HomePernikahanZat Putih versus Zat Abu-abu
99a729387b0ea7c11ea109551128e6b1

Zat Putih versus Zat Abu-abu

Pernikahan 0 2 likes 442 views share

ZAT PUTIH VERSUS ZAT ABU-ABU

 

oleh Ummu Rochimah

 

 

Dalam suatu obrolan sepasang suami istri di sore hari terjadi percakapan sebagai berikut.

Teddy : Apa Merry akan datang ke pertemuan keluarga besok?

Lusi : Merry bilang kemungkinan akan datang, tapi tergantung kondisi orderan kue yang sudah dia terima. Sedangkan Lita mungkin tidak datang karena Aryo harus keluar kota, bahkan Arif sedang di ambang phk, jadi dia sedang berusaha mencari pekerjaan baru, kalau Sony sepertinya tidak datang karena tidak dapat izin cuti. Jadi, Merry mungkin datang lebih awal supaya bisa mempersiapkan acara dan belanja berbagai keperluan sekaligus membelikan kado pernikahan Lia. Sebaiknya kita nanti mengantar Merry untuk ….

Teddy : Jadi Merry “datang ” atau “tidak” ?

Lusi : Iya, tapi masih tergantung dengan Dessy, apakah mobilnya bisa dipinjam atau tidak, karena sejak mobilnya dipakai Budi, Dessy selalu mengeluh kesulitan kalau mau memakai mobil …. bla bla bla ….

Teddy : ???

 

Sepertinya ia hanya bertanya dengan sebuah pertanyaan sederhana, dan mestinya jawabannya pun singkat dan sederhana, “datang” atau “tidak datang”. Tapi mengapa jawaban Lusi begitu panjang dan terkait dengan banyak orang? Teddy hanya bertanya soal Merry, tapi Lusi menjawab dengan menyebutkan tujuh nama lainnya dengan aneka bumbu yang menyertainya.

Ini yang dinamakan “jalur majemuk” otak perempuan. Allan dan Barbara Pease mengatakan bahwa kebanyakan perempuan memiliki susunan otak yang membuatnya bisa menang berbicara dibanding laki-laki. Bagian otak perempuan yang digunakan untuk berbicara dan berbahasa lebih banyak dibanding para otak laki-laki. Hal ini yang mangakibatkan terjadinya sudut pandang yang berbeda antara laki-laki dan perrmpuan.

 

Mengapa Otak Laki-laki dan Perempuan Berbeda?

Laki-laki dan perempuan memiliki dua jenis otak yang berbeda, yang sama-sama didesain untuk perilaku cerdas. Hanya saja laki-laki memiliki kira-kira 6,5 kali lebih banyak zat abu-abu daripada perempuan. Sedangkan perempuan memiliki 10 kali lebih banyak zat putih disbanding laki-laki. Zat abu-abu menjadi tempat pusat pemrosesan informasi, sedang kan koneksi dan jejaring di antara pusat pemrosesan itu terdiri dari zat putih. Inilah penjelasan mengapa laki-laki cenderung lebih menguasai tugas yang melibatkan prosesing local zat abu-abu, seperti matematika, sedangkan perempuan lebih mahir dalam mengintegrasikan dan meleburkan atau menyesuaikan informasi dari area zat abu-abu yang diperlukan untuk keterampilan berbahasa.

Perbedaan fisik dalam komposisi otak  ini membantu dalam menjelaskan mengapa cara komunikasi laki-laki dan perempuan berbeda. Di mata perempuan, laki-laki kelihatan sebagai makhluk yang tidak banyak bicara. Sedangkan di mata laki-laki, perempuan adalah makhluk yang tidak bisa diam. Menurut perempuan, laki-laki terlalu banyak diam hingga hal-hal penting saja tidak akan dibicarakan. Sedangkan menurut laki-laki, perempuan terlalu banyak bicara, sampai-sampai hal tidak penting pun akan dibicarakan.

Otak perempuan memiliki susunan yang memungkinkannya memiliki kemampuan “jalur majemuk”. Pada otak terdapat dua bagian otak yang berhubungan dengan bahasa. Area ini leibh besar dimiliki oleh perempuan. Para peneliti menemukan setidaknya ada enam atau tujuh  pusat bahasa pada kedua belahan otak perempuan. Tetapi pada laki-laki, bahasa hanya terdapat pada belahan otak kiri. Maka perempuan bisa berbicara beberapa topik dalam satu waktu dengan hanya mengganti intonasi pada hal tertentu.

Otak laki-laki, konon sangat sistematis, memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengelompokkan segala sesuatu, kemampuan yang rendah dalam multitasking, kemampuan tinggi dalam kontrol emosi, orientasi hubungan yang rendah dan meniliki kecenderungan untuk bertindak lebih dahulu baru kemudian berpikir jika mengalami stres dan kecenderungan berkompetisi dengan laki-laki lain. Karena laki-laki memiliki lebih sedikit pusat bahasa, bukan hanya sulit baginya untuk mengekspresikan atau memverbalkan apa yang dialaminya, tetapi juga ia tidak merasakan kebutuhan untuk itu.

Sedangkan otak perempuan mempunyai tingkat empati yang tinggi, kemampuan yang rendah untuk mengelompokkan sesuatu, kemampuan tinggi untuk multitasking, kemampuan yang rendah untuk mengontrol emosi, orientasi hubungan yang tinggi, kecenderungan untuk berpikir dan merasa terlebih dahulu sebelum bertindak dalam merespon stres, dan kecenderungan untuk bekerjasama dngan perempuan lain. Seorang perempuan dapat menjalankan program komputer sambil berbicara ditelpon dan mendengarkan pembicaraan kedua yang berlangsung di belakangnya, sambil minum segelas coklat panas.

Jika laki-laki sedang mengerjakan satu pekerjaan dikantornya,dia tidak mau diganggu dengan diajak mengobrol. Begitu ia mengobrol, pekerjaannya akan ditinggalkan. Bahkan saat menerima telpon, laki-laki cenderung mencari tempat sepi, bukan karena khawatir didengar pembicaraannya tapi karena tidak mau diganggu dengan suara-suara lain.

 

Terprogram untuk Berbeda

 Menyadari perbedaan program pada otak laki-laki dan perempuan ini dapat membantu untuk mengenali dan melepas ekspektasi-ekspektasi atau harapan-harapan yang tidak realisti terhadap pasangan untuk menjadi seperti diri kita dan untuk menerima bahwa laki-laki dan perempuan memang tidak akan pernah sama.

Betapa Maha Sempurnanya Allah yang telah menciptakan struktur otak yang berbeda antara laki-laki dan perempuan seakan laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi. Sehingga ketika mereka berpasangan akan lahirlah dari perpaduan sinergi positif  yang akan menjadikan mereka pasangan yang harmonis.

Bila pasangan suami istri tidak menemukan rumusan atau cara untuk menerima perbedaan untuk mencapai keseimbangan, sulit bagi keduanya untuk menjaga hubungan satu sama lain. Kasus-kasus perceraian yang terjadi di antara pasangan suami istri banyak disebabkan oleh ketidak mampuan mereka dalam menemukan cara untuk menerima perbedaan ini.

Perbedaan struktur otak ini adalah sesuatu yang alamiah, tidak perlu saling heran antara suami dan istri ketika berhadapan satu sama lain. Yang diperlukan di sini adalah memahami perbedaan itu kemudian saling menerima satu sama lain. Tidak saling menyalahkan, tidak saling menjelekkan atau saling menghakimi. Keduanya harus berusaha selalu mendekat kepada pasangan, jangan menjadi jauh karena perbedaan tersebutt.

Bila struktur dan bentuk otaknya saja sudah berbeda dari sananya, yang satu dominan zat abu-abu sedangkan yang lainnya dominan zat putih, mau diapakan lagi. Terima saja pasangan itu apa adanya. Untuk kelanggengan kehidupan berumah tangga.