HomePernikahanWaktuku, Waktumu, Waktu Kita
dfddd7c43d0341736826c86d626683bf

Waktuku, Waktumu, Waktu Kita

Pernikahan 0 4 likes 1.4K views share

WAKTUKU, WAKTUMU, WAKTU KITA

Oleh : Ummu Rochimah

Fenomena pelakor yang sempat marak beberapa waktu yang lalu cukup menarik perhatian tersendiri bagi pasangan suami istri. Pada dasarnya istilah ini tidak ditemui dalam ejaan bahasa Indonesia, istilah ini digunakan untuk suatu fenomena adanya suami yang direbut oleh perempuan lain. Pelakor = perebut laki orang.

Sejatinya, fenomena ini tidak lah berdiri sendiri. Ia merupakan suatu sebab akibat. Fenomena ini menjadi salah satu dari godaan-godaan kesetiaan dalam rumah tangga, yang pernah dibahas sebelum ini, yaitu kejenuhan atau kebosanan, kelelahan, kehambaran dan kehilangan kesejiwaan. Dan puncak godaan kesetiaan dalam rumah tangga adalah adanya intervensi pihak ketiga yang sering diasosiasikan dengan tindakan perselingkuhan. Walaupun pada dasarnya, intervensi pihak ketiga ini tidak harus berupa perselingkuhan, bisa saja berupa terlalu besarnya pengaruh dan campur tangan orang tua atau mertua dalam sebuah pernikahan. Namun, memang fenomena perselingkuhan menjadi sesuatu yang lebih banyak dibicarakan dalam hal intervensi pihak ketiga.

 

Tumbu Ketemu Tutup

Fenomena perselingkuhan bukanlah tentang siapa yang salah dan siapa yang memulai. Suatu perselingkuhan sebenarnya terjadi karena hilangnya kelekatan suami atau istri dengan pasangannya. Setiap orang mempunyai kelekatan dengan orang lain atau dengan suatu benda. Misalnya orang yang bersahabat, dia akan menjadi lebih lekat dengan sahabatnya dibandingkan dengan teman yang lainnya. Atau seorang yang mempunyai hobi atau kesukaan, maka ia akan sangat lekat dengan hobi atau kesukaannya itu.

Begitupun hal nya dengan suami istri. Keduanya harus memiliki kelekatan yang bersifat totalitas, yang merupakan kelekatan paling kuat. Karena bukan hanya kelekatan fisik yang terjadi antara suami dengan istri, namun juga terjadi kelekatan jiwa di antara keduanya.

Ketika kelekatan antara suami istri ini mulai berkurang yang terjadi adalah pelemahan terhadap ikatan keluarga, mulai muncul hal-hal yang mengakibatkan ketidak nyamanan dalam keluarga. Hilangnya kelekatan dengan pasangan mengakibatkan tidak lagi adanya penjagaan terhadap keluarga. Di sisi lain saat itu muncul kelekatan pada yang lain, dengan perempuan atau laki-laki lain misalnya, atau dalam beberapa kasus tidak selalu dengan manusia namun bisa juga dengan benda atau yang lainnya, seperti hobi.

Saat pasangan suami istri kehilangan kelekatan satu sama lain, pada saat yang bersamaan akan mulai timbul kelekatan dengan yang selainnya. Fenomena ini yang disebut sebagai “tumbu ketemu tutup”. Tumbu itu suatu wadah tempat menaruh makanan. Ia memiliki pasangan sebagai tutupnya. Jika wadah ini bertemu dengan tutupnya yang pas, maka ia akan dapat menyimpan makanan di dalamnya dengan baik. Hal ini juga sering orang menyebutnya dengan ‘ngeklik’, ‘match’, atau cocok.

Dalam hal perselingkuhan yang terjadi sebenarnya adalah hilangnya kelekatan dengan pasangan di satu sisi dan timbul kelekatan dengan selainnya pada sisi yang lain.

 

Peluang Terjadinya Kehilangan Kelekatan

Seringkali atas nama kesibukan, berbagai kegiatan atau padatnya aktifitas keseharian pasangan suami istri mengakibatkan terjadinya pembiaraan-pembiaran terhadap situasi yang mengakibatkan berkurangnya waktu untuk berdua. Berbagai alasan dapat muncul, dan sering kali anak menjadi alasan kesibukan yang mengakibatkan hilangnya kesempatan untuk berduaan. Atau tumpukan beban pekerjaan di kantor juga sering menjadi alasan sehingga pasangan suami istri sering mengalami kehilangan kesempatan untuk meluangkan waktu berduaan.

Padahal kesempatan untuk berduaan saja antara suami dengan istri akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kelekatan di antara keduanya. Mereka harus mengupayakan kondisi ini, bagaimanapun kesibukan yang melanda keduanya.

Sebagian pasangan sering menjadikan anak sebagai alasan untuk mengabaikan hal ini. Istri sibuk mengurus anak sehingga mengabaikan kebutuhan-kebutuhan psikis suaminya. Berasumsi bahwa suami harus mengerti dan memahami keadaan dan kondisi sang istri yang sibuk mengurus anak. Bila hal ini terus dibiarkan, lama kelamaan suami akan merasa tersisih, merasa tidak diperhatikan, merasa tidak dibutuhkan kehadirannya kecuali untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri. Saat itu mulailah sedikit demi sedikit kelekatan itu akan hilang.

John Gray, PH.D seorang konselor keluarga mengatakan, “Suami itu butuh seorang istri, bukan seorang ibu”. Karena terkadang saat istri melahirkan seorang anak, saat itu ia telah berubah menjadi seorang “ibu”, bukan saja untuk anaknya namun juga untuk suaminya. Ia berlaku selayaknya seorang ibu kepada anaknya.

Ketika seseorang sudah menikah dan memiliki pasangan, yang harus diingat olehnya adalah mengupayakan adanya “family time”, waktu berkualitas bersama keluarga. Jangan terjebak oleh rutinitas hidup berumah tangga, dari ini ke itu, dari begini ke begitu saja.  Jangan pula terlalu banyak menuntut “me time” karena sejak seseorang menikah ia bukan lagi sosok pribadi yang bisa memperturutkan egonya sendiri. Jiwanya sudah melebur bersama pasangannya. Ketika seseorang terlalu banyak menuntut ‘me time” untuk dirinya, maka sulit ia mendapatkan kebahagiaan dalam statusnya sebagai istri atau suami. Jadikan family time sebagai waktu terbaik dan waktu untuk mendapat kebahagiaan diri.

 

Upaya Membangun Waktu Kita

Setiap manusia dikaruniai waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari semalam. Tidak ada satupun yang berlebih atau berkurang. Namun mengapa sering kita jumpai ungkapan “saya tidak punya waktu” atau “waktu saya habis untuk mengurus rumah”. Benarkah ada manusia yang tidak punya waktu, atau kehabisan waktu.

Kehidupan berumah tangga merupakan suatu pekerjaan yang mengambil waktu terbesar bagi pasangan suami istri. status sebagai istri atau pun suami akan melekat selama 24 jam dalam diri seseotang. Saat seorang sudah terikat oleh suatu akad nikah, maka statusnya sebagai suami atau istri akan terus melekat sepanjang kehidupannya, hingga sampai pada takdir Allah yang mengharuskannya lepas dari status tersebut, entah itu suatu kematian atau perpisahan.

Syaikh Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.”

Dalam salah satu nasihatnya, Iman Syafi’i mengungkapkan “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”

Dalam upaya membangun kelekatan antara suami dengan istri, keduanya dapat memanfaatkan waktu bersama untuk melakukan refreshing spriritual, misalnya pergi haji atau umroh bersama, atau bila belum ada kemampuan dan kesempatan umroh atau haji bersama, pergi menunaikan sholat ke masjid bersama, melakukan sholat tahajud bersama.

Selain itu keduanya dapat juga melakukan refreshing intelektual, seperti mengikuti seminar, kajian, atau menghadiri majelis-majelis ilmu bersama. Dan yang tidak kalah penting, yaitu tentunya refreshing secara fisik, bepergian ke suatu tempat wisata atau menapak tilas perjalanan bulan madu, dan lain-lain.

Dengan waktu kita ini, pasangan suami istri akan terus melekat satu dengan yang lainnya. Kelekatan yang terbangun pun juga bukan hanya kelekatan secara fisik, namun juga kelekatan secara hati. Dengan kelekatan ini keduanya akan lebih mudah untuk saling menjaga tanpa harus memiliki kamera cctv yang memantau aktivitas pasangan selama 24 jam agar terhindar dari perselingkuhan.